Trump vs Maduro: Mengapa Venezuela Kembali Jadi Medan Perebutan Dunia?

Trump vs Maduro: Mengapa Venezuela Kembali Jadi Medan Perebutan Dunia?

MAKLUMATLangit Caracas tak lagi sekadar menyimpan awan tropis. Dalam beberapa bulan terakhir, ia juga menyimpan bayang-bayang lama: bayang-bayang “Tongkat Besar” Amerika Serikat.

Serangan terhadap kapal yang dituduh membawa narkoba, penyitaan tanker minyak Venezuela, hingga operasi intelijen di dermaga-dermaga strategis — semuanya menandai eskalasi tekanan Presiden AS Donald Trump terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Bagi Washington, ini disebut sebagai penegakan hukum, stabilitas kawasan, atau perang melawan narkotika. Namun bagi banyak pengamat, langkah-langkah itu terasa akrab. Terlalu akrab.

Karena Amerika Latin sudah pernah berada di sini — berkali-kali.

Sejak Doktrin Monroe diumumkan tahun 1823, kawasan Karibia dan Amerika Latin secara perlahan berubah menjadi halaman belakang geopolitik Amerika Serikat. Doktrin itu awalnya ditujukan untuk mencegah Eropa mencampuri urusan Benua Amerika. Namun pada awal abad ke-20, Presiden Theodore Roosevelt menambahkan tafsir baru: AS berhak bertindak sebagai polisi kawasan.

Diplomasi dibungkus meriam. Tekanan politik ditemani kapal perang.

“Inilah yang disebut kebijakan Big Stick,” kata Eduardo Gamarra, profesor hubungan internasional Florida International University. “AS menegaskan: jangan ada kekuatan luar yang bermain di sini — dan jika ada, kami akan turun tangan.”

Dari antikolonialisme, kebijakan itu berubah menjadi antikomunisme. Dari antikomunisme, ia berubah menjadi perang narkoba. Nama berubah, aktor berganti, tapi pola tetap sama: intervensi.

Baca Juga  Pengamat Minta TNI/Polri Tak Lakukan Mutasi Jelang Pilkada, Rawan Penyalahgunaan

Model Guatemala: kudeta sebagai kebijakan

Pada 1954, AS menggulingkan Presiden Guatemala Jacobo Árbenz — seorang pemimpin terpilih yang berani menjalankan reforma agraria dan menasionalisasi tanah milik United Fruit Company. CIA melancarkan perang psikologis, mendukung kudeta militer, dan mengganti Árbenz dengan rezim otoriter.

“Yang terjadi bukan hanya penggulingan satu presiden,” kata Edward Murphy, sejarawan Michigan State University seperti dilansir laman NPR.org, Kamis (8/1/2026). “Tapi penguatan kekuatan anti-demokrasi di kawasan.” Guatemala menjadi cetakan. Model.

Teluk Babi: kegagalan yang mengubah dunia

Di Kuba, tahun 1961, invasi Teluk Babi gagal total. Alih-alih menjatuhkan Fidel Castro, AS justru mendorong Havana lebih dekat ke Moskow. Krisis Rudal Kuba setahun kemudian nyaris menyeret dunia ke perang nuklir.

“Embargo tak mengganti rezim,” kata Gamarra. “Ia justru memperkuatnya.”

Grenada, Nikaragua, Panama: variasi dari satu pola

Grenada 1983. Nikaragua 1980-an. Panama 1989. Masing-masing memiliki konteks berbeda, tapi motifnya serupa: menghalangi pengaruh asing, menjaga kepentingan strategis, dan mempertahankan dominasi.

Di Nikaragua, dukungan rahasia pada kelompok Contra memicu skandal Iran–Contra. Di Panama, invasi menggulingkan Manuel Noriega — mantan sekutu CIA — ketika ia menjadi beban politik.

Panama sering disebut “intervensi sukses”. Namun Murphy menolak romantisasi itu.

“Satu-satunya hal baik adalah Noriega pergi,” katanya. “Bukan karena invasi itu otomatis membawa demokrasi.”

Kembali ke Venezuela

Kini, Venezuela berdiri di persimpangan yang sama. Washington bicara soal narkoba, demokrasi, dan stabilitas. Tapi Washington juga bicara soal minyak — cadangan terbesar di dunia ada di sana.

Baca Juga  Ekonomi Indonesia Gawat! Dampak Penerapan Tarif Impor dari AS

“Kepentingan ekonomi dan geopolitik selalu berjalan beriringan,” kata Murphy. “Retorikanya bisa berubah, tapi logikanya tetap: Amerika tak ingin ada kekuatan lain menguasai wilayah ini.”

Dan seperti dalam sejarah sebelumnya, intervensi jarang berjalan seperti rencana. Ia sering menghasilkan kekacauan baru, bukan ketertiban. Rezim baru, bukan stabilitas. Luka sosial yang panjang, bukan penyembuhan.

Caracas hari ini bukan Havana 1961, bukan Guatemala 1954, bukan Panama 1989. Tapi bayangan masa lalu itu kembali jatuh ke jalan-jalan yang sama. Sejarah, seperti biasa, tidak pernah benar-benar berulang. Tapi ia sering berima.

Dan di Caracas, rima itu kini terdengar semakin jelas.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *