Ketua PWM Jatim Tegaskan Menjaga Alam Bagian dari Tugas Muslim sebagai Khalifah

MAKLUMAT — Ketua PWM Jatim, Prof Sukadiono menegaskan bahwa menjadi muslim tidak cukup hanya menjalankan ibadah personal. Seorang muslim, menurutnya juga memikul tanggung jawab menjaga alam dan mencegah kerusakan lingkungan sebagai bagian dari keimanan.

Hal itu ia sampaikan dalam Kajian Ramadan PWM Jatim yang digelar di kampus Universitas Muhammadiyah Jember, Sabtu (21/2/2026). Kajian tersebut mengangkat tema Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan.

Sukadiono mengingatkan bahwa isu lingkungan bukan persoalan jauh dari kehidupan beragama, melainkan bagian yang menyatu dalam ajaran Islam. Oleh karenanya tema ini dipilih. Pemilihan tema juga berkaitan dengan bencana banjir yang melanda Pulau Sumatera beberapa waktu lalu.

“Tentu kita tahu tiga bulan ini kita selalu mendengar berita dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Semua ini terkait dengan masalah kerusakan hutan, deforestasi,” katanya.

Ia menjelaskan, deforestasi yang terjadi di sejumlah daerah telah memicu berbagai dampak negatif. Hutan yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan justru dialihfungsikan tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekologis.

Karena itu, ia mendorong pendekatan ekoteologi sebagai upaya mengintegrasikan ajaran Islam dengan kesadaran lingkungan. Menurutnya, konsep tersebut berkaitan langsung dengan tugas manusia sebagai khalifah di bumi.

Baca Juga  LPHU PWM Jatim Himpun Usul Solutif di Rakorwil untuk Perkuat Pembinaan Haji dan Umrah

Sukadiono mengutip kisah dalam QS Al-Baqarah ayat 30, ketika Allah Swt memberitahu malaikat tentang rencana penciptaan manusia sebagai khalifah. Dalam ayat itu, malaikat mempertanyakan potensi kerusakan yang mungkin ditimbulkan manusia, namun Allah menegaskan bahwa Dia mengetahui apa yang tidak diketahui malaikat.

“Tugas seorang khalifah adalah merawat, menjaga, dan tentu juga bagaimana keberlangsungan alam di sekitar kita agar jangan sampai dirusak,” ujar Sukadiono.

Ia menambahkan, kerusakan lingkungan di darat dan laut saat ini banyak terjadi akibat ulah manusia sendiri. Eksploitasi berlebihan, polusi, serta penggundulan hutan menjadi faktor utama yang memperparah kondisi tersebut. Ia mengaitkan situasi itu dengan peringatan dalam QS Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan yang timbul karena perbuatan manusia.

Menurutnya, berbagai bencana yang muncul seharusnya menjadi pengingat agar manusia kembali menata sikap dan perilaku terhadap alam. Ia mengajak umat Islam memulai dari langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari ibadah yang berdampak luas.

“Kita mulai dari yang sepele. Nanti kalau pas buka puasa, bagaimana kita bisa menjaga kebersihan. Tidak membuang sampah sembarangan. Itu saya kira bagian dari ibadah ekoteologi. Kalau sering kita lakukan, akan berdampak,” jelasnya.​

Baca Juga  MPM PWM Jatim Kukuhkan Pengurus JATAM, JALAMU, dan Asosiasi Purna Migran di Tapal Kuda