Hentikan Israf di Ramadan, Islam Ajarkan Hemat Energi

Hentikan Israf di Ramadan, Islam Ajarkan Hemat Energi

MAKLUMAT — Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai waktu menahan lapar dan dahaga. Bulan suci ini juga menjadi momentum refleksi untuk mengendalikan diri dari perilaku berlebihan atau israf, termasuk dalam penggunaan energi sehari-hari.

Gagasan itu mengemuka dalam diskusi daring TEB Talks Special Ramadan yang digelar Transisi Energi Berkeadilan (TEB) bersama GreenFaith Indonesia, Kamis (5/3). Diskusi yang disiarkan melalui Instagram Live di akun @greenfaith.id tersebut menghadirkan Ustaz Niki Alma Febriana Fauzi dari GreenFaith Indonesia. Acara dipandu Annisa Dian Ndari dari TEB.

Dalam paparannya, Niki menjelaskan bahwa ajaran Islam sejak awal telah menekankan pentingnya menghindari sikap berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya. Ia mencontohkan hadis tentang Rasulullah yang menegur seorang sahabat karena menggunakan air secara berlebihan saat berwudu.

“Bahkan ketika berwudu di sungai yang airnya mengalir, Rasulullah tetap mengingatkan agar tidak menggunakan air secara berlebihan. Ini menunjukkan prinsip hemat dan tidak melampaui batas sangat kuat dalam ajaran Islam,” ujarnya.

Menurut Niki, pesan tersebut sangat relevan dengan semangat Ramadan yang menekankan pengendalian diri dan menjauhi sikap berlebihan. Nilai itu juga dapat diterapkan dalam penggunaan energi agar manusia tidak terjebak dalam perilaku boros.

Baca Juga  Jeda Ramadan: Filantropi Islam

Selama ini, lanjut dia, kemajuan kerap diidentikkan dengan pembangunan fisik yang masif serta konsumsi energi dalam jumlah besar. Padahal dalam perspektif Islam, kemajuan tidak selalu diukur dari kelimpahan konsumsi.

“Dalam ajaran Islam, kemajuan justru berkaitan dengan keseimbangan antara manusia dan alam, antara kebutuhan dan keberlanjutan,” jelasnya.

Sebagai salah satu tim penyusun buku Fikih Transisi Energi Berkeadilan, Niki menambahkan bahwa manusia memiliki dua mandat sekaligus, yakni memakmurkan bumi sekaligus menjaga keseimbangannya. Eksploitasi sumber daya alam tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan berpotensi memicu berbagai krisis ekologis.

Ia juga menyoroti fenomena konsumsi masyarakat selama Ramadan yang kerap bertentangan dengan semangat pengendalian diri. Kebiasaan membeli makanan berlebihan saat berbuka puasa, misalnya, sering berujung pada meningkatnya sampah makanan.

“Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk melatih kesederhanaan dan kesadaran dalam menggunakan sumber daya,” tegasnya.

Menurut Niki, perubahan menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan dapat dimulai dari langkah sederhana. Misalnya membeli barang sesuai kebutuhan, menghemat listrik dan air, serta mengurangi pola konsumsi berlebihan.

“Langkah kecil yang dilakukan banyak orang dapat menjadi bagian dari upaya kolektif menghadapi krisis lingkungan,” ujarnya.

Baca Juga  Tidak Semua Sama: Meneguhkan Islam Wasathiyah dalam Bingkai Kebangsaan

Namun, dia menegaskan tanggung jawab tersebut tidak hanya berada pada individu. “Kesadaran kolektif juga perlu dibangun melalui keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, hingga kebijakan pemerintah yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan,” tandasnya.