Busyro Muqoddas Soroti Krisis Kepemimpinan: Gelar Tinggi Tapi Kehilangan Kejujuran

Busyro Muqoddas Soroti Krisis Kepemimpinan: Gelar Tinggi Tapi Kehilangan Kejujuran

MAKLUMAT — Ketua PP Muhammadiyah, Dr Busyro Muqoddas SH MHum, mengingatkan penting dan fundamentalnya kejujuran dalam konteks kepemimpinan. Menurutnya, kemampuan akademik yang tinggi tidak cukup sebagai patokan kelayakan seseorang untuk memimpin.

“Kecerdasan, tanpa kejujuran, hanyalah kepintaran yang kehilangan arah,” sorot Busyro, saat di Muhammadiyah Boarding School (MBS) 3 Ngulankulon, Trenggalek.

Menurut Busyro, situasi kebangsaan saat ini menunjukkan gejala krisis keteladanan, di mana gelar akademik yang tinggi seolah hanya menjadi simbol prestise, tanpa disertai tanggung jawab moral.

Dalam kesempatan itu, Busyro menilai terdapat semacam kegersangan mental akademisi, yakni adanya ketimpangan antara kecerdasan otak dan spiritualitas.

“Inilah ironi zaman modern, cerdas berpikir, tetapi miskin kebijaksanaan. Fasih berbicara, tetapi gagap bersikap jujur. Banyak yang sarjana, namun hidupnya tidak mencerminkan nilai keilmuan itu sendiri,” kata pria yang juga anggota Dewan Pers itu.

Krisis Kepemimpinan Nasional

Lebih lanjut, Busyro juga menyinggung adanya krisis kepemimpinan nasional. Menurutnya, Bangsa Indonesia tidak sedang kekurangan orang pintar, tetapi yang kurang adalah sosok-sosok pemimpin yang jujur dan memiliki integritas yang kokoh.

“Dalam banyak kasus, kejujuran justru dianggap beban politik, bukan fondasi kepemimpinan,” sorotnya.

Pria yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu menandaskan, kejujuran negara harus dimulai dari keberanian mengakui kenyataan, bukan menutupinya dengan bahasa birokrasi, termasuk soal kebencanaan. Ia adalah salah satu tokoh yang cukup lantang mendesak pemerintah untuk segera menetapkan status bencana Sumatera sebagai bencana nasional.

Baca Juga  Sekolah Agraria di Sorong, Busyro Muqoddas: Gerakan Perpaduan Iman dan Ilmu

“Menetapkan bencana sebagai bencana bukan soal gengsi kekuasaan, melainkan keberpihakan pada keselamatan rakyat. Pemimpin yang jujur tidak sibuk merapikan narasi, tetapi fokus membuka jalan penyelesaian,” tandasnya.

“Sebaliknya, pemimpin yang takut jujur akan selalu terlambat, sementara penderitaan rakyat berjalan lebih cepat dari keputusan negara,” sambung Busyro.

Lebih jauh, Busyro mengingatkan bahwa Muhammadiyah sejak awal didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta tahun 1912, tidak mengajarkan bahwa kemajuan lahir dari gelar, melainkan dari keberanian moral untuk berlaku benar.

Ia kembali menandaskan, krisis kepemimpinan bukan soal kurangnya sekolah atau sertifikat, tetapi terjadinya krisis karakter. “Dan bangsa yang menormalisasi ketidakjujuran sedang menggali lubang dalam-dalam, bukan untuk masa lalu, tetapi untuk masa depannya sendiri,” pungkasnya.

*) Penulis: Jufri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *