MAKLUMAT — Malam itu, 20 Maret 2026, hari pertama Idulfitri 1447 Hijriah. Ditemani sayup syahdu suara takbir yang bersahutan, saya sekeluarga menjadi saksi pengalaman berharga saat dipersilakan bersilaturahmi ke kediaman seorang tokoh publik di kota kelahiran saya, sebuah kota religi di Kudus, Jawa Tengah.
Di tengah lanskap politik dan birokrasi yang kerap diwarnai simbol kemewahan serta jarak dengan rakyat, kehadiran sosok sederhana justru menjadi penyejuk. Dalam aransemen kehidupan yang mengalir sebagai bagian dari rakyat, publik Indonesia menemukan representasi itu dalam diri Abdul Mu’ti—seorang intelektual Muslim yang tidak hanya cerdas, tetapi juga konsisten mempraktikkan nilai kesahajaan dalam kehidupan sehari-hari.
Secara natural, beliau bercengkerama dan bersendau gurau dengan putra-putri kami yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah pertama. Interaksi itu mengalir apa adanya, tanpa kekikukan, menghadirkan dimensi kehangatan yang sulit digambarkan hanya dengan kata-kata.
Sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022–2027, dan kini mengemban amanah sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dalam kabinet Presiden Prabowo Subianto, Abdul Mu’ti berada di lingkar kekuasaan strategis. Namun, posisi tinggi itu tidak mengubah gaya hidupnya. Ia tetap tampil sederhana, bahkan dalam hal-hal yang tampak sepele, seperti memilih menggunakan transportasi umum—MRT atau ojek daring—baik sebelum maupun sesudah menjabat sebagai menteri.
Kesederhanaan Abdul Mu’ti bukanlah konstruksi pencitraan, melainkan refleksi dari habitus intelektual dan spiritual yang telah terbangun lama. Ia lahir dari tradisi keilmuan yang kuat, menempuh pendidikan di IAIN Walisongo, melanjutkan studi ke Flinders University di Australia, hingga meraih gelar doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Namun, alih-alih menjadikannya eksklusif, pendidikan tinggi tersebut justru membentuk kepekaan sosial dan empati yang mendalam.
Salah satu momen yang menyentuh publik adalah ketika sebuah video di media sosial memperlihatkan dirinya mengajari seorang siswi mengerjakan soal matematika di emperan rumah. Tanpa protokoler, tanpa formalitas. Hanya seorang guru, seorang murid, dan ruang sederhana yang menjadi saksi perjumpaan ilmu. Di situlah makna pendidikan menemukan bentuknya yang paling otentik: kehadiran, perhatian, dan ketulusan.
Dalam tradisi pemikiran Islam modern yang menjadi napas gerakan Muhammadiyah, kesederhanaan bukan sekadar gaya hidup, melainkan etika. Ia berkaitan erat dengan integritas, kejujuran, dan keberpihakan pada kemaslahatan publik. Abdul Mu’ti menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak harus hadir dengan jarak, melainkan dengan kedekatan. Bahwa otoritas tidak selalu ditunjukkan melalui simbol, tetapi melalui keteladanan.
Pendekatannya yang humanis juga terlihat dalam cara ia berbicara tentang pendidikan dan pluralisme. Ia tidak terjebak dalam retorika normatif, melainkan mengedepankan dialog, keterbukaan, serta penghargaan terhadap keberagaman. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, sikap ini bukan hanya relevan, tetapi juga mendesak.
Menariknya, Abdul Mu’ti tidak pernah menampilkan kesederhanaannya sebagai sesuatu yang luar biasa. Ia menjalani peran sebagai menteri dengan sikap “biasa saja”—sebuah ungkapan sederhana yang justru sarat makna. Di tengah kecenderungan menjadikan jabatan sebagai panggung prestise, ia memilih menjadikannya sebagai amanah. Tidak lebih, tidak kurang.
Di sinilah letak pelajaran penting bagi publik, terutama generasi muda dan para pemimpin masa depan. Kesederhanaan bukan tanda kekurangan, melainkan kekuatan. Ia membebaskan seseorang dari beban pencitraan dan membuka ruang bagi keaslian. Dalam kesederhanaan, seseorang lebih mudah mendengar, lebih dekat memahami, dan lebih jernih dalam mengambil keputusan.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Namun, yang kerap langka adalah mereka yang mampu memadukan kecerdasan dengan kerendahan hati. Sosok seperti Abdul Mu’ti mengingatkan kita bahwa menjadi besar tidak harus terlihat besar. Bahwa dalam dunia yang semakin riuh oleh simbol dan penampilan, kesahajaan justru menjadi bentuk keberanian yang paling sunyi, namun paling bermakna.
Tulisan ini bukan sekadar tentang seorang tokoh, melainkan tentang nilai yang ia wakili—nilai yang, apabila dirawat dan diteladani, dapat menjadi fondasi bagi kepemimpinan Indonesia yang lebih beradab, inklusif, dan membumi.***













