Teka-teki investor di balik pembangunan Bandar Antariksa

0
0

Rusia pernah tertarik membangun bandar antariksa di Pulau Biak. Mereka mengkaji rencana itu pada 2010.PEMBANGUNAN bandar antariksa atau peluncuran satelit di Biak, sebenarnya merupakan agenda lama. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) telah mengaungkan rencana itu sejak awal era 1990.Lapan melirik letak geografis wilayah Biak yang strategis karena berhadapan dengan Samudera Pasifik. Rencana pembangunan bandara antariksa itu pernah mereka tawarkan kepada sejumlah investor asing.E Prime tercatat sebagai investor pertama yang menyatakan minatnya terhadap pembangunan proyek prestisius tersebut. E Prime merupakan perusahan jasa peroketan dan keantariksaan dari Amerika Serikat.Pihak E Prime mencermati cerahnya prospek bisnis mereka dengan dibangunnya Bandar Antariksa Biak. Akan tetapi, mereka masih perlu mempelajari peluang pasarnya, terutama di kawasan Asia dan Pasifik (Suara Pembaruan, 3 Januari 1990).;Belakangan, rencana investasi itu batal. E Prime malah mengalihkan invetasi mereka ke Rusia. Pengalihan investasi tersebut terjadi semasa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.Para periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo, rencana tersebut digulirkan lagi. Lapan kembali menjajaki peluang kerja sama dengan sejumlah pemerintahan atau pihak swasta di luar negeri dalam pembangunan Bandar Antariksa Biak.”Sangat mungkin (bekerja sama) dengan pihak internasional. Ini sedang diupayakan bukan untuk bandar antariksa kecil, melainkan bandar antariksa internasional,” kata Ketua Lapan Thomas Djamaluddin kepada Antara, melalui telepon, Kamis (7/11/2019).Lokasi idealPenetapan lokasi pembangunan bandar antariksa harus memenuhi, setidaknya tiga persyaratan utama. Salah satunya ialah daerah yang menjadi lokasi bandar antariksa harus jauh dari permukiman warga atau sepi penduduk. Daerah tersebut juga harus berada di lintasan khatulistiwa, dan di dekat laut.Persyaratan utama itu berhubungan dengan aspek keselamatan penduduk maupun aktivitas keantariksaan. Peluncuran roket merupakan aktivitas berisiko tinggi. Roket bisa saja gagal meluncur atau meledak sebelum peluncuran maupun setelah beberapa detik mengangkasa. Itu sebabnya bandar antariksa harus berlokasi wilayah yang steril dari permukiman dan aktivitas penduduk.Bandar antariksa atau lokasi peluncuran roket juga harus dekat dengan laut. Sebuah roket yang telah habis bahan bakarnya harus dilepas dari badan pesawat antariksa sehingga akan jatuh ke bumi. Lokasi penjatuhan yang dianggap paling aman ialah wilayah laut yang sepi dari aktivitas pelayaran atau lalu lintas perairan (Rusia Incar Biak, Moch S Hendrowijono, Kompas edisi 19 Desember 2005).Semua persyaratan tersebut dipenuhi atau cocok dengan kondisi Biak. Pulau di Kabupaten Biak Numfor, Papua tersebut juga berada di antara kawasan Asia dan Pasifik, yang dibidik sebagai calon pelanggan bandar antariksa.Bandar Antariksa Biak rencananya dibangun di Desa Soukobye. Lapan sebagai pihak yang mempunyai hajat, belum menghitung seberapa besar pendanaan yang dibutuhkan untuk megaproyek tersebut.Thomas menyebut pendanaannya kemungkinan juga akan diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Kemitraan Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). “Kami juga berharap ada mitra-mitra internasional bersedia berinvestasi untuk (membangun) bandar antariksa tersebut.”Membidik calon investorLapan telah menghubungi bebeberapa mitra internasional mereka di pemerintahan maupun swasta. Calon investor tersebut berasal dari Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, India, dan Rusia.Menurut Thomas, semua calon investor menyampaikan ketertarikan mereka untuk bekerja sama, tetapi