MAKLUMAT — Suatu senja di Blitar, langit memendarkan cahaya jingga yang merambat perlahan di ufuk barat. Dari arah timur, sebuah bola api tampak melayang, bergerak menuju matahari yang hampir tenggelam. “Santet,” teriak seorang teman.
Kami masih anak-anak SMP, berdiri dengan rasa takjub sekaligus gentar. Tidak semua melihatnya, tetapi bagi yang sempat menyaksikan, peristiwa itu meninggalkan jejak yang sulit dihapus.
Orang-orang tua menyebut fenomena semacam itu sebagai banaspati. Orang Banyuwangi mengenalnya sebagai santet. Warga Banten lebih kenal dengan sebutan teluh atau tenung. Di sepanjang pesisir selatan Jawa, istilah-istilah itu hidup dalam ragam penyebutan, tetapi menyimpan makna yang sama: serangan yang tidak terlihat, yang datang tanpa tanda, tetapi meninggalkan akibat yang nyata.
Cerita tentang teluh tidak pernah benar-benar hilang. Ia bertahan seperti gosip yang belum terverifikasi, tetapi telanjur dipercaya. Orang tiba-tiba sakit, tubuh mendadak lemah, tanpa sebab yang jelas. Penjelasan rasional kerap absen, tetapi keyakinan tetap tumbuh. Dalam ruang gelap antara fakta dan kepercayaan itulah rasa takut bekerja—tanpa membutuhkan bukti.
Dulu, kisah-kisah itu hadir sebagai pengantar tidur, diselipkan di antara cahaya lampu temaram dan suara malam. Gambaran bola api yang melintas di langit menjadi bagian dari imajinasi kolektif. Kita mungkin tidak pernah melihatnya secara langsung, tetapi kita diajarkan untuk mempercayainya.
Kini, jika kita menoleh lebih jauh—ke Teheran, ke Tel Aviv—kita menemukan bentuk lain dari rasa takut yang serupa, tetapi dalam wujud yang lebih konkret. Sirene meraung, orang-orang berlarian, toko-toko menutup pintu, dan jalan-jalan mendadak lengang. Bahkan sebelum ledakan terjadi, ketakutan telah lebih dahulu hadir.
Sirene itu, dalam pengertian tertentu, menyerupai mantra. Ia tidak tampak, tetapi efeknya nyata. Pada titik ini, teluh seakan menemukan bentuk barunya.
Tahun 2026 menghadirkan ironi: sesuatu yang dahulu dianggap mitos kini tampil dalam bentuk teknologi modern. Di langit kawasan Teluk, teluh berganti nama menjadi drone dan rudal. Cara kerjanya tidak banyak berubah—datang tanpa peringatan, bergerak diam-diam, lalu tiba-tiba berada di atas kepala.
Jika dahulu teluh menggunakan medium seperti boneka, jarum, atau benda-benda yang dirapal, kini medium itu berganti menjadi mesin. Drone, seperti Shahed, terbang rendah untuk menghindari radar, seolah mengetahui alamat tujuannya. Ia mengingatkan pada banaspati —bola api yang melintas di malam hari, membawa niat yang tidak baik.
Rudal balistik bahkan lebih ekstrem. Ia diluncurkan dari jarak ribuan kilometer dan melesat tanpa dapat sepenuhnya dicegat. Tidak ada perjumpaan, tidak ada duel. Hanya serangan yang datang tiba-tiba, diikuti oleh kehancuran dan ketakutan.
Teknologi, dalam hal ini, tidak menghapus mitos. Ia justru mengubahnya menjadi lebih presisi dan lebih mematikan.
Pelaku pun tetap berada dalam bayang-bayang. Jika dalam teluh tradisional pengirimnya tidak terlihat, dalam perang modern pun demikian.
Keputusan diambil Donald Trump di Amerika Serikat, atau Benjamin Netanyahu di Israel, tetapi dampaknya dirasakan di Teheran, yang berjarak ribuan kilometer. Perang Teluk—yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran—menjadi serangkaian perintah dari ruang-ruang tertutup, dijalankan melalui layar dan tombol.
Dalam konteks ini, perang proksi memperlihatkan wajahnya yang paling dingin. Jarak tidak lagi sekadar persoalan geografis, melainkan juga emosional. Ketika serangan direduksi menjadi data, manusia berisiko diperlakukan sebagai angka.
Sebagaimana santet yang sulit dibuktikan, demikian pula banyak aspek dalam perang modern. Serangan siber tidak selalu jelas asalnya, drone siluman sulit dilacak, dan berbagai tindakan militer bergerak di wilayah abu-abu hukum internasional. Kita mengetahui bahwa sesuatu terjadi, tetapi sering kali tidak mampu memastikan siapa yang bertanggung jawab.
Namun, di tengah ketidakpastian itu, satu hal tetap pasti: selalu ada korban.
Dan seperti dalam banyak konflik, warga sipil menjadi pihak pertama yang menanggung dampaknya. Pengungsi di Lebanon, rumah-rumah yang hancur di Iran dan Israel, serta anak-anak yang tumbuh dengan suara sirene sebagai latar keseharian—semuanya menunjukkan bahwa perang tidak pernah benar-benar jauh dari kehidupan manusia.
Dampaknya pun meluas hingga melampaui medan konflik. Kenaikan harga minyak dan gangguan energi menjalar ke seluruh dunia, memengaruhi kehidupan sehari-hari hingga ke tingkat rumah tangga. Dalam pengertian ini, teluh modern tidak hanya menyerang tubuh, tetapi juga sendi-sendi kehidupan.
Upaya untuk menangkalnya pun berkembang. Jika dahulu orang mengandalkan jimat, doa, atau pagar gaib, kini negara mengembangkan sistem pertahanan seperti Iron Dome dan Arrow. Sistem ini bekerja di langit, berusaha mencegat ancaman sebelum mencapai sasaran. Seperti halnya kepercayaan lama, perlindungan itu tidak pernah sepenuhnya sempurna—selalu ada celah.
Di tengah situasi tersebut, diplomasi menjadi jalan yang paling lambat sekaligus paling sulit. Indonesia, misalnya, terus mendorong upaya meredakan ketegangan melalui pendekatan dialog. Ia tidak menawarkan hasil yang instan, tetapi tetap menjadi satu-satunya pilihan yang tidak berujung pada kehancuran.
Baik teluh dalam pengertian tradisional maupun perang modern tampaknya berakar pada sumber yang sama: kebencian, dendam, dan rasa tidak aman. Yang berubah hanyalah alatnya. Boneka dan mantra telah berganti menjadi drone dan algoritma, tetapi tujuan dasarnya tetap serupa—melukai dari jarak jauh.
Pertanyaan yang tersisa bukan lagi tentang teknologi atau strategi, melainkan tentang arah kemanusiaan itu sendiri. Jika pola ini terus berulang, kemenangan menjadi konsep yang kehilangan makna.
Seperti pepatah Melayu, hasil akhirnya barangkali tetap sama: menang jadi arang, kalah jadi abu.***













