Bahaya dan Dampak Jangka Panjang Child Grooming, Relasi Manipulatif yang Kerap Tak Disadari Korban

Dosen UMY, Cahyo Setiadi Ramadhan SPsi MPSi Psikolog. (Foto: UMY)

MAKLUMAT — Psikolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan SPsi MPSi Psikolog, menyoroti praktik child grooming yang belakangan menjadi perhatian publik usai artis Indonesia berdarah Belgia, Aurelie Moeremans, merilis buku memoar berjudul Broken Strings.

Menurut Cahyo, praktik child grooming memang kerap berlangsung melalui pendekatan yang tampak ramah, penuh perhatian, dan sulit dikenali sejak awal.

Kasus yang belakangan mencuat dan dialami oleh Aurelie Moeremans sejak usia remaja, kata dia, menjadi gambaran bagaimana relasi antara orang dewasa dan anak dapat dibangun secara perlahan hingga menciptakan ketergantungan emosional yang berbahaya.

Cahyo menjelaskan, pola tersebut merupakan karakteristik utama child grooming, di mana pelaku secara bertahap membangun kedekatan emosional dengan anak sebelum akhirnya memanfaatkan relasi tersebut untuk kepentingan pribadi.

“Child grooming dilakukan melalui proses yang perlahan dan manipulatif. Pelaku berupaya menciptakan ketergantungan emosional anak,” ujarnya, dikutip laman resmi UMY, Senin (19/1/2026).

“Ketika anak sudah merasa aman dan bergantung, di situlah pelaku mulai mengambil keuntungan dari relasi tersebut, yang paling sering berujung pada eksploitasi seksual,” sambung Cahyo.

Tak cuma itu, ia menyebut bahwa dalam sejumlah kasus, child grooming bahkan berakhir pada relasi yang tampak sah secara sosial, seperti pernikahan. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menghapus unsur eksploitasi.

Baca Juga  Kritik PSN, Dosen UMY: Hanya Untungkan Pemodal, Rugikan Lingkungan dan Masyarakat Adat

Menurutnya, relasi yang dibangun sejak anak berada dalam posisi rentan tetap menyimpan ketimpangan kuasa, sehingga sulit menghadirkan hubungan yang setara dan sehat.

Ironisnya, praktik child grooming sering kali tidak disadari oleh korban maupun lingkungan sekitar. Hal itu dapat terjadi karena pelaku yang manipulatif, yang kerap menampilkan diri sebagai sosok yang terlihat peduli, suportif, dan dapat dipercaya.

“Pelaku biasanya ramah, perhatian, mau mendengarkan keluh kesah anak, serta memberikan validasi emosional. Dari luar, ia tampak seperti orang dewasa yang baik. Padahal, di balik itu terdapat motif yang tidak sehat dan berpotensi merusak perkembangan psikologis anak,” terangnya.

Dampak dan Pencegahan Child Grooming

Lebih lanjut, Cahyo menjelaskan bahwa korban child grooming berisiko mengalami dampak psikologis dalam jangka panjang. Pada fase awal, anak akan sering mengalami kebingungan emosional, rasa tidak nyaman, dan konflik batin yang kemudian berkembang menjadi trauma.

Dalam jangka panjang, korban dapat mengalami penurunan kepercayaan diri, kecemasan berlebih, kesulitan membangun relasi yang sehat, hingga gangguan stres pascatrauma atau PTSD.

“Rasa bersalah karena merasa tidak mampu menolak atau melawan sering terbawa hingga korban dewasa,” kata Cahyo.

Baca Juga  Prof Haedar Nashir Resmikan Gedung Dormitory UMY Senilai Rp129,6 Miliar

Maka dari itu, Cahyo menekankan pentingnya peran orang tua dan lingkungan terdekat dalam membangun kedekatan emosional yang sehat dengan anak, sebagai langkah antisipatif atau pencegahan.

Ia menilai, kedekatan antara anak dan orang tua tersebut akan menjadi benteng utama supaya anak tidak mencari pemenuhan emosional dari pihak luar yang memiliki potensi bahaya.

Selain itu, ia juga menandaskan pentingnya pembekalan pemahaman batasan diri bagi anak, serta keberanian mental untuk mengatakan tidak.

“Anak perlu dibekali pemahaman tentang batasan diri, bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh, serta keberanian untuk mengatakan tidak,” jelasnya.

“Dengan pendampingan emosional yang kuat, orang dengan niat tidak baik akan lebih sulit memasuki dunia anak,” imbuh Cahyo.