ada beberapa hal lebih rinci yang masih harus didiskusikan. “Semuanya punya peluang. Sekarang tinggal menjajaki mana yang nanti dapat mewujudkan (kerja sama) itu.”Thomas mengungkapkan Lapan telah melakukan beberapa kali pembicaraan dengan pihak Tiongkok. Negara tersebut pada prinsipnya berminat dan membuka peluang untuk berbisnis jasa peluncuran roket di Indonesia.”Tinggal pihak kita (Pemerintah Indonesia) menyiapkan regulasinya. Saat ini sedang disiapkan peraturan pemerintah, turunan dari Undang-Undang Keantariksaan untuk pedoman pembangunan dan pengoperasian bandar antariksa,” ujar Thomas.Dia mengatakan peluang bisnis keantariksaan sangat menjanjikan di masa mendatang. Produksi satelit semakin meningkat di dunia, sedangkan bandar antariksa untuk peluncuran roket satelit sangat terbatas.”Bandar Antariksa Biak membuka kesempatan bagi Indonesia untuk menjadi penyedia jasa peluncuran roket satelit, apalagi posisinya di ekuator (garis khatulistiwa). (Bandar antariksa di ekuator) hanya ada di Amerika Selatan, miliknya Prancis dan Brazil. Harapannya, di Asia-Pasifik ada satu, di Biak itu,”Pesawat antariksa di BiakIndonesia memang belum memiliki bandar antariksa. Akan tetapi, armada antariksa pernah mendarati negara ini. Itu terjadi, dan disaksikan langsung Jurnalis Jubi pada 5 Desember 2017.Sebanyak empat pesawat antariksa milik Rusia mendarat di Bandara Internasional Frans Kaisiepo di Kota Biak. Mereka mengangkut sebanyak 110 personel.Empat pesawat tersebut terdiri atas dua pesawat angkut jenis Ilyushin-76/78813, dan Ilyushin -76/78810, serta dua Bomber Tupolev TU-95 MS. Bomber Tupolev TU-95 MS merupakan jenis pesawat pengebom strategis dan bermesinkan turboprop empat. Pesawat tersebut memiliki panjang 46,2 meter, dengan rentang sayap selebar 50,10 meter.Mereka, saat itu tengah melaksanakan misi Navigasi Exercises atau latihan penentuan kedudukan (position) dan arah perjalanan. Arah di medan nyata maupun berupa titik koordinat di peta. Misi tersebut juga memetakan potensi wisata alam Indonesia, khususnya di Pulau Biak.Sekitar tujuh tahun sebelum misi mereka, Rusia sempat memberi sinyal ketertarikan terhadap rencana pembangunan bandar antariksa di Pulau Biak. Melalui Airlunch Aerospace Corporation, Rusia mengkaji rencana itu pada 2010.Kajian yang menghabiskan sekitar 31 juta hingga 40 juta Dolar Amerika Serikat tersebut menyimpulkan kebutuhan investasi untuk peluncuran satelit Rusia di Biak. Mereka memperkirakan nilainya mencapai 200 juta hingga 250 juta dolar Amerika Serikat.”Biak paling dekat dengan ekuator, sekitar satu derajat lintang selatan. Kemudian, Biak langsung menghadap ke Samudera Pasifik sehingga saat peluncuran, roket secara bertahap jatuh di wilayah lautan. Infrastruktur Biak juga mumpuni,” kata Thomas sebagaimana dilansir CNNIndonesia.com.Pembangunan bandar antariksa diamanatkan dalam Undang Undang Keantariksaan Nomor 21/2013. Amanat itu juga termaktub pada Peraturan Presiden Nomor 45/2017 tentang Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan 2016-2040.Lapan menargetkan pembangunan Bandar Antariksa Biak dimulai pada tahun depan sehingga dapat dioperasikan sebelum 2024. Namun, mereka enggan membocorkan nilai investasi pembangunan fasilitas untuk peluncuran roket berskala kecil tersebut. (*) Editor: Aries MunandarSumber: https://www.jubi.co.id/teka-teki-investor-di-balik-pembangunan-bandar-antariksa/

Biak paling dekat dengan ekuator, sekitar satu derajat lintang selatan. Kemudian, Biak langsung menghadap ke Samudera Pasifik sehingga saat peluncuran, roket secara bertahap jatuh di wilayah lautan. Infrastruktur Biak juga mumpuni

Sumber: https://lapan.go.id/index.php/subblog/read/2019/6628/Teka-teki-investor-di-balik-pembangunan-Bandar-Antariksa