Kemarau Dini 2026 Picu Ancaman Karhutla, Menhut Minta Publik dan Korporasi Siaga

karhutla

MAKLUMAT – Pemerintah mengingatkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026 berpotensi terjadi lonjakan,  seiring datangnya kemarau lebih dini dan berlangsung lebih panjang.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni menegaskan perubahan iklim ekstrem menjadi faktor utama meningkatnya risiko karhutla tahun ini, dibandingkan 2025. Bahkan ancaman kebakaran pada 2026 jauh lebih serius.

“Potensi karhutla tahun ini lebih mengancam. Kita menghadapi kemarau yang datang lebih awal dan berlangsung lebih lama,” ujar Raja Juli dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Rabu (8/4/2026).

Kementerian Kehutanan mencatat indikasi kemarau dini sudah terlihat sejak awal tahun, terutama di wilayah rawan seperti Riau dan Kalimantan Barat. Kondisi ini memperbesar risiko kebakaran, khususnya di kawasan hutan dan lahan gambut yang sensitif terhadap kekeringan.

Raja Juli meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di tengah kondisi cuaca kering. Ia juga menegaskan perusahaan harus menahan diri dari aktivitas land clearing yang berisiko memicu kebakaran.

“Semua pihak harus lebih hati-hati. Jangan ada aktivitas yang memicu api, terutama di musim kemarau ekstrem,” tandasnya.

Ia mengungkapkan pemerintah juga memperkuat koordinasi lintas sektor dan menyiagakan personel di wilayah rawan. Riau menjadi salah satu daerah prioritas dengan pengawasan ketat terhadap titik-titik rawan kebakaran.

Baca Juga  Aksi Heroik Pelaut Indonesia Selamatkan 60 Lansia Korsel dari Kebakaran Hutan

Selain itu, pemerintah menyiapkan operasi modifikasi cuaca sebagai langkah preventif. Teknologi ini tidak hanya digunakan saat kebakaran terjadi, tetapi juga untuk menjaga kelembapan lahan sejak dini.

Upaya lain difokuskan pada pengelolaan lahan gambut, khususnya menjaga tinggi muka air agar tidak terlalu kering dan mudah terbakar.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau 2026 mulai terjadi pada April–Mei dan mencapai puncaknya pada Agustus, sebelum berakhir pada Oktober.

BMKG juga mencatat intensitas hujan tahun ini lebih rendah dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir. Kondisi ini diperkuat oleh kemunculan fenomena El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat.