MAKLUMAT — Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Kamala Harris, melontarkan kritik tajam atas serangan militer terkoordinasi yang dilakukan AS bersama Israel ke Iran, yang disebutnya sebagai upaya paksa perubahan rezim.
Menurutnya, Presiden AS Donald Trump telah menyeret rakyat AS ke dalam perang yang tidak mereka inginkan. “Izinkan saya memperjelas. Saya menentang perang perubahan rezim di Iran, dan pasukan kita ditempatkan dalam bahaya demi perang pilihan Trump,” tulis Harris di akun X pribadinya, dikutip Senin (2/3/2026).
Politikus Partai Demokrat itu menilai agresi yang dipimpin Trump terhadap Iran sebagai pertaruhan berbahaya dan tidak diperlukan. Ia bahkan menyinggung pernyataan Trump saat kampanye Pilpres 2024, yang menurutnya bertolak belakang dengan kebijakan yang ditempuhnya saat ini.
Termasuk, kata dia, soal serangan terhadap program nuklir Iran tahun lalu, yang dinilai Harris sebagai suatu kebohongan. “Tahun lalu, dia berkata, ‘Kita telah menghancurkan’ program nuklir Iran. Itu juga bohong,” sorotnya.
Di tengah eskalasi konflik, Harris menyebut dirinya dan sang suami, Doug Emhoff, terus mendoakan keselamatan prajurit pria dan wanita AS yang bertugas di lapangan. Namun ia menegaskan bahwa para prajurit berhak memiliki Panglima Tertinggi yang mampu mengambil keputusan perang dan damai dengan disiplin serta pertimbangan matang.
Harris juga melabeli serangan tersebut sebagai langkah yang “tidak bijaksana, tidak dapat dibenarkan, dan tidak didukung oleh rakyat Amerika”. Ia menyoroti bahwa tindakan militer itu dilakukan tanpa persetujuan Kongres.
“Tidak ada keraguan dalam penentangan kami terhadap perang pilihan Donald Trump, dan Kongres harus menggunakan semua kekuatan yang tersedia untuk mencegahnya lebih jauh melibatkan kita dalam konflik ini,” tegas Harris.
Diketahui, perang AS-Israel dan Iran pecah pada Sabtu (28/2/2026) lalu ketika militer AS dan Israel membombardir ibu kota Iran, Teheran, dan beberapa kota lain di negara tersebut. Pemimpin Tertinggi Iran (Rahbar) Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah pejabat militer Iran tewas dalam insiden tersebut.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran juga langsung merespons dengan meluncurkan serangan drone hingga rudal-rudal balistiknya ke Israel dan berbagai aset pangkalan militer AS di Timur Tengah yang tersebar di beberapa negara. Ledakan dikabarkan terjadi di Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, Irak, Yordania, hingga Bahrain.
Hingga saat ini, aksi saling “jual-beli” serangan masih terjadi antara AS-Israel dan Iran. IRGC kabarnya juga mulai menyisir Selat Hormuz, jalur paling vital yang dilintasi sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.













