Perempuan kerap menghadapi pandangan miring ketika menempuh pendidikan tinggi atau berkarier di ruang publik. Padahal, Islam sejak masa Rasulullah SAW telah memberi ruang luas bagi kaum perempuan untuk berilmu, berkontribusi, dan bekerja sesuai kapasitasnya.
Allah menegaskan dalam QS Al-Mujadilah ayat 11 bahwa orang-orang beriman dan berilmu akan ditinggikan derajatnya. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa ilmu yang bermanfaat akan terus menjadi amal jariyah meski seseorang telah wafat. Dengan dasar ini, jelas bahwa Islam mendorong laki-laki maupun perempuan untuk menggali potensi dan bekerja demi kebaikan.
Sejarah mencatat, pada masa Rasulullah SAW lahir banyak tokoh perempuan yang tak hanya dikenal karena kesalehannya, tetapi juga kiprahnya di bidang keilmuan, sosial, dan kemanusiaan. Melansir dari laman Hijup, sejumlah tokoh Perempuan tersebut di antaranya Adalah:
Aisyah RA
Istri Rasulullah SAW ini digelari Ummul Mukminin. Aisyah dikenal sebagai sosok cerdas dengan penguasaan tiga bidang ilmu sekaligus: fikih, kedokteran, dan sastra. Banyak sahabat belajar langsung darinya, menjadikannya salah satu rujukan utama dalam hadis dan hukum Islam.
Al Shifa binti Abdullah
Nama aslinya Layla, namun lebih dikenal dengan gelar Al Shifa yang berarti penyembuhan. Ia menguasai administrasi publik dan ilmu kedokteran. Rasulullah SAW bahkan mempercayainya untuk mendidik sebagian perempuan di Madinah.
Fatimah binti Muhammad SAW
Putri Rasulullah SAW ini dikenal dengan kelembutan, keteguhan, dan kepeduliannya pada keluarga. Ia mewarisi semangat ibunya, Khadijah, dalam mendampingi perjuangan Nabi. Sejarah juga mencatat kiprahnya dalam pendidikan dan dakwah
Fathimah binti al-Hasan
Seorang ulama hadis perempuan pada abad ke-5 dan ke-6 Hijriah. Ia dikenal luas karena keahliannya dalam ilmu hadis, kaligrafi, serta ketelitian dalam menjaga rantai periwayatan.
Nusayba binti Ka’ab al-Mazniyah
Perempuan pejuang yang turun langsung pada Perang Uhud. Ia memberikan layanan medis bagi tentara yang terluka, bahkan ikut melindungi Rasulullah SAW dalam pertempuran.
Zainab binti Ali
Putri dari Fatimah dan Ali bin Abi Thalib ini dikenal dengan kecerdasannya dalam logika dan ilmu bahasa. Setelah tragedi Karbala, Zainab tampil sebagai orator ulung yang menyuarakan kebenaran di hadapan penguasa.
Kisah keenam perempuan tersebut menunjukkan bahwa Islam sejak awal memberi kesempatan setara bagi perempuan untuk belajar dan berkarier. Selama diniatkan untuk kebaikan, setiap langkah perempuan dalam menuntut ilmu dan berkarya menjadi bagian dari ibadah dan ladang amal jariyah***