BPPT Usulkan Teknologi untuk Wujudkan Citarum Harum

0
1

Pemerintah terus berupaya mewujudkan keberhasilan program Citarum Harum. Salah satu komitmen tegas dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 15/2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

 

“Kami BPPT mengusulkan langkah teknologi, diantaranya penerapan Instalasi Pengolah Air Limbah atau IPAL yang mumpuni, serta teknologi online monitoring air atau Onlimo. Dituturkan Hammam penerapan teknologi IPAL dan Onlimo menjadi penting mengingat Daerah Aliran Sungai Citarum sudah tersedimentasi yang salah satu penyebabnya adalah buangan air limbah dari industri dan domestik. Ditambahkan olehnya, penerapan teknologi IPAL menjadi sangat penting, karena menurut data KLHK baru 10% dari 1900 industri yang memiliki IPAL yang mumpuni di aliran Sungai Citarum. IPAL, yaitu sistem pengolahan air limbah yg bisa menghasilkan kualitas air buangan menjadi layak dibuang ke lingkungan bahkan bisa digunakan kembali daur ulang. IPAL ini dirancang khusus untuk negara berkembang. Artinya, sistem pengoperasiannya dibuat mudah, sederhana, dan bisa dipakai oleh siapa pun” — Hammam

Dalam UU no. 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, disebutkan bahwa semua usaha yg menghasilkan air limbah wajib melakukan pengolahan air limbahnya sampai memenuhi ambang batas untuk bisa dibuang ke sungai. Namun dalam pelaksanaanya, belum semua mematuhinya.

 

 

Menindaklanjuti hal tersebut BPPT, diungkap Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT, Hammam Riza memberi rekomendasi teknologi, untuk mendukung program Citarum Harum. Salah satu sumber pencemaran DAS Citarum adalah buangan air limbah dari domestik dan Industri.

 

“Kami BPPT mengusulkan langkah teknologi, diantaranya penerapan Instalasi Pengolah Air Limbah atau IPAL yang mumpuni, serta teknologi online monitoring air atau Onlimo.

 

Dituturkan Hammam penerapan teknologi  IPAL  dan Onlimo menjadi penting mengingat Daerah Aliran Sungai Citarum sudah tersedimentasi yang salah satu penyebabnya adalah buangan air limbah dari industri dan domestik. Ditambahkan olehnya, penerapan teknologi IPAL menjadi sangat penting, karena menurut data KLHK baru 10% dari 1900 industri yang memiliki IPAL yang  mumpuni di aliran Sungai Citarum.

 

IPAL, yaitu sistem pengolahan air limbah yg bisa menghasilkan kualitas air buangan menjadi layak dibuang ke lingkungan bahkan bisa digunakan kembali (daur ulang). IPAL ini dirancang khusus untuk negara berkembang. Artinya, sistem pengoperasiannya dibuat mudah, sederhana, dan bisa dipakai oleh siapa pun,” kata Hammam, di Kantor BPPT, Jakarta, Kamis (06/12/2018).

 

IPAL sebutnya merupakan teknik pengolahan air limbah domestik dengan menggunakan biofilter anaerob-aerob. Dan bisa dipakai di industri, perkantoran, pemukiman, dan lainnya.

 

“Air limbah yang diolah oleh IPAL berasal dari sumber limbah industri dan domestik kawasan sungai Citarum. Sistem pengolahannya kita mengumpulkan air limbah tersebut, kedalam bak penampung, lalu dialirkan ke IPAL. Untuk mendukung program Citarum harum ini perlu banyak penerapan sistem IPAL yang mumpuni khususnya dengan biofiter  anaerob-aerob,” jelasnya.

 

Selain IPAL urainya, ada teknologi onlimo yakni online monitoring secara real time terhadap daerah aliran sungai. Onlimo ini berupa sensor kualitas air, jadi industri atau perusahaan yang membuang limbahnya ke sungai wajib memasang sensor kualitas air sebagaimana diatur dalam permen LHK no P 93 th 2018.

 

“Untuk program Citarum Harum,  semestinya semua perusahaan yang membuang limbahnya ke sungai wajib pasang sensor kualitas air. Dengan demikian kita bisa pantau secara online,” kata Hammam.

 

Sensor tersebut, ia mengatakan, diletakkan di saluran pengeluaran limbah perusahaan, dan setelahnya akan disegel. Selanjutnya akan ada pihak yang ditetapkan pihak yang melakukan kalibrasi dari sensor tersebut.

 

Semua sensor tersebut dapat dihubungkan secara online ke website pihak yang melakukan monitoring, sehingga informasi kualitas air limbah yang dibuang perusahaan ke sungai dapat diketahui secara transparan.

 

“Manfaat sistem Onlimo ini sangat signifikan, karena monitoring dapat dilakukan secara realtime. Semoga usulan BPPT ini dapat diterapkan menjadi solusi, tentunya dengan sinergi berbagai pihak,”pungkasnya. (Humas/HMP)

 

Sumber: https://www.bppt.go.id/teknologi-sumberdaya-alam-dan-kebencanaan/3385-bppt-usulkan-teknologi-untuk-wujudkan-citarum-harum