MAKLUMAT – Surabaya kembali menunjukkan denyut Ramadan yang semarak. Setiap sore, warga memadati berbagai titik untuk berburu takjil sekaligus menikmati suasana ngabuburit. Pasar Ramadan Surabaya tidak hanya menghadirkan makanan berbuka yang ramah dompet, tetapi juga menjadi ruang sosial yang mempertemukan UMKM dengan ribuan pembeli.
Dari kawasan kampung hingga area pusat perbelanjaan, geliat ekonomi mikro tampak hidup. Dilansir Tripzilla, berikut sembilan pasar Ramadan terpopuler di Surabaya 2026 yang selalu dipadati pengunjung.
1. Karang Menjangan, Ikon War Takjil Warga Surabaya
Kawasan Karang Menjangan atau yang akrab disebut Pasar Karmen selalu menjadi magnet utama. Setiap sore, pedagang berjejer menjajakan kolak, telur gulung, pukis, risol, hingga es kopyor. Harga yang terjangkau membuat pembeli kerap kalap.
Lokasi ini menegaskan bahwa pasar takjil berbasis komunitas tetap menjadi primadona meski tren kuliner terus berubah.
2. Kampung Kue Rungkut, Surga Jajanan Tradisional
Di kawasan Rungkut, Kampung Kue menghadirkan nuansa berbeda. Warga menjual aneka jajanan pasar seperti nagasari, carabikang, onde-onde, hingga kue basah klasik yang jarang ditemukan di pusat perbelanjaan modern.
Model pemberdayaan warga ini memperlihatkan kekuatan ekonomi berbasis rumah tangga yang bertahan lintas generasi.
3. Taman Bungkul, Ngabuburit Sekaligus Wisata Kuliner
Sebagai ruang publik populer, Taman Bungkul berubah menjadi pusat kuliner dadakan saat Ramadan. Pelaku UMKM memanfaatkan tingginya mobilitas warga untuk menjual kolak, bubur, gorengan, hingga minuman segar.
Konsep ruang terbuka membuat kawasan ini tetap menjadi pilihan keluarga yang ingin berbuka bersama setelah bersantai sore hari.
4. Pasar Malam Kodam Brawijaya, Lengkap dari Kuliner hingga Fashion
Pasar Malam Kodam Brawijaya menawarkan pengalaman lebih luas. Selain takjil seperti dimsum, crepes, hingga tteokbokki, pedagang juga menjual pakaian dan aksesori.
Model pasar tematik seperti ini menunjukkan pergeseran fungsi pasar Ramadan dari sekadar pusat makanan menjadi pusat gaya hidup musiman.
5. Masjid Al-Akbar Surabaya, Pusat Takjil Bernuansa Religi
Area sekitar Masjid Al-Akbar selalu ramai menjelang berbuka. Pengunjung memadukan ibadah dengan aktivitas berburu takjil. Bubur, jasuke, risol, hingga es dawet menjadi favorit.
Kawasan ini menegaskan bahwa pasar Ramadan tumbuh alami di sekitar pusat aktivitas keagamaan.
6. Royal Plaza Surabaya, Area Parkir yang Disulap Jadi Surga Takjil
Area parkir Royal Plaza berubah menjadi sentra kuliner musiman. Pengunjung mal memanfaatkan momen belanja sambil membeli takjil. Pilihan makanan berat hingga minuman segar tersedia dengan harga bersaing.
Fenomena ini memperlihatkan integrasi pusat perbelanjaan modern dengan ekonomi rakyat saat Ramadan.
7. Pasar Atom Surabaya, Legendaris dan Tak Pernah Sepi
Pasar Atom selalu menghadirkan pasar Ramadan yang ramai di dalam maupun luar area. Pengunjung disarankan datang lebih awal untuk mendapatkan pilihan lengkap.
Sebagai pusat perdagangan lama di Surabaya, Pasar Atom membuktikan daya tahan pasar tradisional di tengah persaingan ritel modern.
8. Jembatan Suramadu (Suramadu View Point), Takjil dengan Panorama Senja
Di sekitar Suramadu View Point, pedagang kaki lima memanfaatkan panorama senja untuk menarik pembeli. Jajanan pasar, takoyaki, dimsum, hingga minuman dingin laris manis.
Kombinasi wisata dan kuliner menjadikan kawasan ini destinasi ngabuburit generasi muda.
9. Makam Sunan Ampel, Wisata Religi Sekaligus Sentra Takjil
Kawasan religi Sunan Ampel menghadirkan pilihan takjil khas Timur Tengah seperti kebab dan roti maryam, berdampingan dengan jajanan tradisional Nusantara.
Keberagaman kuliner di sini mencerminkan akulturasi budaya yang telah lama tumbuh di Surabaya.
Pasar Ramadan di Surabaya bukan sekadar tradisi musiman. Fenomena ini memperlihatkan tiga hal penting. Pertama, Ramadan menjadi momentum kebangkitan UMKM. Banyak pelaku usaha rumahan memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan pendapatan harian.
Kedua, ruang publik dan pusat belanja modern beradaptasi dengan budaya lokal. Mall, taman kota, hingga kawasan religi bersinergi dengan pedagang kecil. Ketiga, perilaku konsumsi masyarakat bergeser ke pengalaman. Warga tidak hanya membeli makanan, tetapi juga mencari suasana, kebersamaan, dan spot foto menarik.
Dengan sebaran lokasi yang merata, pasar Ramadan Surabaya 2026 menunjukkan tradisi berburu takjil tetap relevan sekaligus menjadi penggerak ekonomi mikro di Kota Pahlawan. Ramadan bukan hanya soal ibadah, tetapi juga tentang denyut sosial dan ekonomi yang bergerak setiap sore menjelang azan Magrib.












