Keterlibatan Perempuan dalam Inklusi Keuangan Dapat Meningkatkan Kontribusi Ekonomi Secara Luas

0
1

Hampir setengah dari total perempuan di Indonesia masih berada di luar sektor keuangan formal. Namun, eksklusi keuangan yang terjadi selama ini belum menyadarkan perempuan di Indonesia terhadap potensi ekonomi yang mampu meningkatkan kehidupan mereka. Bahkan lebih daripada itu, inklusi keuangan dapat berkontribusi pada ekonomi yang lebih luas.

Hal ini mengemuka dalam Diskusi Terbatas bertajuk “Membuka Peluang Sektor Keuangan untuk Wanita” yang diselenggarakan di Gedung Ali Wardhana, Jakarta (7/5).

“Maka dari itu penyedia jasa keuangan di Indonesia harus mengembangkan rekening tabungan yang memiliki kenyamanan, keandalan, kerahasiaan, dan keamanan bagi perempuan. Lebih baik lagi jika desain produk yang disediakan menempatkan perempuan dalam pikirannya” — Anna

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melalui kerjasama antara Sekretariat Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) dengan Women’s World Banking berupaya mendorong semua pemangku kepentingan dalam industri jasa keuangan untuk membuka peluang sektor keuangan bagi perempuan, dimulai melalui rekening tabungan.

Menurut Women’s World Banking, sebagai konsumen, perempuan adalah pelanggan yang setia. Sedangkan sebagai pelaku bisnis, perempuan lebih dapat diandalkan. Hal ini seringkali ditemukan dalam usaha bisnis perempuan di bidang bisnis retail, khususnya usaha bisnis daring (dalam jaringan).

Temuan dari salah satu toko daring di Indonesia menunjukkan dominasi perempuan dalam perbelanjaan daring, dimana proporsi pembeli perempuan sebesar 66,28% dan penjual perempuan sebesar 55,75%.

“Negara bisa memanfaatkan potensi pasar tersebut dengan memberikan akses perempuan ke produk keuangan, salah satunya dengan rekening tabungan di layanan keuangan formal,” ungkap Asisten Deputi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, A. Heri Susanto.

Upaya mendorong akses perempuan Indonesia kepada sektor keuangan formal membutuhkan kerjasama dan kolaborasi dari pemerintah, penyedia layanan keuangan, seluruh ekosistem keuangan, termasuk pelaku pendukung lainnya seperti agen pembangunan, organisasi nirlaba dan tentunya peran aktif dari perempuan itu sendiri.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memahami kehidupan keuangan, kebutuhan, dan hambatan perempuan dalam mengakses keuangan.

“Penelitian telah menjadi dasar dari pekerjaan kami mengembangkan solusi keuangan bagi perempuan berpenghasilan rendah selama 40 tahun terakhir. Dengan memahami kehidupan perempuan dalam konteks pasar yang lebih luas, kami dapat mengidentifikasi dan merancang produk serta layanan yang mampu memenuhi kebutuhannya,” kata Wakil Presiden Kemitraan Strategis dan Pengembangan Bisnis Women’s World Banking, Anna Gincherman.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan selama ini, Women’s World Banking menyimpulkan bahwa rekening tabungan menjadi pintu gerbang menuju inklusi keuangan bagi perempuan. 

“Berkali-kali kami menemukan kenyataan bahwa perempuan di seluruh dunia biasanya adalah manajer keuangan rumah tangga dan mereka adalah penabung dalam keluarga,” tegas Anna. 

Hal ini juga berlaku di Indonesia, dimana sebagian besar perempuan di Indonesia memiliki rekening tabungan di bank. Data Global Findex menyebutkan inklusi keuangan perempuan di Indonesia mengalami peningkatan dari yang sebelumnya hanya 37,5% di tahun 2014 lalu meningkat tajam menjadi 51% di tahun 2017. Kendati demikian, masih ada sekitar 22% perempuan di Indonesia yang menabung secara informal.

Ada beberapa hambatan yang dihadapi perempuan Indonesia dalam mendukung keuangan inklusi melalui rekening tabungan. Diantaranya hambatan budaya dan kelembagaan, tingkat melek huruf dan pendidikan tingkat yang rendah, peraturan perundang-undang dan praktik yang masih diskriminatif, kendala waktu dan faktor-faktor lain.

“Maka dari itu penyedia jasa keuangan di Indonesia harus mengembangkan rekening tabungan yang memiliki kenyamanan, keandalan, kerahasiaan, dan keamanan bagi perempuan. Lebih baik lagi jika desain produk yang disediakan menempatkan perempuan dalam pikirannya,” kata Anna.

Di akhir acara, pemerintah menyatakan keseriusannya untuk terus menjadikan perempuan sebagai salah satu target prioritas dalam Strategi Nasional Keuangan Iinklusif dan mengharapkan partisipasi aktif dari seluruh pihak yang terkait. (ekon).

Sumber: https://ekon.go.id/berita/view/keterlibatan-perempuan-dalam.3993.html