4 Raksasa Mantan Juara Dunia Berebut Tiket Puncak Piala Dunia 2026, Potensi Ulangi Final 2022?

Dari kiri: Kylian Mbappe dari Prancis, Lamine Yamal dari Spanyol, Harry Kane dari Inggris, Lautaro Martinez dari Argentina, saat berlaga di babak 8 Besar Piala Dunia 2026 yang memastikan kelolosan negaranya masing-masing ke fase Semifinal. (Foto: tangkapan layar)

MAKLUMAT — Piala Dunia 2026 memasuki fase paling menentukan. Empat negara dengan sejarah, filosofi, dan karakter permainan yang berbeda berhasil mengamankan tempat di semifinal. Prancis akan menghadapi Spanyol dalam duel dua kekuatan Eropa yang tengah berada di puncak regenerasi, sementara Inggris ditantang Argentina dalam laga sarat gengsi yang mempertemukan generasi baru melawan juara bertahan.

Menariknya, keempat tim ini datang ke semifinal dengan narasi yang sangat berbeda. Ada Prancis yang semakin mengukuhkan diri sebagai pusat baru sepak bola dunia, Spanyol yang memadukan tradisi dan generasi emas baru, Inggris yang perlahan menemukan jati diri, serta Argentina bersama kebesaran dan magis Lionel Messi.

Seperti diketahui, Argentina merupakan pemilik tiga gelar Piala Dunia sekaligus juara bertahan Piala Dunia 2022 dan runner-up edisi 2014, sebelumnya Albiceleste meraih juara pada 1978 dan 1986. Prancis merupakan pemilik dua gelar yang diraih pada edisi 1998 dan 2018, serta runner-up edisi 2006 dan 2022. Sedangkan Inggris dan Spanyol masing-masing memiliki satu gelar Piala Dunia, di mana Inggris meraihnya sekitar 60 tahun silam (edisi 1966 sebagai tuan rumah), sementara Spanyol merupakan juara dunia 2010.

Laga Prancis kontra Spanyol bakal dilangsungkan lebih dahulu pada Rabu (15/7/2026) pukul 02.00 dini hari WIB mendatang. Sedangkan partai panas sarat sejarah rivalitas antara Inggris melawan Argentina akan dilaksanakan pada Kamis (16/7/2026) pukul 02.00 dini hari WIB mendatang.

Prancis Kontra Spanyol

Prancis datang ke semifinal sebagai tim yang mungkin paling lengkap di turnamen ini. Les Bleus bukan hanya juara dunia 2018 dan runner-up 2022, tetapi kini juga memastikan diri menjadi semifinalis dalam tiga edisi Piala Dunia secara beruntun. Konsistensi semacam ini jarang terjadi dalam sepak bola modern.

Baca Juga  Pengakuan Palestina Tak Bermakna Jika Genosida Berlanjut, Amnesty International: Inggris Harus Hentikan Ekspor Senjata ke Israel

Kekuatan utama Prancis terletak pada kedalaman skuad, khususnya di lini depan. Didier Deschamps memiliki kemewahan yang nyaris tak dimiliki pelatih lain. Kylian Mbappé masih menjadi pusat permainan dengan kecepatan dan naluri golnya yang luar biasa. Namun, ancaman Prancis tidak berhenti pada kapten mereka.

Ousmane Dembélé menjalani salah satu musim terbaik dalam kariernya, Bradley Barcola menawarkan kecepatan dari sisi lapangan, Désiré Doué membawa kreativitas khas generasi muda Prancis, sementara Rayan Cherki memberikan dimensi baru melalui kemampuan teknis dan visi bermainnya. Dengan komposisi seperti itu, Prancis memiliki variasi serangan yang sulit diprediksi.

Di atas kertas, Les Bleus memang lebih diunggulkan dibanding Spanyol. Namun, Spanyol justru memiliki kekuatan pada kolektivitas dan kestabilan permainan. Sebagian besar pemain inti mereka merupakan tulang punggung tim yang menjuarai Euro 2024. Generasi yang dipimpin peraih Ballon d’Or 2024, Rodri, hingga bintang-bintang muda baru seperti Lamine Yamal dan Pedri, kini semakin matang.

Meski demikian, perjalanan Spanyol di Piala Dunia 2026 tidak sepenuhnya mulus. Mereka sempat memunculkan tanda tanya setelah hanya bermain imbang melawan debutan Tanjung Verde pada laga pembuka fase grup. Hasil tersebut memunculkan keraguan bahwa La Furia Roja terlalu bergantung pada penguasaan bola dan belum cukup efektif menghadapi tim yang bermain disiplin.

Namun, seiring berjalannya turnamen, Spanyol mampu membuktikan kualitasnya. Mereka perlahan menemukan ritme permainan dan menunjukkan kembali identitas sepak bola berbasis penguasaan bola yang telah menjadi ciri khas selama lebih dari satu dekade.

