Delapan Jurus OJK Pulihkan Kepercayaan Investor

MAKLUMAT – Kepercayaan investor kembali menjadi pekerjaan rumah pasar modal Indonesia. Menyadari hal itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah tegas dengan meluncurkan delapan rencana aksi reformasi pasar modal yang dinilai sebagai upaya serius memulihkan kepercayaan publik dan investor global.

Komitmen tersebut ditegaskan Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam Dialog Pasar Modal di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. OJK, kata Friderica. Reformasi dilakukan secara bold and ambitious, mengikuti praktik terbaik internasional serta memenuhi ekspektasi Global Index Provider.

“Reformasi pasar modal ini diarahkan untuk memperkuat likuiditas, meningkatkan transparansi, dan menjaga kepercayaan investor,” ujar Friderica.

Delapan Poin Legacy Ekonomi

Langkah ini dinilai krusial di tengah tantangan pasar global dan sorotan investor terhadap integritas bursa domestik. OJK menargetkan pasar modal Indonesia menjadi lebih kredibel, investable, dan berdaya saing, sekaligus mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Delapan rencana aksi tersebut dibagi dalam empat klaster utama. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah kenaikan batas minimum free float emiten menjadi 15 persen, dari sebelumnya 7,5 persen. Kebijakan ini akan diterapkan bertahap, dengan ketentuan khusus bagi perusahaan yang baru melantai di bursa.

Baca Juga  Kinerja Perbankan Stabil, Tapi Risiko Tak Pernah Pergi

OJK menilai peningkatan free float penting untuk memperbaiki struktur kepemilikan saham sekaligus menekan praktik manipulasi yang kerap menjadi sumber erosi kepercayaan investor. Emiten juga didorong memanfaatkan berbagai aksi korporasi, seperti right issue hingga program kepemilikan saham karyawan.

Penguatan Instrumen Investasi

Tak hanya itu, OJK bersama pemerintah dan self regulatory organization (SRO) juga memperkuat peran investor institusi domestik serta memperluas basis investor asing. Penyesuaian batas investasi di sektor asuransi dan dana pensiun menjadi salah satu instrumen pendukung reformasi pasar modal tersebut.

Dari sisi transparansi, OJK menyoroti pentingnya keterbukaan ultimate beneficial owner (UBO) dan afiliasi pemegang saham. Transparansi ini dinilai sebagai fondasi utama untuk membangun kembali kepercayaan pasar yang sehat dan berintegritas.

Sementara itu, aspek tata kelola diperkuat melalui rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia, penegakan hukum terhadap pelanggaran pasar modal, serta peningkatan kompetensi direksi dan komisaris emiten melalui kewajiban pendidikan berkelanjutan.

Komitmen Stakeholder di Panggung Global

Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menegaskan, kepercayaan investor adalah kunci agar pasar modal Indonesia tetap solid dan berkelanjutan. “OJK akan terus hadir melindungi investor dan memastikan pasar modal tumbuh sehat serta berintegritas,” katanya.

Baca Juga  Kinerja Perbankan Tetap Solid di Tengah Dinamika Ekonomi 2025

Komitmen serupa disampaikan BEI. Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik memastikan bursa siap meningkatkan transparansi dan disclosure guna menjawab tuntutan global, termasuk dari MSCI.

Dengan rangkaian reformasi pasar modal ini, OJK berharap kepercayaan investor dapat pulih, likuiditas meningkat, dan pasar modal Indonesia kembali menjadi pilihan utama investasi jangka panjang.