Ekonom UMY Soroti Tantangan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2025 di Tengah Tekanan Global

Ekonom UMY Soroti Tantangan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2025 di Tengah Tekanan Global

MAKLUMAT – Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Susilo Nur Aji Cokro Darsono, S.E., MRDM., Ph.D., memperkirakan ekonomi Indonesia tahun ini tetap stabil. Pertumbuhan ekonomi tetap di kisaran 5 persen, namun dengan sejumlah catatan.

Menurutnya, ekonomi Indonesia tetap mendapatkan tantangan pelambatan, yang sejalan dengan kajian Bright Institute. Di mana ekonomi domestik berisiko kehilangan daya dorong di tengah tekanan global dan keterbatasan ruang kebijakan domestik.

“Berdasarkan tren 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini di kisaran 5,1–5,4 persen. Relatif stabil, tetapi lebih rendah dar ekspektasi akseleratif sebelumnya, yang ditopang pemulihan pascapandemi dan ekspansi belanja negara,” ujar Susilo Nur Aji Rabu (31/12), di UMY.

Pengaruh Geopolitik Masih Kuat

Faktor eksternal masih menjadi pemicu utama potensi perlambatan ekonomi tahun ini. Perlambatan ekonomi negara-negara maju, terutama di Eropa dan China, bakal menekan permintaan global dan berdampak pada kinerja ekspor Indonesia.

Meski demikian, tekanan global terhadap Indonesia tak lepas dari kekuatan domestik. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama dengan kontribusi lebih dari 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Sementara itu, investasi produktif tumbuh relatif moderat, dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) di kisaran 4–5 persen.

“Produktivitas tenaga kerja masih tumbuh di bawah 3 persen per tahun, sementara kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB stagnan di kisaran 18–19 persen. Tanpa reformasi struktural yang kuat, perlambatan siklikal ini berpotensi menahan pertumbuhan jangka menengah,” Susilo menjelaskan.

Baca Juga  Ekonomi Digital Indonesia Diperkirakan Capai USD360 Miliar pada 2030

Dari sisi inflasi, tahun ini bakal menembus kisaran 2,5–3,5 persen, yang masih dalam target Bank Indonesia. Suku bunga acuan atau BI Rate diproyeksikan turun secara terbatas ke kisaran 4,25–4,75 persen. Sementara itu, defisit APBN tetap terkendali sekitar 1,8–2,2 persen terhadap PDB.

Dukungan Moneter dan Penguatan Investasi

“Pertanyaan kuncinya adalah apakah kombinasi kebijakan fiskal dan moneter ini benar-benar mampu mendorong kredit produktif dan investasi bernilai tambah tinggi,” tegasnya mempertanyakan.

Namun demikian, jika perlambatan ekonomi berlanjut. Sejumlah sektor yang sensitif terhadap suku bunga, seperti konstruksi dan properti, akan terdampak lebih dulu. “Selanjutnya adalah pekerja informal dan UMKM skala kecil,” jelasnya.

Susilo juga menyoroti sejumlah indikator yang perlu menjadi perhatian. Di antaranya, pertumbuhan kredit produktif yang melambat di bawah 8–9 persen dan Purchasing Managers Index (PMI) yang di bawah level 50.

Terdapat juga pelemahan investasi swasta non-komoditas, serta tekanan terhadap upah riil akibat inflasi pangan yang berada di atas 5 persen.

Ekonomi Hijau jadi Opsi Keberlanjutan

Untuk merespons tantangan tersebut, Susilo mendorong pemerintah mengalihkan fokus kebijakan ekonomi. Dari yang semula berupa stimulus umum ke sektor-sektor dengan efek pengganda tinggi.

Ia menilai transisi hijau perlu diposisikan sebagai sumber pertumbuhan baru. Mengingat, investasi hijau terbukti memiliki multiplier tenaga kerja yang lebih besar dibandingkan sektor ekstraktif tradisional.

Baca Juga  Serbuan Produk China Bikin Industri Petrokimia Nasional Nyaris Kolaps

“Tantangan utama Indonesia pada 2026 bukan sekadar menjaga angka pertumbuhan tetap 5 persen, tetapi memastikan pertumbuhan yang berkualitas, produktif, dan berkelanjutan,” tegasnya memungkasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *