Perkembangan Terbaru Bencana Sumatera; Kemenkes Waspadai Campak, 152 Puskesmas Dalam Kondisi Rusak Berat

Perkembangan Terbaru Bencana Sumatera; Kemenkes Waspadai Campak, 152 Puskesmas Dalam Kondisi Rusak Berat

MAKLUMAT — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi wabah penyakit menular di lokasi pengungsian bencana Sumatera. Pemerintah memantau khusus risiko campak karena penyakit ini sangat cepat menular di lingkungan padat.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Kemenkes memantau perkembangan penyakit setiap hari melalui sistem pelaporan terintegrasi. “Kami memantau penyakit harian. Data itu langsung kami pakai untuk menyesuaikan distribusi obat, tenaga medis, dan tenaga kesehatan,” kata Budi dalam Konferensi Pers Update Penanganan Bencana Sumatera di Grha BNPB, Jakarta, Rabu (7/1).

Hasil pemantauan menunjukkan tiga penyakit paling banyak menyerang pengungsi, yakni infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, dan diare. “Kami sesuaikan obat dengan jenis penyakit yang muncul,” ujar Budi.

Selain itu, Kemenkes memberi perhatian khusus pada penyakit menular berisiko tinggi. “Kami paling takut campak karena penularannya sangat cepat,” tegasnya. Kemenkes sudah menemukan kasus campak di lima kabupaten terdampak. Pemerintah langsung melakukan deteksi dini untuk mencegah penyebaran, terutama pada anak-anak. “Kami sudah jalankan imunisasi program khusus sejak minggu ini,” kata Budi. Kemenkes memfokuskan imunisasi pada anak-anak di lokasi pengungsian dan wilayah berisiko tinggi.

867 Puskesmas Terdampak

Setelah rumah sakit kembali berfungsi, Kemenkes memasuki tahap lanjutan penanganan bencana dengan memulihkan layanan kesehatan primer melalui puskesmas. Budi menyebut tahap pemulihan puskesmas lebih berat dibanding rumah sakit karena jumlah fasilitas terdampak jauh lebih banyak. “Kami mendata 867 puskesmas terdampak di tiga provinsi. Sebanyak 152 puskesmas rusak berat dan berhenti beroperasi sementara,” jelasnya.

Baca Juga  Musim Hujan, Kemenkes Imbau Masyarakat Waspada DBD

Pemerintah memulihkan puskesmas secara bertahap, mulai dari pembersihan lokasi, relokasi layanan sementara, hingga pembangunan ulang. “Sampai awal Januari 2026, tinggal tiga puskesmas yang belum beroperasi,” ujar Budi. Ketiga puskesmas tersebut yakni: Puskesmas Rusip Antara (Aceh Tengah), Puskesmas Jambur Lak Lak (Aceh Tenggara), Puskesmas Lokop (Aceh Timur). “Yang di Lokop paling parah. Kayu besar menimpa bangunan sampai hancur, jadi sekarang kami bangun ulang,” kata Budi. Kemenkes mengalihkan sementara layanan puskesmas rusak ke gedung pemerintah lain agar masyarakat tetap mendapat pelayanan.

Pulihkan Kesehatan Jiwa Pengungsi

Kemenkes juga memprioritaskan pemulihan kesehatan mental korban bencana. Banyak korban, terutama anak-anak, mengalami trauma akibat kehilangan keluarga dan tempat tinggal. “Kami tidak hanya mengurus kesehatan fisik, tapi juga kesehatan jiwa,” ujar Budi. Dalam setiap pengiriman relawan kesehatan, Kemenkes menyertakan 30–35 psikolog klinis. Para psikolog menjalankan pendampingan psikososial melalui kegiatan bercerita, bermain, dan aktivitas interaktif di lokasi pengungsian.

Pendekatan ini bertujuan mengurangi trauma berkepanjangan dan membantu anak-anak kembali merasa aman. “Kami ingin mencegah dampak psikologis jangka panjang karena tidak semua luka bencana terlihat secara fisik,” kata Budi. Kemenkes juga menggandeng lintas sektor dan tokoh publik untuk menciptakan suasana yang lebih positif di pengungsian. Budi berharap perhatian terhadap kesehatan fisik dan mental bisa mempercepat pemulihan sosial masyarakat di wilayah terdampak. “Pemulihan harus utuh. Warganya sehat badannya, sehat juga jiwanya,” tutupnya.

Baca Juga  Trauma Sunyi Penyintas Banjir dan Longsor, Pakar Ingatkan Pemulihan Mental Tak Boleh Ditunda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *