MAKLUMAT — Nicolas Maduro bukan politisi yang lahir dari lingkar elite. Ia memulai karier sebagai sopir bus di perusahaan Caracas Metro. Dari dunia buruh itulah ia mengenal politik, menjadi pemimpin serikat pekerja tidak resmi, dan perlahan masuk ke orbit kekuasaan.
Awal 1990-an menjadi titik balik. Maduro bergabung dengan gerakan politik Hugo Chávez dan dikenal sebagai loyalis tanpa syarat. Kesetiaan itu mengantarnya ke jabatan penting: Presiden Majelis Nasional (2005–2006), lalu Menteri Luar Negeri selama tujuh tahun, dari 2006 hingga 2013.
Pada Oktober 2012, Chávez menunjuk Maduro sebagai wakil presiden sekaligus pewaris politik. Ketika Chávez wafat pada Maret 2013, Maduro naik sebagai presiden sementara dan memenangkan pemilu khusus April 2013.
Namun, kekuasaan Maduro berjalan di tengah badai.
Di bawah kepemimpinannya, Venezuela terperosok dalam krisis ekonomi terburuk sepanjang sejarah. Hiperinflasi tak terkendali, kebutuhan pokok menghilang dari pasar, kejahatan meningkat. Lebih dari tujuh juta warga Venezuela meninggalkan negaranya, menciptakan salah satu krisis migrasi terbesar di dunia.
Maduro juga menghadapi tuduhan menjalankan pemerintahan secara otoriter. Mahkamah Agung yang dikuasai pemerintah kerap digunakan untuk melemahkan Majelis Nasional yang dikuasai oposisi. Aksi protes dibatasi, tokoh oposisi dipenjara atau dipaksa ke pengasingan.
Tekanan internasional terus menguat. Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi dan politik. Washington bahkan menawarkan hadiah hingga 50 juta dolar AS untuk informasi yang mengarah pada penangkapan atau penuntutan Maduro atas tuduhan terorisme narkotika dan pencucian uang.
Pemilihan presiden Venezuela pada 2018 dan 2024 pun menuai kecaman luas. Proses dan hasilnya dianggap tidak bebas dan tidak adil oleh oposisi serta banyak negara.
Ketegangan itu memuncak awal 2026. Pada 3 Januari, beredar laporan bahwa Nicolás Maduro dan istrinya ditangkap oleh Amerika Serikat dalam operasi militer. Hingga kini, detail resmi masih terus berkembang.
Jika laporan tersebut terbukti, penangkapan Maduro berpotensi mengubah peta politik Venezuela secara drastis—sekaligus menandai akhir kekuasaan salah satu figur paling kontroversial di Amerika Latin.***