“Dewan sangat terkejut dengan siklus kekerasan dan penderitaan luar biasa yang terjadi di Gaza,” kata Majlton, dikutip dari Middle East Monitor, Kamis (1/1/2026).
Majlton menegaskan Jalur Gaza kini menjadi panggung bencana kemanusiaan tanpa tanding. Lebih dari 70.000 warga sipil dilaporkan tewas, sekitar 1,5 juta orang terpaksa mengungsi, sementara kelaparan dan kehancuran infrastruktur terjadi secara masif dan sistematis.
Namun, ia mengingatkan bahwa kekerasan ini tidak bisa dipersempit hanya pada peristiwa yang terjadi sejak Oktober 2023. Menurutnya, tragedi di Gaza merupakan akumulasi dari ketidakadilan struktural yang berlangsung selama puluhan tahun.
“Ini adalah hasil dari pendudukan berkepanjangan, blokade ketat terhadap Gaza, serta ketidaksetaraan yang dilembagakan secara sistematis,” tegas Majlton.
Untuk diketahui, meski Israel dan Hamas secara resmi menyepakati gencatan senjata, kondisi di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Pasukan Israel dilaporkan masih kerap melancarkan serangan ke berbagai wilayah di Gaza.
Sejak agresi dimulai pada Oktober 2023, Israel menghancurkan berbagai objek sipil, mulai dari rumah sakit, sekolah, hingga kamp pengungsian. Situasi inilah yang mendorong Dewan Gereja Dunia menilai doa dan pernyataan moral tidak lagi cukup.
WCC mendesak Uni Eropa mengambil langkah nyata berupa sanksi tegas untuk menekan Tel Aviv agar menghentikan kekerasan serta menghormati hukum internasional dan hak asasi manusia di Palestina.***