Ramadan Bisa Picu Lonjakan Sampah, ‘Aisyiyah Kampanyekan Puasa Ramah Lingkungan

MAKLUMAT – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah mengingatkan pentingnya menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari sikap boros energi dan produksi sampah.

Pesan itu mengemuka dalam Ngaji Lingkungan bertema Puasa sebagai Etika Pengendalian Konsumsi Energi yang digelar secara daring, Sabtu (14/2). Kegiatan ini diikuti 89 peserta dari jajaran LLHPB ‘Aisyiyah tingkat pusat, wilayah, hingga daerah se-Indonesia.

Ketua LLHPB PP ‘Aisyiyah, Rahmawati Husein, menegaskan bahwa Ramadan harus dimaknai lebih luas dari sekadar ritual spiritual. Menurut dia, bulan puasa adalah momentum membangun kesadaran ekologis.

“Ramadan adalah momentum untuk mengendalikan diri, memperbanyak amal, dan meningkatkan kesalehan, termasuk kesalehan ekologis melalui pengurangan sampah dan penghematan energi,” ujarnya.

Rahmawati mengingatkan, selama Ramadan volume sampah cenderung melonjak hingga sekitar 20 persen. Peningkatan itu umumnya dipicu pola konsumsi berlebihan, terutama saat berbuka.

Karena itu, LLHPB PP ‘Aisyiyah menyerukan gerakan Green ‘Aisyiyah. Di antaranya, tidak berlebihan dalam menyediakan takjil, menghindari plastik sekali pakai, membawa wadah sendiri saat membeli makanan berbuka, hingga menghemat air wudhu dan listrik.

Baca Juga  Semarak Ramadan 1447 H, BSI Ajak 4.500 Anak Yatim Buka Puasa Bersama

Ia juga mendorong penggunaan transportasi ramah lingkungan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau kendaraan umum untuk aktivitas jarak dekat. “Semua itu bagian dari ikhtiar mengurangi konsumsi energi dan emisi,” katanya.

Senada, Ketua PP ‘Aisyiyah Masyitoh Chusnan menyebut puasa sebagai jihad akbar, yakni perjuangan besar melawan hawa nafsu, termasuk keserakahan dalam konsumsi.

“Puasa adalah jihad besar melawan dorongan keserakahan manusia. Ramadan menjadi ajang untuk mengendalikan diri, termasuk dalam konsumsi dan penggunaan energi,” tegasnya.

Menurut dia, menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. “Lingkungan akan berbuat baik kepada kita jika kita berbuat baik kepada lingkungan,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Pemberdayaan Masyarakat Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah, Prof. Mohammad Nurcholis, menyoroti kaitan erat antara gaya hidup modern, konsumsi energi, dan perubahan iklim.

Ia menjelaskan, energi bukan hanya soal listrik. Proses produksi makanan, distribusi, hingga mobilitas sehari-hari juga menyedot energi dalam jumlah besar.

“Setiap aktivitas kita mengonsumsi energi, termasuk dalam menyediakan makanan berbuka atau mobilitas harian. Karena itu, puasa menjadi pendidikan moral untuk menggunakan energi secara efisien dan tidak berlebihan,” jelasnya.

Baca Juga  Apresiasi Kinerja Polda Aceh, SPMA Sebut Kamtibmas Ramadan hingga Lebaran Kondusif

Ia juga mengingatkan soal keadilan energi. Di tengah tingginya konsumsi sebagian kelompok masyarakat, masih banyak warga yang akses energinya terbatas.

Sebagai penutup, moderator Prof. Yeni Widowaty menekankan bahwa Ramadan harus menjadi titik balik perubahan gaya hidup. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membangun tanggung jawab terhadap bumi.

“Jika dilakukan secara konsisten, ini bisa menjadi kontribusi penting dalam membangun budaya ramah lingkungan di keluarga dan komunitas,” tandasnya.