Viral! Bocah Jenius Bojonegoro Bongkar Fakta Prosesor Mengandung Emas

Prosesor Mengandung Emas

MAKLUMAT — Aksi Daffa, bocah asal Bojonegoro menjelaskan prosesor mengandung emas viral di media sosial dan bikin netizen kagum. Penjelasannya yang sederhana tapi ilmiah langsung menyita perhatian netizen terutama di media sosial Facebook.

Video yang viral tersebut dibagikan akun Facebook, Andik Sujianto. Bila merujuk keterangannya, Andik Sujianto merupakan warga Bojonegoro dan pernah sekolah di SMKN 3. Sosok anak bernama Daffa dalam video tersebut mampu menjelaskan konsep teknologi yang cukup rumit dengan bahasa yang mudah dipahami.

Penjelasan Daffa tampak sangat detail menguasai prosesor. Kolom komentar postingan Andik Pujianto ini pun dipenuhi pujian. Banyak yang menyebutnya jenius, bahkan ada yang bercanda menyebutnya, “calon pengganti almarhum Pak Habibie, “calon teknisi masa depan”. Namun, di balik viralnya video itu, penjelasan Daffa ternyata sesuai dengan fakta ilmiah.

Kenapa Prosesor Mengandung Emas?

Dalam dunia elektronik, emas memang digunakan pada prosesor. Tapi bukan berarti seluruh bagian terbuat dari emas.

Emas hanya digunakan sebagai lapisan tipis pada bagian tertentu, terutama di kaki-kaki atau konektor prosesor.

Fungsinya penting: emas tidak mudah berkarat dan mampu menghantarkan listrik dengan stabil. Karena itu, koneksi antar komponen jadi lebih awet dan minim gangguan.

Cuma Lapisan, Bukan Emas Murni

Bahan utama prosesor tetap silikon sebagai inti chip dan tembaga sebagai jalur penghantar listrik. Lapisan emas hanya berfungsi sebagai pelindung agar logam utama tidak mudah teroksidasi.

Dengan kata lain, prosesor memang mengandung emas, tapi hanya dalam jumlah sangat kecil. Fenomena ini juga memicu diskusi soal kemampuan anak di era digital. Banyak yang menilai akses informasi dari internet membuat anak-anak lebih cepat memahami hal-hal kompleks.

Tak sedikit netizen berharap kemampuan seperti yang ditunjukkan Daffa bisa terus dikembangkan dengan dukungan yang tepat.

Viralnya video ini jadi bukti, belajar sains kini bisa datang dari mana saja—bahkan dari penjelasan sederhana seorang anak SD. ***