Muhammadiyah Independen, PAN Klaim Kedekatan Historis dan Kaderisasi

MAKLUMAT –Hubungan historis antara Muhammadiyah dan PAN menjadi buah bibir. Di mana peran Muhammadiyah dalam melahirkan politikus PAN tidak diragukan. Begitu juga sebaliknya, PAN kerap memberi dukungan kepada organisasi yang beridir tahun 1912 ini.

Itulah yang disampaikan Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Zulkifli Hasan, yang hadir dalam rapat kerja wilayah, Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PW Muhammadiyah Jawa Timur.

Ia secara terbuka menyebut bahwa PAN lahir dari rahim Muhammadiyah. Menurutnya, wajar jika PAN merasa memiliki kedekatan ideologis dan kultural dengan persyarikatan.

“Kalau Muhammadiyah menjaga jarak dengan semua partai, saya setuju. Tapi PAN ini dilahirkan oleh Muhammadiyah,” ujarnya, dalam rakerwil, di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya, Sabtu (14/2/2026).

Dorong Peran LHKP Lebih Luas

Zulhas, sapaan akrabnya, mendorong kader Muhammadiyah agar tidak ragu terjun ke politik, baik melalui jalur legislatif maupun eksekutif. Menurutnya, dunia politik adalah arena kompetisi keras yang membutuhkan keberanian, soliditas, dan kesiapan logistik.

“Kalau jadi pengurus Muhammadiyah mungkin tidak ada persaingan. Tapi kalau jadi bupati, wali kota, gubernur, sampai presiden, keras persaingannya,” tegas, pria yang juga Menteri Koordinator Pangan.

Di sisi lain, Ketua LHKP PW Muhammadiyah Jatim, Muhammad Mirdasy, menegaskan bahwa secara kelembagaan, Muhammadiyah tetap memegang prinsip independensi politik. Sikap ini berbeda dengan netralitas yang cenderung apatis.

Baca Juga  Dukung Kepala Daerah Dipilih DPRD, Zulhas Sebut Lebih Baik Anggarannya untuk Sektor Pangan

“Independen itu artinya punya sikap mandiri. Warga Muhammadiyah bebas memilih partai mana pun. Muhammadiyah tidak membatasi,” jelasnya.

Ia mengakui secara historis, kelahiran PAN memang berkaitan dengan keputusan Tanwir Muhammadiyah. Bahkan pada masa awal, sejumlah pimpinan wilayah Muhammadiyah juga memimpin struktur PAN di daerah.

Hubungan Historis tetap Harmonis

Namun dalam perkembangannya, Muhammadiyah menempatkan diri sebagai mitra strategis bagi seluruh partai politik, bukan hanya PAN.

Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan banyak kader Muhammadiyah aktif di PAN. Dukungan moral dan kaderisasi juga dinilai berkontribusi pada penguatan PAN di berbagai daerah.

Bagi Muhammadiyah, pilihan politik adalah hak personal warga. Organisasi tidak melarang jika ada partai yang mengklaim kedekatan historis. “Secara institusi, Muhammadiyah tetap menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik,” tegas Mirdasy, memungkasi.