Halal Bihalal Unik, SD Muhammadiyah 24 Surabaya Kenalkan Jajan Tradisional Lewat Permainan Interaktif

Halal Bihalal SD Muhammadiyah 24 Surabaya pada Sabtu (28/3/2026). (Foto: Dini/ IST)

MAKLUMAT — Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Surabaya menggelar kegiatan Halal Bihalal yang menarik, Sabtu (28/3/2026). Tak hanya menjadi ajang silaturahmi dan saling memaafkan, kegiatan dikonsep melalui permainan interaktif bertema jajan tradisional.

Kegiatan diawali dengan sesi silaturahmi dan saling maaf memaafkan. Kepala SD Muhammadiyah 24 Surabaya, Norma Setyaningrum MPd, menekankan pentingnya budaya memaafkan sebagai bagian dari ajaran Rasulullah.

“Umunya memaafkan itu diminta dulu, pahala kemuliaan dapat dimulai dengan memaafkannya terlebih dahulu tanpa diminta, sebab boleh jadi dengan tindakan tersebut cara Allah memudahkan mengangkat derajat hambanya sekaligus sebagai tanda kemuliaan jiwa,” ujarnya.

Selain mempererat silaturahmi, kegiatan ini juga dirancang untuk meningkatkan kekompakan antar guru dan karyawan. Melalui permainan kelompok, peserta diajak menebak berbagai jenis jajan tradisional dengan mata tertutup.

Setiap kelompok dibagi berdasarkan jenjang kelas, dengan satu perwakilan bertugas menebak makanan yang diberikan oleh timnya. Permainan ini menguji kecepatan berpikir, strategi tim, serta kemampuan mengenali makanan melalui tekstur, rasa, dan aroma.

Menariknya, keberagaman istilah dalam menyebutkan makanan tradisional menjadi warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Para peserta diminta menyebutkan nama makanan sesuai dengan daerah asalnya.

Baca Juga  Hadirkan Ketua PP Muhammadiyah, PCM Candi Perkuat Ukhuwah dan Spiritualitas Dakwah Lewat Halal Bihalal

Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah ketika Ustazah Quni, guru kelas 3, menyebut makanan lepet dengan istilah “dengkul”. Istilah tersebut sontak mengundang tawa peserta, karena dalam Bahasa Jawa sehari-hari berarti lutut, namun justru membantu peserta lain mengingat jenis makanan tersebut.

Selain itu, berbagai makanan khas daerah turut diperkenalkan, seperti pudak dari Gresik, jenang dari Kudus, hingga kemplang dan lainnya.

Suasana semakin meriah saat dua tim saling berkompetisi untuk meraih skor tertinggi. Tim pemenang mendapatkan apresiasi berupa uang tunai Rp10.000 untuk setiap anggota.

Di akhir kegiatan, seluruh peserta menikmati hidangan jajan tradisional bersama, sekaligus diperbolehkan membawa pulang makanan yang tersedia.

Norma berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran tentang pentingnya kerja sama dalam mencapai tujuan bersama.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan dalam sebuah tim tidak ditentukan oleh individu semata, melainkan oleh kekompakan dan saling melengkapi antar anggota, termasuk dalam konteks dunia pendidikan.