Bagaimana Lansia Menyesuaikan Pola Makan dengan Kondisi Kesehatan saat Puasa Ramadan?

Direktur RSU Assakinah Medika dr. Adhi Candra Qomaruzzaman saat memberikan keterangan kepada awak media, Kamis (26/2/2026). (Foto: Kholid/ IST)

MAKLUMAT — Berbagai cara dilakukan oleh pasien lanjut usia (lansia) dalam menunaikan ibadah puasa di bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah. Namun, pola makan dan minum perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.

Direktur Rumah Sakit Umum (RSU) Assakinah Medika Sukodono, AUMKES PCM Sepanjang, dr Adhi Candra Qomaruzzaman, mengungkapkan secara umum lansia terbagi dalam beberapa kategori kesehatan, yakni lansia sehat, lansia dengan hipertensi, serta lansia dengan diabetes. Masing-masing membutuhkan pengaturan asupan berbeda saat sahur dan berbuka.

“Lansia yang sehat pada dasarnya boleh mengonsumsi makanan seperti biasa saat puasa, tetapi tetap perlu memperhatikan kecukupan kalsium dan protein untuk menjaga kekuatan tulang dan otot,” kata dr Candra kepada Maklumat.id, Kamis (26/2/2026).

Ia menyarankan sumber protein dan kalsium seperti putih telur, ikan, serta susu rendah lemak tetap dikonsumsi saat sahur maupun berbuka untuk menjaga massa otot lansia.

Sementara, untuk lansia dengan tekanan darah tinggi, dr Candra menekankan pentingnya membatasi natrium atau garam.

“Yang paling utama bagi lansia hipertensi adalah menghindari makanan asin karena dapat memicu kenaikan tekanan darah. Sebaliknya, konsumsi buah tinggi kalium seperti pisang dan semangka tanpa tambahan gula bisa membantu menjaga tekanan darah tetap stabil,” terangnya.

Baca Juga  Semarak Ramadan 1447 H, BSI Ajak 4.500 Anak Yatim Buka Puasa Bersama

Selain itu, sambung dr Candra, agar makanan olahan, ikan asin, kerupuk, dan camilan tinggi garam dibatasi selama Ramadan.

Lansia Diabetes: Kendalikan Gula Harian

Sementara itu, pada lansia dengan diabetes, pengaturan gula menjadi kunci utama. Asupan gula tambahan dari minuman kemasan, sirup, maupun kue manis sebaiknya dibatasi ketat.

“Batas konsumsi gula tambahan untuk penderita diabetes sekitar 4 sendok makan (50 – 54 gram) per hari. Kalau ingin rasa manis, bisa menggunakan pemanis alami seperti stevia yang tidak meningkatkan gula darah,” bebernya.

dr Candra menyatakan, konsumsi kopi dan teh masih diperbolehkan dalam jumlah terbatas, maksimal dua cangkir kecil per hari tanpa gula. Namun minuman berkafein sebaiknya tidak diminum saat sahur karena bersifat diuretik.

“Kopi dan teh bisa meningkatkan pengeluaran cairan tubuh, sehingga kalau diminum saat sahur justru membuat lansia lebih cepat haus dan berisiko dehidrasi saat puasa,” tandasnya.

Potensi Risiko Jika Tidak Patuh Diet

Menurut dr Candra, lansia yang tidak menjaga pola makan sesuai penyakitnya berisiko mengalami keluhan saat puasa. Pada hipertensi, keluhan yang sering muncul antara lain kaki bengkak dan mudah sesak. Sedangkan pada diabetes, pasien kerap merasa lemas dan cepat lelah menjelang siang karena gula darah tidak stabil.

Baca Juga  Fokus Kerja 2026, Sri Wahyuni: DPRD Jatim Prioritaskan Penguatan Pendidikan dan Kesehatan

“Karena itu, lansia tetap boleh berpuasa selama kondisinya stabil, tetapi pola makan sahur dan berbuka harus disesuaikan dengan penyakitnya. Konsultasi ke dokter sebelum Ramadan juga dianjurkan,” pungkas dr Candra.