Haedar Nashir: Isra Mikraj Jangan Sekadar Seremonial, Harus Aktual untuk Kesalehan Spiritual dan Kebangsaan

Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi menyampaikan Refleksi Isra Mikraj 1447 H. (Foto: tangkapan layar)

MAKLUMAT — Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi mengingatkan agar momentum Isra Mikraj tidak boleh hanya sekadar menjadi seremonial perayaan semata, yang lepas dari konteks dan nilai.

Sebaliknya, nilai-nilai Isra Mikraj harus dapat diaktualisasikan secara nyata dalam meningkatkan kesalihan spiritual pribadi maupun kesalihan sosial dalam kehidupan kebangsaan.

“Dari peristiwa Isra Mikraj ini, kaum muslimin tentu bukan hanya memperingati secara lahiriyah untuk mengenal tentang sejarah nabi dan kemukjizatan serta kerisalahannya,” ujarnya dalam Refleksi Isra Mikraj 1447 H yang disiarkan di kanal YouTube resmi Muhammadiyah Channel, Jumat (16/1/2026).

“Tetapi secara rohaniyah mengambil arti terdalam untuk menjadi panduan hidup kita dalam beragama yang terpancar dalam kehidupan kemanusiaan dalam berbagai ranah kehidupan,” sambung pria yang juga Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu.

Haedar menjelaskan bahwa Isra Mikraj merupakan peristiwa yang menguji ketakwaan, keimanan, dan tauhid seorang muslim. Pasalnya, peristiwa tersebut merupakan mukjizat yang berada di luar nalar manusia pada umumnya.

Karena itu, Isra Mikraj menurutnya dapat dijadikan momentum untuk membangun relasi ketuhanan, baik bagi warga maupun para pemimpin bangsa. Relasi tersebut sekaligus berfungsi menguatkan tauhid, iman, dan takwa, sehingga mampu membangkitkan jiwa yang salih.

Baca Juga  Ketum DPP IMM: Hukum Harus Jadi Panglima yang Tegas dan Adil di Negeri Ini

Kesalihan diri, lanjut Haedar, diharapkan menjadi rambu-rambu yang menghalangi manusia ketika muncul hasrat untuk berbuat buruk, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, perilaku jahat, berkata kasar, maupun perbuatan tidak pantas lainnya.

“Itu harus menjadi kerangka yang tidak boleh kita lakukan, karena kita memiliki iman, takwa, dan tauhid kepada Allah. Bahkan dari relasi dengan Allah itu harus melahirkan relasi murakabah,” tandasnya.

Relasi murakabah, kata Haedar, merupakan kesadaran spiritual yang mendalam, di mana seorang hamba merasa senantiasa diawasi oleh Allah. Jika kesadaran ini hidup dalam jiwa warga bangsa dan para pemimpin, maka dorongan untuk melakukan perilaku buruk diharapkan dapat dicegah sejak awal.

Lebih lanjut, Haedar berharap supaya peringatan Isra Mikraj dapat menjadi titik tolak untuk menggali kembali keteladanan Nabi Muhammad Saw. Ia menilai, kondisi bangsa saat ini, termasuk umat beragama serta para pemimpin dan elit bangsa, tengah mengalami krisis keteladanan.

“Mari jadikan peringatan Isra Mi’raj untuk belajar terus menerus menampilkan (keteladanan) yang otentik,” sebutnya.

Ia mengajak dan meminta kepada para pemimpin bangsa untuk menjadikan peristiwa Isra Mikraj sebagai cermin untuk berkata dan bertindak secara seksama. Dengan demikian, warga bangsa dapat menaruh hormat dan kepercayaan, sekaligus merasakan hadirnya teladan dari para pemimpinnya.

Baca Juga  Anggota DPRD Kota Kediri Yuzar Rasyid Tekankan Budaya Digital dalam Penguatan Kader Muhammadiyah

Sementara itu, kepada elit agamawan, ia mengajak agar ajaran yang disampaikan selaras dengan tindakan nyata. Menurutnya, ajaran-ajaran luhur agama tidak boleh retak oleh perilaku yang bertentangan, karena hal itu justru akan merusak kepercayaan publik.

Kegersangan keteladanan di tubuh bangsa, lanjutnya, harus segera diteduhkan. Tugas para elit di setiap level adalah menjadi oase keteladanan untuk menghilangkan dahaga masyarakat. Ia menyebut, keteladanan yang otentik bersumber dari Nabi Muhammad Saw sebagai barometer utama.

“Jika peran suasana itu dijalankan, maka kehadiran para tokoh di berbagai level akan menjadi semacam oase bagi masyarakat luas yang haus akan keteladanan,” tandas Haedar.