Selamat Jalan, Pejuang!

Muhammad Mirdasy

MAKLUMAT — Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Di bawah hujan rintik-rintik, di Kota Pontianak, saya mendapat berita lelayu. Begitu mendadak dan mengagetkan. Kepergian Muhammad Mirdasy menghadirkan duka yang dalam, bukan hanya bagi keluarga dan sahabat dekatnya, tetapi juga bagi siapa saja yang pernah bersentuhan dengan ketulusan dan dedikasinya. Ia pergi dalam sunyi, tanpa banyak tanda, seolah mengajarkan satu hal terakhir kepada kita, bahwa hidup yang bermakna tidak selalu harus riuh, dan kepergian yang bermartabat tidak selalu didahului oleh tanda-tanda besar.

Seusai Idulfitri 1447 H, saya masih berkomunikasi usai bertukar flayer ucapan Idulfitri dengan hangat dan penuh keakraban. Tidak ada firasat bahwa itu akan menjadi salah satu interaksi terakhir. Bahkan ketika pesan-pesan berikutnya tak berbalas, tidak ada yang menyangka bahwa beliau tengah menghadapi fase paling khidmat dalam hidupnya—sebuah perjalanan menuju keabadian.

Saya bercengkrama dengan Mas Mirdasy pada saat Rakerwil LHKP PWM Jawa Timur, 15 Februari 2026 di Surabaya. Beliau bercerita dengan penuh semangat tentang kegiatan LHKP dengan pencapaian-pencapaian yang luar biasa. Kesan saya saat itu, semanganya berlebih, tidak biasa. Apalagi saat berada di mimbar, di depan Ketua Umum PAN yang juga Menko Pangan, Zulkifli Hasan, Mas Mirdasy menyampaikan sambutan dengan menggebu. Dan, Zulkifli Hasan pun menyambutnya dengan semangat yang sama, bahkan dengan janji-janji muluk seolah ingin memberikan apa pun yang diinginkan Mas Mirdasy. “Pokoknya saat pencalegan nanti, setiap proposal yang diajukan melalui Mas Murdasy, berapa pun nilainya, tidak akan saya baca, lagsung saya setujui,” tegas Zulkifli Hasan yang disambut riuh tepuk tangan hadirin.

Baca Juga  Merawat Optimisme Bangsa sebagai Amanah Keislaman

Mengingat momen saat itu, kini saya merenung, mungkin itulah cara Tuhan memberi pesan di ujung perjuangan hambanya, Muhammad Mirdasy yang kini tidak akan bisa lagi berharap pada siapa pun, tak juga pada Zulkifli Hasan. Yang ia butuhkan saat ini hanya doa-doa yang tulus dari siapa pun, terutama dari anak-anaknya.

Mas Mirdasy bukan sekadar sosok biasa. Ia adalah pribadi yang bekerja dengan keikhlasan dan dedikasi yang hasilnya bisa berbicara lantang. Dalam setiap peran yang diembannya, ia menunjukkan kesungguhan, integritas, dan rasa tanggung jawab yang tidak main-main. Ia bukan tipe yang mencari sorotan, tetapi justru menjadi cahaya bagi banyak orang di sekitarnya.

Salah satu kekuatan utamanya adalah komitmen terhadap kerja-kerja intelektual dan sosial. Ia terlibat dalam dunia media, menyuarakan gagasan, menyebarkan informasi, dan merawat ruang publik dengan penuh kesadaran. Di tengah arus informasi yang sering kali gaduh dan bias, ia hadir sebagai penjernih, menjaga agar pesan-pesan yang disampaikan tetap berlandaskan pada nilai kebenaran dan kemaslahatan.

Namun lebih dari itu, yang paling mengesankan dari sosok Mirdasy adalah kerendahan hatinya. Ia tidak membangun jarak, tidak menciptakan sekat. Ia hadir sebagai sahabat, sebagai rekan, sebagai manusia yang utuh. Dalam pergaulan, ia menunjukkan empati yang tulus; dalam diskusi, ia menghadirkan argumentasi yang jernih; dan dalam kerja, ia memberikan dedikasi yang utuh.

Baca Juga  Dari Wartawan ke Jualan: Suka Duka Jajakan 7 Ton Cabai dari Daerah Bencana Aceh

Kepergiannya yang begitu tiba-tiba menyadarkan kita akan rapuhnya hidup ini. Betapa manusia sering menunda untuk berbuat baik, menunda untuk menyapa, menunda untuk peduli—seolah waktu selalu tersedia. Padahal, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kepergian Mirdasy, hidup bisa berubah dalam sekejap, tanpa aba-aba.

Dalam perspektif yang lebih dalam, wafatnya Muhammad Mirdasy adalah pengingat tentang makna keberadaan. Bahwa yang abadi bukanlah jabatan, bukan pula popularitas, melainkan jejak kebaikan yang ditinggalkan. Ia mungkin telah pergi secara fisik, tetapi nilai-nilai yang ia hidupi akan terus tinggal: kejujuran, ketekunan, kesederhanaan, dan keberpihakan pada kebenaran.

Kini, yang tersisa adalah kenangan dan pelajaran. Kenangan tentang sosok yang hangat, penuh semagat, dan bersahaja. Pelajaran tentang bagaimana menjalani hidup dengan penuh makna, tanpa harus kehilangan kerendahan hati. Dalam diamnya, ia mengajarkan kita tentang arti kehadiran. Dalam kepergiannya, ia mengajarkan kita tentang arti kehilangan.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Dan bagi kita yang ditinggalkan, semoga mampu melanjutkan nilai-nilai yang telah ia wariskan—meski dengan langkah yang mungkin tak sekuat dirinya.

Selamat jalan, Muhammad Mirdasy. Selamat jalan, pejuang!

Baca Juga  Perang, Keadilan, dan Islam Berkemajuan: Perspektif Muhammadiyah atas Konflik Global