News : Lakukan Kunjungan Kerja, Menpar Arief akan Pastikan Program Lombok Bangkit Berjalan

0
1

Lakukan Kunjungan Kerja, Menpar Arief akan Pastikan Program Lombok Bangkit Berjalan

“Potensial kehilangan wisatawan asing sekitar 100.000 orang. Dihitung melalui perbandingan antara jumlah wisman Bali dan Lombok 5:1, serta perbandingan masa bencana di Bali lebih lama dari Lombok 2:1. Jika di Bali pada 2017 berdampak 1 juta kunjungan wisman, maka gempa bumi Lombok berdampak 10% sebesar 100.000 orang. Dampak Ekonomi yang terjadi sebesar USD 100 juta dengan asumsi 1 wisatawan asing mengeluarkan USD 1000 per kunjungan” — Menpar Arief Yahya

JAKARTA – Penanganan bencana gempa di Lombok Nusa Tenggara Barat, terus dipantau Kementerian Pariwisata. Menteri Pariwisata Arief Yahya bahkan akan terjun langsung untuk memastikan program recovery Lombok Bangkit berjalan sesuai rencana. Menpar juga berencana mengunjungi sejumlah Gili untuk memastikan pariwisata tetap aman.

Presiden Joko Widodo sendiri telah menerbitkan Inpres No. 5 Tahun 2018 tentang Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Gempa Bumi di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Kota Mataram, dan Wilayah Terdampak di Provinsi NTB lainnya.

Menyikapi Inpres itu, menyusun program Lombok Bangkit. Tujuannya, agar recovery berjalan cepat dan tepat sasaran.

“Kemenpar telah menyusun program Lombok Bangkit yang merupakan strategi pemulihan destinasi wisata terdampak dan promosi pariwisata tidak terdampak pasca-gempa Lombok,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya, Kamis (30/8).

Menpar Arief sendiri telah menerbitkan Surat Keputusan Menteri Pariwisata tentang Tim Kerja Pemulihan Destinasi dan Promosi Pariwisata Pasca Gempa Lombok. Termasuk dukungan program dan anggaran Kemenpar untuk mengakomodir dan mendukung usulan program Lombok Bangkit dari Pemda NTB dan industri Pariwisata Lombok.

“Diharapkan dapat memacu semangat Pemda NTB dan industri pariwisata Lombok. Serta mempercepat program recovery destinasi pariwisata terdampak dan promosi pariwisata tidak terdampak di Lombok,” ujarnya.

Kemenpar sendiri telah melakukan standart Mitigasi Bencana. Mulai dari Tahapan Tanggap Darurat, Tahapan Rehabilitasi dan Tahapan Normalisasi. Untuk tahapan tanggap bencana, Kemenpar telah melakukan Aktivasi Tim Crisis Center.

Tim ini dipimpin Kepala Biro Komunikasi Publik Guntur Sakti. Selain itu, Kemenpar juga melakukan koordinasi dengan tim tanggap darurat, memberikan layanan informasi dan layanan wisatawan, Menunda Promosi, destinasi terdampak. Mengembalikan kepercayaan Industri pariwisata dan melakukan upaya recovery.

Ditahapan rehabilitasi, Kemenpar melakukan Identifikasi dampak pariwisata, mendorong penyelenggaraan event pariwisata dan aktivitas seni budaya. Melakukan publikasi/promosi pariwisata destinasi yang tidak terdampak. Di tahapan Recovery, nantinya akan dilakukan penghitungan dampak krisis. Menyelenggarakan event internasional dan nasional serta Publikasi dan Promosi Pariwisata.

“Potensial kehilangan wisatawan asing sekitar 100.000 orang. Dihitung melalui perbandingan antara jumlah wisman Bali dan Lombok 5:1, serta perbandingan masa bencana di Bali lebih lama dari Lombok 2:1. Jika di Bali pada 2017 berdampak 1 juta kunjungan wisman, maka gempa bumi Lombok berdampak 10% sebesar 100.000 orang. Dampak Ekonomi yang terjadi sebesar USD 100 juta dengan asumsi 1 wisatawan asing mengeluarkan USD 1000 per kunjungan,” ujar Menpar Arief Yahya.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat, Lalu Faozal, mengucap terima kasih atas kepedulian Kementerian Pariwisata.

“Karena dengan kehadiran Menteri, membuat pariwisata optimis bangkit. Pak Menteri adalah endorser bagi kami, dan bagi pariwisata Indonesia,” paparnya. (*)

Sumber: http://www.kemenpar.go.id/asp/detil.asp?c=16&id=4509