Haedar Nashir: Muhammadiyah Harus Dewasa Sikapi Perbedaan, Tak Perlu Baper

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir MSi, saat silaturahmi Idulfitri 1447 H. (Foto: Medkom PP Muh)

MAKLUMAT — Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir MSi, mengapresiasi kedewasaan Bangsa Indonesia, khususnya warga Muhammadiyah, dalam menyikapi perbedaan di tubuh umat Islam, termasuk terkait perbedaan penetapan Idulfitri 1447 Hijriah lalu.

Hal itu ia sampaikan dalam Silaturahmi Idulfitri 1447 Hijriah di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (26/3/2026). Selain Haedar Nashir, kegiatan tersebut juga dihadiri jajaran pimpinan pusat yang lain, mulai Abdul Mu’ti, Agung Danarto, Saad Ibrahim, Syafiq A Mughni, Syamsul Anwar, Irwan Akib, Busyro Muqoddas, Agus Taufiqurrahman, serta Salmah Orbayinah.

“Jadi ini dinamika dan membuat kita makin matang dan dewasa. Jadi tidak perlu baper juga kita Muhammadiyah karena apa? Karena kita ini organisasi yang sudah lahir lebih tua, jadi ya harus lebih dewasa lah,” ujar Haedar.

Meski begitu, Haedar menyayangkan adanya kasus pelarangan penyelenggaraan Salat Idulfitri oleh Muhammadiyah di beberapa daerah pada 20 Maret 2026 lalu. Ia menilai, perbedaan seharusnya disikapi secara bijak, termasuk oleh aparat.

“Biar pun patut disayangkan saat itu katanya ada aparat kecamatan dan dari kelurahan yang ada di tempat itu, dan ketika penghadangan itu terjadi, justru malah ikut supaya warga Muhammadiyah tidak melaksanakan Idulfitri di tempat itu,” ungkapnya.

Baca Juga  Media AfiliasiMu Dinilai Bisa Jadi Amal Usaha, Ada Gagasan Model Holding

Haedar juga menegaskan bahwa dalam spektrum yang lebih luas, penetapan Idulfitri 1447 H yang tidak jatuh pada 21 Maret 2026 bukan hanya dilakukan Muhammadiyah, melainkan juga oleh sejumlah organisasi kemasyarakatan lainnya.

Haedar menambahkan, respons publik di media sosial justru menunjukkan banyak dukungan kepada Muhammadiyah. Menurutnya, hal itu tidak lepas dari sikap sebagian pihak yang dinilai menekan Muhammadiyah, yang selama ini membawa gagasan pembaruan untuk kemaslahatan umat dan kemanusiaan.

Senada, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mendorong warga Muhammadiyah untuk lebih terbuka dalam menyampaikan pandangan di ruang publik, dengan tetap mengedepankan argumentasi yang kuat.

“Semakin masyarakat itu dibiasakan untuk menyampaikan pandangan-pandangan yang didasari oleh argumen dan dalil-dalil yang kuat, itu ternyata masyarakat akan semakin terbuka dan tidak memandang perbedaan itu sebagai sesuatu yang seharusnya menimbulkan perpecahan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pilihan keagamaan Muhammadiyah merupakan hasil ijtihad yang didasarkan pada dalil dan argumentasi yang kokoh.

“Karena itu warga persyarikatan Muhammadiyah jangan ragu untuk menyampaikan paham agama Muhammadiyah ke ruang publik,” sebut pria yang juga menjabat Mendikdasmen RI itu.