Jangan Lupa! Malam Ini Gerhana Bulan Total, Begini Tata Cara Salat Gerhana

Ilustrasi gerhana bulan. (pixabay)

MAKLUMAT — Fenomena gerhana bulan total bakal terjadi malam ini, Selasa (3/3/2026) di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu ibadah yang dianjurkan bagi umat Islam pada saat tersebut adalah melaksanakan Salat Khusuf atau salat gerhana bulan.

Gerhana bulan kali ini cukup istimewa lantaran terjadi bertepatan dengan momentum sekitar pertengahan bulan suci Ramadan, tepatnya 14 Ramadan 1447 Hijriah.

Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PP Muhammadiyah secara resmi telah mengeluarkan Maklumat Nomor 01/MLM/I.1/E/2026 tentang Salat Gerhana Bulan Total yang ditandatangani Ketua MTT PP Muhammadiyah Dr H Hamim Ilyas MAg dan Sekretaris Muhamad Rofiq Muzakkir PhD, diperkirakan gerhana bulan tersebut bakal melintasi seluruh wilayah Indonesia dengan rincian fase waktu berikut:

  • Gerhana Bulan Sebagian: mulai 16:50:00 WIB / 17:50:00 WITA / 18:50:00 WIT
  • Gerhana Bulan Total: mulai 18:04:26 WIB / 19:04:26 WITA / 20:04:26 WIT
  • Puncak Gerhana Bulan: 18:33:37 WIB / 19:33:37 WITA / 20:33:37 WIT
  • Gerhana Bulan Total: berakhir 19:02:45 WIB / 20:02:45 WITA / 21:02:45 WIT
  • Gerhana Bulan Sebagian: berakhir 20:17:10 WIB / 21:17:10 WITA / 22:17:10 WIT.

Dalam keterangannya, MTT PP Muhammadiyah juga mengajak umat Islam di tanah air untuk melaksanakan ibadah salah gerhana bulan (Salat Khusuf).

“Waktu Salat Khusuf sejak Gerhana Sebagian mulai di wilayah masing-masing (setelah terbenam matahari/Magrib) sampai dengan waktu Gerhana Sebagian berakhir atau ketika Bulan terbenam,” bunyi maklumat tersebut.

Selain melaksanakan Salat Khusuf, MTT PP Muhammadiyah juga mengimbau untuk memperbanyak doa, zikir, serta sedekah.

“Orang yang dapat mengerjakan Salat Gerhana adalah mereka yang mengalami gerhana atau berada di kawasan yang dilintasi gerhana. Orang yang berada di kawasan yang tidak dilintasi gerhana tidak perllu mengerjakan Salat Gerhana.”

Dalam tuntunan yang dilampirkan, ditegaskan bahwa gerhana bulan adalah peristiwa astronomi yang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah, dan tidak berkaitan dengan nasib buruk seseorang atau suatu negara. Oleh karena itu, peristiwa ini harus disikapi secara ilmiah dan dituntunkan untuk berzikir melalui jalur ibadah.

Baca Juga  Tafsir At-Tanwir: Menghidupkan Etos, Membangun Peradaban Islam

Lalu, bagaimana tata cara untuk melaksanakan Salat Khusuf alias salat gerhana bulan?

Tata Cara Salat Gerhana

1. Diserukan “Ash-Shalatu Jami‘ah”

Jika terjadi gerhana matahari atau bulan, imam menyerukan ash-shalatu jami‘ah. Salat dilaksanakan berjamaah tanpa azan dan tanpa ikamah.

2. Dua Rakaat, Empat Rukuk

Salat gerhana terdiri dari dua rakaat. Namun, pada setiap rakaat terdapat: dua kali berdiri (qiyam), dua kali rukuk, dua kali sujud.

3. Bacaan Dikeraskan (Jahar)

Imam membaca Surah Al-Fatihah dan surah panjang dengan suara nyaring. Hal ini didasarkan pada riwayat Aisyah ra. bahwa Nabi Muhammad Saw men-jahar-kan bacaan dalam salat gerhana.

4. Rincian Gerakan Salat

Urutannya mulai dari:

  • takbiratul ihram;
  • membaca Al-Fatihah dan surah panjang;
  • rukuk panjang;
  • i‘tidal lalu berdiri kembali;
  • membaca Al-Fatihah dan surah (lebih pendek dari sebelumnya);
  • rukuk kedua (lebih singkat dari rukuk pertama);
  • i‘tidal lalu sujud dua kali;
  • selanjutnya rakaat kedua dilakukan dengan pola yang sama;
  • tasyahud dan salam.

Para ulama seperti Asy-Syafi’i, Ibnu Qudamah, dan lainnya menegaskan bahwa Al-Fatihah tetap dibaca pada setiap berdiri karena ia merupakan rukun salat.

Baca Juga  Kecam Serangan Israel ke Qatar, Prof Sudarnoto Minta OKI Bersatu dan Lakukan Tindakan Nyata

5. Khutbah Setelah Salat

Setelah salam, imam berdiri menyampaikan satu kali khutbah. Isinya berupa:

  • Pujian kepada Allah,
  • Penjelasan bahwa gerhana adalah tanda kebesaran-Nya,
  • Anjuran memperbanyak istigfar,
  • Dorongan bersedekah dan beramal saleh.

“Tidak ada dalil yang menyebut khutbah dilakukan dua kali sebagaimana khutbah Jumat.”

Waktu Pelaksanaan Salat Gerhana

Salat gerhana dilaksanakan sejak mulai terjadinya gerhana hingga berakhirnya. Nabi Muhammad Saw bersabda agar salat dilakukan “hingga matahari terang kembali.” (HR Muhammad al-Bukhari).

Maka:

  • Jika gerhana telah berakhir, tidak ada qadha.
  • Jika gerhana selesai saat salat masih berlangsung, salat disempurnakan dengan dipersingkat.
  • Jika matahari terbenam saat masih gerhana, waktu salat gerhana matahari berakhir.
  • Jika bulan gerhana namun matahari telah terbit, waktu salat gerhana bulan berakhir.

Siapa yang Melaksanakan?

Salat gerhana dilakukan oleh umat Islam yang berada di wilayah yang mengalami gerhana dan menyaksikannya secara langsung. Mereka yang tidak berada di kawasan terdampak tidak melaksanakannya. Pendapat tersebut juga ditegaskan oleh Ibn Taymiyyah dalam Majmu‘ al-Fatawa.

Perempuan pun dianjurkan mengikuti salat gerhana berdasarkan keumuman perintah dalam hadis-hadis tersebut.

“Salat gerhana bukan sekadar respons ritual terhadap fenomena alam, melainkan momentum refleksi spiritual. Gerhana adalah tanda kebesaran Allah, dan respons yang dianjurkan adalah memperbanyak zikir, doa, istigfar, serta amal kebajikan.”

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Baca Juga  Muhammadiyah dan Ikhtiar Pemerataan Dokter Nasional