Polsek Tanete Riattang Tangkap Tujuh Penjambret, Lima Diantaranya Masih Dibawah Umur

0
2

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Polsek Tanete Riattang, Polres Bone berhasil mengungkap kasus penjambretan yang beraksi sebanyak 14 tempat kejadian perkara (TKP) di wilayah kota Watampone dengan menangkap tujuh pelaku dilokasi yang berbeda

Kapolsek Tanete Riattang Kompol Andi Asdar, A.Md mengatakatan, tujuh tersangka aksi jambret tersebut yakni, A. Canra Maulana (19) warga Kelurahan Lonrae, Kecamatan Tanete Riattang Timur dan Kahar (23) warga jalan Celleng Kelurahan Cellu Kecamatan Tanete Riattang Timur, ditangkap di jalan Sungai Musi Watampone, sementara lima tersangka lainnya masih di bawah umur yakni AS (17), AS alias Alex (17), IS (14), RN alias Pendos (15) masing masing warga Kelurahan Lonrae dan NS (17) warga BTN Griya Bone Indah, ditangkap dari hasil pengembangan Cakra dan Kahar.

“Ini persis dengan kondisi yang saya temui ketika anak diinterogasi oleh polisi. Saat ada anak yang menjadi tersangka pelanggaran hukum, polisi langsung bertanya dengan hal yang memojokkan anak dan membuat anak makin merasa bersalah. Akibatnya anak tidak mau bercerita. Cobalah untuk menerima anak, tanyakan dulu bagaimana perasaannya. Jika anak merasa tidak nyaman, ajak dulu mereka bermain. Saat anak sudah nyaman, mereka akan bercerita dengan sendirinya” — Yudi

Andi Asdar mengatakan komplotan pelaku tersebut sudah melakukan aksi penjambretan 14 kali di kota Watampone.

Selain itu, polisi juga berhasil menyita sejumlah barang bukti dari tangan tersangka antara lain satu unit sepeda motor Yamaha Fino, satu unit motor Nex warna hijau, satu unit sepada motor Yamaha Shoul GT 125 warna hitam, satu unit sepeda motor Yamaha Vega warna hitam, satu unit Hp Oppo A71 warna rose gold, satu unit Oppo warna rose gold, satu unit Samsung Galaxy core warna putih dan satu unit hp merk Nokia. Rata rata korban jambret dari perempuan.

Dia mengatakan terungkapnya kasus jambret tersebut berawal dari korban Nurul Fatimah (15) warga jalam MT. Haryono Watampone, yang dijambret di depan terminal Petta Ponggawae Watampone pada taggal 11 Januari 2018 sekitar pukul 21.10 Wita.

“Setelah mendapatkan laporan, kami langsung melakukan olah TKP dan melakukan penyelidikan,” kata Kapolsek.

Alhasil, hanya berselang beberapa jam usai beraksi, Cakra dan Kahar dibekuk Tim Khusus Polsek Tanete Riattang yang dipimpin Aiptu Tahir. Selanjutnya aparat melakukan pengembangan dan mengamankan lima pelaku lainnya yang masih di bawah umur.

Kapolres Bone, Akbp Muhammad Kadarislam Kasim melalui Paur Humas Iptu Adenan mengatakan korban jambret ini rata rata perempuan yang merebut barang dan tas korbam secara paksa.

“Para pelaku ini kebanyakan korbannya perempuan. Pelaku dengan paksa merebut barang milik korban saat mengendarai sepeda motor sehingga mereka kebanyakan jatuh dan mengalami luka-luka ,” kata Adenan.

Pihaknya masih melakukan pengembangan dengan ditangkapkapnya tujuh pelaku tersebut, karena kemungkinan masih ada pelaku lainnya yang menjadi pasangan aksi jambret.

Atas perbuatan tersangka tersebut dapat dijerat dengan pasal 362 tentang Tindak Pidana Pencurian dengan kekerasan, ancaman hukuman maksimal hukuman lima tahun, katanya.

Aksi kejahatan pencurian yang dilakukan anak-anak, yakni anak yang usia di bawah umur memang kerap terjadi. Menurut Yudi Kurniawan, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Semarang bahwa secara psikologis, perilaku mencuri pada anak bisa disebabkan oleh banyak faktor.

