MAKLUMAT — Malam turun pelan di Yogyakarta. Angin berembus tipis di kampung Kauman, sementara di sebuah rumah sederhana, Kiai Haji Ahmad Dahlan terbaring lemah. Tubuhnya kurus setelah berbulan-bulan sakit. Napasnya pendek. Tetapi satu hal yang tak berubah: pikirannya masih tertuju pada Muhammadiyah.
Tanggal menunjukkan Jumat malam Sabtu, 7 Rajab 1341 Hijriah, bertepatan 23 Februari 1923. Malam itu, sosok Sang Pencerah akhirnya berpulang. Kepergian pendiri Muhammadiyah tersebut bukan sekadar duka keluarga.
Ia meninggalkan jejak panjang perjuangan, pesan tentang tawakal, serta teladan cinta rumah tangga yang kelak menjadi bagian dari cerita besar gerakan Islam modern di Indonesia.
Jauh sebelum malam duka itu, kisah Dahlan dan Nyai Siti Walidah sudah dimulai sejak 1889. Walidah masih 17 tahun ketika dinikahkan. Selisih usia mereka hanya beberapa tahun. Pernikahan berlangsung sederhana, hasil kesepakatan singkat dua keluarga ulama di Kauman.
Dari rumah tangga sederhana itu lahir enam anak. Namun kebahagiaan keluarga juga pernah diuji. Putri pertama mereka, Djohanah, meninggal lebih dahulu.
Dalam keseharian, Dahlan bukan hanya dikenal sebagai ulama pembaru, tetapi juga ayah yang mengajarkan keteguhan iman bahkan di tengah kegelisahan keluarga.
Suatu ketika, saat anak mereka Irfan Dahlan sakit keras, Nyai Walidah meminta Dahlan pulang dari mengajar santri. Ia pulang, mendekati tempat tidur anaknya, mencium keningnya, lalu berpesan agar bertawakal kepada Allah. Setelah itu, ia kembali mengajar.
Ia menenangkan istrinya: hidup dan mati bukan karena manusia menunggu atau meninggalkan. Semua berada di tangan Allah. Kalimat itu kelak terasa seperti cermin dari cara Dahlan menghadapi ajalnya sendiri.
Menjelang awal 1923, penyakitnya semakin keras. Tubuhnya melemah. Ia lebih sering berbaring. Dokter, sahabat, dan keluarga memintanya beristirahat total dan berhenti memikirkan Muhammadiyah.
Namun Dahlan tetap Dahlan. Bahkan ketika Nyai Walidah sendiri membujuknya berhenti, ia menjawab dengan nada lembut bercampur humor khas seorang suami. Jika sebelumnya “setan menjelma dokter” yang melarangnya memikirkan Muhammadiyah, katanya, kini “setan memperalat istrinya.”
Candaan ringan itu justru membuat Nyai Walidah tak kuasa menahan tangis. Ia membaca istighfar berulang-ulang. Ia paham, bagi suaminya, Muhammadiyah bukan pekerjaan — melainkan amanah hidup.
Memasuki Januari 1923, kondisinya makin memburuk. Tetapi dari ranjang sakit, Dahlan masih meminta laporan pembangunan amal usaha: Rumah Miskin, sekolah, musala, hingga rencana pembangunan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah pertama di Yogyakarta.
Rumah Miskin diresmikan 13 Januari tanpa kehadirannya. Pada masa itu pula seorang dokter dari Malang, Sumowidagdo, datang tanpa undangan ke rumahnya. Ia menyatakan ingin bergabung dengan Muhammadiyah dan membantu mendirikan balai pengobatan.
Beberapa hari sebelum rencana pembangunan rumah sakit PKU, pada suatu malam, Dahlan memanggil Nyai Walidah. Suaranya pelan. Ia merasa hidupnya tak lama lagi. Tetapi ia ingin memastikan fondasi amal besar Muhammadiyah sudah diletakkan, agar generasi setelahnya tidak kesulitan menyempurnakan.
Tak lama kemudian, malam 23 Februari 1923, Kiai Ahmad Dahlan wafat. Jenazahnya dimandikan malam itu juga, disemayamkan di Langgar Kidul, lalu dimakamkan di Karangkajen pada keesokan hari. Sejarah mencatat, yang berhenti malam itu hanya seorang manusia. Yang berjalan terus adalah gagasannya.
Pesan tentang tawakal. Keteguhan menjaga amanah. Dan keyakinan bahwa amal nyata untuk umat harus melampaui usia pendirinya.
Lebih dari seabad kemudian, nama Ahmad Dahlan tetap hidup — bukan hanya di buku sejarah, tetapi di sekolah, rumah sakit, masjid, dan jutaan warga Muhammadiyah yang meneruskan jejaknya.***












