Rais Aam Usul Muktamar NU Digelar 1–5 Agustus 2026, Gus Salam Klaim Diperintah Para Kiai Maju Calon Ketum

muktamar nu

MAKLUMAT – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftahul Achyar mengajukan waktu pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) digelar pada awal Agustus 2026. Sementara KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam mengklaim siap maju calon ketua umum (ketum), karena diperintah langsung para kiai.

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Miftachul Achyar mengusulkan Muktamar digelar pada 1–5 Agustus 2026. Ia menegaskan, pilihan waktu tersebut bukan kebetulan, melainkan mengikuti siklus muktamar sebelumnya.

“Ini bagian dari tradisi. Muktamar sebelumnya juga berlangsung di bulan yang sama,” ujar Kiai Miftach, sapaan akrab KH Miftachul Achyar dikutip, Selasa (14/4/2026).

Namun, kepastian waktu belum diikuti kejelasan lokasi. Sejumlah nama Lokasi masih beredar mulai dari Surabaya, Jakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Barat hingga pesantren-pesantren besar di daerah.

Menurut Kiai Miftach, penentuan lokasi tidak semata soal kesiapan teknis. Ada dimensi yang lebih mendasar yang harus dijaga, yakni pentingnya menjaga keterkaitan NU dengan pesantren sebagai basis utama kaderisasi dan legitimasi. Mengingat, muktamar bukan sekadar ajang politik.

Sementara itu, bursa calon ketua umum PBNU Nama KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam kini muncul ke permukaan. Pengasuh Pesantren Denanyar Jombang itu secara terbuka menyatakan kesiapannya maju. Bahkan, ia mengaku mendapat perintah langsung dari para kiai untuk ikut dalam kontestasi.

Baca Juga  PBNU Lakukan Rotasi Besar: Gus Ipul Dicopot dari Kursi Sekjen, Ini Alasannya

“Saya diperintah para guru (kiai) untuk berikhtiar menjadi Ketua Umum PBNU,” tegas Gus Salam.

Ia mengungkapkan langkahnya bukan semata ambisi pribadi, namun pencalonannya sebagai bentuk ketaatan kepada para masyayikh.

Sebagai cucu pendiri NU, KH Bisri Syansuri, ia membawa legitimasi genealogis yang kuat—sebuah faktor yang kerap menjadi pertimbangan penting dalam dinamika internal NU.

Dukungan pun mulai mengalir. Ketua PC IKA PMII Jombang, KH Amir Maliki Abi Thalchah, menilai kemunculan Gus Salam sebagai momentum refleksi arah organisasi.

Ia bahkan melontarkan kritik tajam terhadap kondisi NU saat ini di bawah kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

“NU perlu dikembalikan ke garis perjuangan. Hari ini, banyak dinamika yang membuat organisasi babak belur,” sesalnya.

Hal senada disampaikan Pengasuh Ponpes Al-Aqobah, KH Junaidi Hidayat. Ia menyebut kegelisahan di kalangan kiai dan jaringan pesantren mulai menguat. Kemunculan Gus Salam sebagai respons atas situasi tersebut.

“Ini bukan sekadar pencalonan. Ini ikhtiar mengembalikan NU ke jalurnya,” tandas Junaidi.