MAKLUMAT – Langit Sulawesi Selatan menyisakan duka mendalam. Di balik puing-puing pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, nama Florencia Lolita Wibisono akhirnya diumumkan secara resmi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri sebagai korban kedua jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Kepastian itu disampaikan Kabid Dokkes Polda Sulawesi Selatan, Kombes Pol Muhammad Haris, Rabu (21/1/2026), di Posko DVI Polda Sulsel. “Korban teridentifikasi melalui sidik jari dan data odontologi. Identitasnya atas nama Florencia Lolita Wibisono,” kata Haris.
Bagi dunia penerbangan, Florencia atau Olen bukan nama asing. Ia dikenal sebagai pramugari senior dengan pengalaman panjang di awak kabin. Rekan kerja Florencia sesama pramugari, Rina Anastasya mengatakan Florencia adalah sosok disiplin dan sangat ketat pada prosedur keselamatan.
“Olen itu perfeksionis soal SOP. Dia tidak suka kompromi kalau menyangkut keselamatan penumpang,” tutur Rina.
Hal senada disampaikan Budi Santoso, mantan instruktur awak kabin yang pernah bekerja bersama Florencia. “Dia sudah lebih dari 10 tahun terbang. Bahkan sempat membantu melatih pramugari junior. Mentalnya kuat dan sangat profesional,” katanya.
Dari Trainer ke ATR 42-500
Menurut Budi, Florencia sempat dipercaya sebagai trainer awak kabin sebelum kemudian bertugas di armada ATR 42-500 sekitar tiga bulan terakhir.
“Meski ATR bukan tipe lama baginya, adaptasinya cepat. Dia tipe yang belajar serius,” ujarnya.
Florencia bukan pramugari baru. Ia telah malang melintang di dunia penerbangan selama lebih dari satu dekade. Rekan-rekannya mengenal Olen sebagai sosok disiplin, detail, dan tegas dalam prosedur, namun hangat dalam pergaulan.
Ia bukan hanya melayani penumpang. Ia membentuk awak kabin
Dalam beberapa tahun terakhir, Florencia dipercaya sebagai trainer awak kabin, mendampingi pramugari dan pramugara muda memahami standar keselamatan, etika layanan, hingga ketenangan menghadapi situasi darurat.
Sekitar tiga bulan terakhir, Florencia bertugas di armada ATR 42-500. Meski baru di tipe pesawat tersebut, pengalamannya membuat ia cepat beradaptasi. Baginya, setiap pesawat adalah tanggung jawab, bukan sekadar alat transportasi.
Menyiapkan Masa Depan, Tapi Tak Sempat Menikmatinya
Di luar pekerjaannya, Florencia tengah menyiapkan fase baru dalam hidupnya. Keluarga dan sahabat dekat mengungkapkan, ia sedang mempersiapkan pernikahan dengan pria yang berprofesi sebagai pilot.
Mereka sama-sama bekerja di langit. Sama-sama memahami risiko. Sama-sama mencintai profesi yang menuntut disiplin dan pengorbanan.
Rencana itu kini tinggal kenangan
Di luar profesinya, Florencia tengah mempersiapkan masa depan. Anggota keluarga Florencia, Juwita membenarkan bahwa Olen sedang merencanakan pernikahan.
“Dia sudah bicara soal masa depan. Tentang rumah, tentang berhenti terbang suatu hari nanti. Dia akan menikah. Rencananya tahun ini,” tutur Juwita, anggota keluarga dengan suara lirih.
Florencia adalah anak bungsu. Di keluarga, ia dikenal mandiri, bertanggung jawab, dan jarang mengeluh. Dunia penerbangan mengajarkannya ketegasan, tapi keluarga mengenalnya sebagai pribadi yang penuh perhatian.
Penerbangan Terakhir
Sebelum penerbangan nahas itu, Florencia masih sempat membagikan aktivitas hariannya di media sosial. Tak ada tanda-tanda kecemasan. Tak ada kalimat dramatis. Hanya rutinitas seorang pramugari yang menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati.
Ketika pesawat jatuh di medan ekstrem Bulusaraung, tim SAR harus berjuang menembus jurang curam, hutan lebat, dan cuaca yang tak menentu. Florencia akhirnya dievakuasi dan dibawa ke RS Bhayangkara Makassar.
Tim DVI Polri mengidentifikasi jenazahnya melalui sidik jari, data odontologi, dan ciri medis. Kepastian itu sekaligus mengakhiri penantian keluarga, dan membuka babak duka yang sesungguhnya.
Mengabdi Hingga Akhir
Florencia Lolita Wibisono meninggal saat sedang menjalankan tugas. Ia pergi di tempat yang ia pilih, yakni di udara, dalam pengabdian.
Ia tak sempat mengenakan gaun pengantin. Tak sempat menata kehidupan baru. Namun ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih abadi: teladan profesionalisme dan dedikasi.
Bagi rekan-rekannya, Olen bukan sekadar pramugari. Ia adalah panutan. Bagi keluarganya, ia adalah anak bungsu yang tak pernah setengah-setengah dalam hidup. Dan bagi dunia penerbangan, ia adalah satu dari mereka yang menjaga keselamatan orang lain hingga napas terakhir.
Biodata
Nama: Florencia Lolita Wibisono
Usia: 33 tahun
Domisili: Jakarta Timur
Profesi: Pramugari
Pengalaman: Lebih dari 10 tahun
Peran: Pramugari & trainer awak kabin
Pesawat terakhir: ATR 42-500
Korban: Kecelakaan pesawat di Gunung Bulusaraung