Ia menyebutkan, ada anak yang mencuri karena terdesak pemenuhan kebutuhan fisiologis (untuk makan misalnya), ada juga pencurian karena ingin mendapatkan perhatian dari orang lain, atau pencurian karena ingin mendapatkan sensasi rasa puas. Pencurian jenis terakhir termasuk dalam kategori kleptomania.

“Oleh karena itu, orangtua ataupun pihak berwenang sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau konselor anak sebelum memberikan hukuman pada anak. Jika orangtua sembarangan memberikan hukuman, perilaku mencuri bisa jadi makin sering. Misalnya begini, ada orangtua yang mendapati anaknya mencuri uang. Karena marah, orangtua langsung memberikan hukuman pada anaknya. Bukannya berkurang, perilaku mencuri malah semakin menjadi-jadi,” papar Yudi Kurniawan, yang juga menjabat Sekretaris Ikatan Psikologi Klinis Jawa Tengah.

Ternyata motif mencuri si anak memang untuk mendapatkan perhatian orangtuanya, sehingga semakin diberikan hukuman, si anak semakin senang. Apa yang harus dilakukan agar anak tidak mencuri? Pertama, orangtua harus memberikan keteladanan. Terkesan klise, namun memang itulah cara terbaik. Orangtua yang baik akan menjadi guru sekaligus pahlawan pertama bagi anak.

Sebaliknya, jika orangtua bersikap buruk, maka mereka akan jadi racun pertama bagi anak-anaknya. Orangtua tidak boleh memiliki standar ganda dalam memberikan pujian atau hukuman. Standar ganda, terutama untuk perilaku yang keliru, akan membuat anak berpikir bahwa perilaku yang salah bisa mendapatkan toleransi.

Cara kedua adalah dengan memberikan perhatian yang cukup pada anak. Kebutuhan anak tidak hanya fisik semata, namun juga ada kebutuhan emosional yang kerap dilupakan orangtua. Kebutuhan emosional dapat berupa pujian, sentuhan, pelukan, mendengarkan ketika anak bercerita, atau menemani anak bermain. Biasanya, efek dari kurangnya pemenuhan kebutuhan emosional tidak langsung terlihat.

Jika orangtua terus mengabaikan kebutuhan emosional anak, akibatnya baru terasa dalam waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun. Dampaknya bisa beragam. Bisa jadi anak terus melawan keinginan orangtua, anak membuat onar di sekolah dan di rumah, atau melakukan tindakan melawan hukum (seperti mencuri, atau menggunakan obat-obatan terlarang). Semua perilaku tersebut berhulu pada kurangnya kasih sayang dan perhatian orangtua terhadap anak.

Lalu apa yang harus dilakukan orangtua jika anak sudah terlanjur mencuri (atau perbuatan melanggar hukum lainnya)? Meskipun sulit, orangtua harus tetap bersikap wajar pada anak. Semakin orangtua marah, anak makin tidak mau terbuka.

“Ini persis dengan kondisi yang saya temui ketika anak diinterogasi oleh polisi. Saat ada anak yang menjadi tersangka pelanggaran hukum, polisi langsung bertanya dengan hal yang memojokkan anak dan membuat anak makin merasa bersalah. Akibatnya anak tidak mau bercerita. Cobalah untuk menerima anak, tanyakan dulu bagaimana perasaannya. Jika anak merasa tidak nyaman, ajak dulu mereka bermain. Saat anak sudah nyaman, mereka akan bercerita dengan sendirinya,” jelas Yudi lagi.

Jika anak sudah mengakui kesalahannya, cobalah untuk memeluk mereka dan sampaikan bahwa perilaku tersebut keliru. Ingat bahwa perilaku mencuri pada anak adalah akibat, sehingga sebabnya kemungkinan besar berasal dari sikap orangtua yang keliru. Jika perilaku mencuri dilakukan berulang kali dan dalam jangka waktu berdekatan, sebaiknya orangtua berkonsultasi dengan psikolog untuk mendiskusikan penanganan psikologis yang tepat.

Penulis : Harmeno

Editor : Alfian

Sumber: http://tribratanews.polri.go.id/?p=339473