Inggris Lawan Argentina

Jika duel Prancis melawan Spanyol mempertemukan dua filosofi sepak bola modern, laga Inggris kontra Argentina menghadirkan benturan sejarah rivalitas lama, serta mempertemukan para generasi baru The Three Lions dan mental serta pengalaman juara Albiceleste yang sudah teruji.

Baca Juga  Kritik Prabowo Dicap Anak Abah, Kritik Argentina Dicap Fans Ronaldo: Ini Penjelasan Sosiolog

Inggris kembali membuktikan bahwa mereka bukan sekadar kumpulan pemain mahal. Status runner-up Euro 2024 kini dibuktikan dengan pencapaian semifinal Piala Dunia. Skuad asuhan Thomas Tuchel memang relatif muda, tetapi sudah memiliki jam terbang tinggi di level internasional.

Jude Bellingham menjadi poros permainan di lini tengah. Gelandang yang disebut-sebut sebagai salah satu pemain terbaik di generasinya itu mampu menghubungkan pertahanan dan serangan sekaligus menjadi motor permainan Inggris. Di depan, Harry Kane tetap menjadi tumpuan utama dalam urusan mencetak gol dan memimpin ruang ganti.

Kemenangan atas Norwegia di perempat final menunjukkan kematangan mental Inggris. Tim yang dipimpin Martin Ødegaard dan Erling Haaland sempat menjadi kejutan terbesar turnamen setelah menyingkirkan Brasil, tetapi Inggris berhasil mengatasi tekanan dan menutup langkah mereka.

Meski demikian, lawan yang menunggu di semifinal jauh lebih berpengalaman. Argentina datang sebagai juara bertahan Piala Dunia 2022 dan juara Copa America 2024. Lionel Messi memang tidak lagi berada pada puncak performa fisiknya, tetapi pengaruhnya terhadap permainan Albiceleste masih sangat besar.

Perjalanan Argentina menuju semifinal menghadirkan semacam paradoks yang menarik. Di fase grup, Lionel Messi cs tampil sangat nyaman dan nyaris tanpa hambatan, menyapu bersih tiga laga dengan kemenangan. Namun, memasuki babak gugur, setiap pertandingan berubah menjadi drama yang menguras energi.

Di babak 32 besar, Argentina membutuhkan extra-time untuk mengalahkan tim debutan Tanjung Verde yang mengejutkan dengan skor 3-2. Pada babak 16 besar, mereka nyaris tersingkir sebelum menciptakan comeback dramatis dalam 15 menit terakhir melawan Mesir. Di 8 Besar, Swiss kembali memaksa Albiceleste bermain hingga extra-time sebelum akhirnya menyerah 1-3.

Baca Juga  Prabowo Temui Macron di Paris, Bahas Dunia Memanas

Rangkaian pertandingan tersebut memperlihatkan dua sisi Argentina sekaligus. Di satu sisi, mereka menunjukkan mental juara dan kemampuan bertahan dalam tekanan. Namun, di sisi lain, performa pada fase knockout yang cukup alot dapat menjadi alarm menjelang laga melawan Inggris yang memiliki energi dan intensitas permainan lebih tinggi.

Potensi Final Ideal Ulangi Edisi 2022?

Dari seluruh kemungkinan yang ada, final Prancis melawan Argentina tampaknya masih menjadi skenario yang paling menarik. Laga itu akan menjadi ulangan final Piala Dunia 2022 sekaligus simbol persaingan dua negara yang dalam satu dekade terakhir mendominasi sepak bola internasional.

Prancis menawarkan regenerasi yang nyaris sempurna, sementara Argentina menghadirkan kombinasi pengalaman, mental juara, dan sentuhan terakhir dari era kejayaan Lionel Messi.

Namun, menyingkirkan Spanyol dan Inggris dari persaingan jelas merupakan kesalahan besar. Spanyol memiliki potensi untuk mengulang kejayaan generasi emas mereka medio 2008-2012 ketika back-to-back juara Euro 2008 dan 2012 serta menjuarai Piala Dunia 2010. Sedangkan Inggris tampak semakin matang setelah bertahun-tahun gagal memenuhi ekspektasi.

Piala Dunia 2026 pada akhirnya menghadirkan partai semifinal tanpa tim kejutan. Tidak ada kuda hitam, tidak ada cerita dongeng. Yang tersisa hanyalah empat raksasa sepak bola dengan sejarah dan ambisi masing-masing.

Dalam situasi seperti ini, detail kecil akan menentukan segalanya. Sebuah momen magis Mbappé, umpan brilian Pedri, kepemimpinan Bellingham, atau sentuhan terakhir Messi bisa menjadi pembeda yang menentukan siapa yang akan berdiri di final dan siapa yang harus angkat koper.