MAKLUMAT – Presiden Prabowo Subianto bereaksi keras terhadap gejolak pasar modal yang dipicu peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam hingga sempat mengalami trading halt selama dua hari berturut-turut.
“Presiden Prabowo sangat marah. Beliau marah atas apa yang terjadi minggu lalu, terutama karena ini menyangkut kehormatan negara,” kata Hashim.
Menurutnya, peringatan MSCI bukan hanya mengguncang pasar saham, tetapi juga memukul reputasi Indonesia di mata global. Gejolak itu membuat investor ritel mengalami kerugian besar.
“Investor ritel banyak yang menjadi korban. Ini persoalan serius,” tegasnya.
Hashim menilai peringatan MSCI turut mempertaruhkan kredibilitas otoritas pasar modal, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI. Karena itu, pemerintah memastikan akan memperketat pengawasan guna menjaga stabilitas dan nama baik negara.
“Pemerintah bertekad menjaga kredibilitas dan kehormatan Republik Indonesia. Bagi Pak Prabowo, kehormatan negara itu sangat penting. Beliau akan mengawasi secara ketat,” tandas dia.
Dalam keterangannya, MSCI menyoroti persoalan transparansi kepemilikan dan free float saham di Indonesia. Otoritas pasar modal diberi waktu hingga Mei 2026 untuk melakukan pembenahan. Jika tidak ada perbaikan signifikan, Indonesia terancam mengalami penurunan bobot dalam indeks Emerging Market, bahkan berisiko terdegradasi menjadi Frontier Market.
Tekanan tersebut berbuntut panjang. Pada akhir Januari lalu, pimpinan OJK dan BEI mengundurkan diri secara massal. Dirut BEI Iman Rachman, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten dan Transaksi Efek Aditya Jayaantara lebih dulu menyatakan mundur.
Tak lama berselang, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara juga menyusul. Pemerintah kini berpacu dengan waktu. Stabilitas pasar harus dipulihkan, kepercayaan investor harus dijaga, dan reputasi Indonesia di mata global tidak boleh tercoreng.***













