Negosiasi AS – Iran Gagal, 21 Jam di Islamabad Berakhir Buntu

Negoisasi AS Iran

MAKLUMAT — Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan setelah 21 jam pembicaraan intens yang diwarnai perbedaan tajam soal isu kunci, terutama komitmen nuklir.

Pertemuan yang digelar Sabtu (11/4/2026) itu mempertemukan Wakil Presiden AS JD Vance dengan delegasi Iran yang dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi serta Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.

Pembicaraan ini menjadi salah satu yang terpanjang dalam setahun terakhir, berlangsung hingga 24–25 jam menurut pihak Iran.

Beda Tafsir dan “Tuntutan Berlebihan”

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut negosiasi gagal mencapai hasil karena “tuntutan berlebihan” dari pihak Amerika Serikat.

Namun, ia menegaskan masih ada titik temu. “Iran dan AS mencapai kesepahaman pada sejumlah isu, tetapi terdapat perbedaan pada 2–3 hal penting,” kata Baqaei, dikutip dari Tasnim News Agency dan Press TV.

Ia juga menekankan bahwa diplomasi tetap berjalan meski situasi diliputi ketidakpercayaan, terutama setelah konflik selama 40 hari sebelumnya.

“Diplomasi tidak pernah berakhir. Ini adalah alat untuk melindungi kepentingan nasional,” ujarnya.

Selain isu lama, Baqaei mengungkap adanya topik baru yang turut memperumit pembicaraan, termasuk persoalan strategis Selat Hormuz.

AS: Iran Tak Mau Terima Syarat

Dari pihak Amerika Serikat, JD Vance menyampaikan bahwa kegagalan terjadi karena Iran tidak bersedia menerima persyaratan yang diajukan Washington.

“Kami telah melakukan diskusi substantif selama 21 jam. Itu kabar baiknya. Kabar buruknya, kami belum mencapai kesepakatan,” kata Vance dalam konferensi pers di Islamabad.

Ia menilai kebuntuan ini justru lebih merugikan Iran.

Menurut Vance, inti tuntutan AS adalah jaminan tegas bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir maupun kemampuan untuk mencapainya dengan cepat.

“Kami membutuhkan komitmen yang jelas bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir,” tegasnya.

Vance menambahkan, selama negosiasi ia terus berkoordinasi dengan Presiden Donald Trump serta sejumlah pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Diplomasi Masih Terbuka

Meski gagal, kedua pihak sama-sama membuka peluang untuk melanjutkan dialog.

Iran menegaskan bahwa keberhasilan pembicaraan bergantung pada “keseriusan dan itikad baik” dari pihak lawan, sementara AS menyatakan tetap berkomitmen mencari solusi diplomatik.

Pertemuan ini juga menjadi ajang diplomasi regional, dengan Iran menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Pakistan, termasuk Perdana Menteri Shahbaz Sharif, atas fasilitasi dan dukungan terhadap proses negosiasi.

Dengan belum adanya kesepakatan, ketegangan geopolitik di kawasan, termasuk isu Selat Hormuz dan program nuklir Iran, diperkirakan masih akan menjadi perhatian global dalam waktu dekat. ***