Lonjakan Harga Tiket Pesawat Cekik Pariwisata, Wisatawan Kini Pilih ‘Main Dekat Rumah

MAKLUMAT – Sektor pariwisata nasional sedang berada di titik nadir. Fenomena lonjakan harga tiket pesawat yang meroket tajam sejak awal April 2026 mulai memakan korban. Bukan hanya maskapai yang pening, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di daerah wisata kini mulai megap-megap akibat penurunan jumlah kunjungan.

Pemicunya tak lain adalah harga avtur yang melambung hingga 80 persen. Dari harga normal Rp13.000, kini melesat di atas Rp23.000 per liter. Efek domino ini memaksa maskapai menaikkan tarif tiket secara ugal-ugalan demi menutupi biaya operasional.

Efek Domino pada Empat Pilar Pariwisata

Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Ratih Juliati, M.Si., menyebut kondisi ini sebagai alarm bahaya. Menurutnya, lonjakan harga tiket pesawat secara langsung menghantam empat pilar Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS).

“Destinasi, pemasaran, industri, dan kelembagaan itu satu kesatuan. Begitu akses transportasi (harga tiket) terganggu, daya saing kita langsung rontok,” tegas Ratih kepada Tim Humas UMM, 18 April lalu.

Lahirnya Tren ‘Hyperlocal Tourism’

Mahalnya biaya terbang mengubah total perilaku pelancong. Masyarakat kini lebih memilih memangkas frekuensi perjalanan udara dan mencari alternatif yang lebih ramah di kantong. Dari sinilah muncul tren baru yang diprediksi akan menguasai pasar tahun ini: Hyperlocal Tourism.

Baca Juga  Dosen UMM Bagikan Tips Pilih Kurban Sehat sesuai Syariat

“Wisatawan sekarang sangat pragmatis. Mereka memilih destinasi yang bisa dijangkau lewat jalur darat atau laut. Istilahnya, mereka lebih baik eksplorasi wisata di sekitar tempat tinggal daripada harus terbang jauh tapi kantong jebol,” jelasnya.

Fenomena ini membawa berkah tersendiri bagi tren staycation dan road trip. Wisatawan lebih memburu pengalaman autentik yang dekat secara geografis, namun tetap memberikan kesan mendalam.

Strategi UMKM Agar Tak Gulung Tikar

Lantas, bagaimana nasib UMKM wisata di daerah yang selama ini bergantung pada wisatawan domestik jalur udara? Ratih menekankan bahwa inovasi dan kolaborasi adalah harga mati. Pelaku usaha tidak bisa lagi sekadar “menunggu bola”.

Ada tiga strategi kunci yang ia tawarkan, di antaranya, Paket Wisata Bundling. Teori ini mendorong UMKM harus bersinergi dengan hotel dan biro perjalanan untuk menciptakan paket wisata terintegrasi yang lebih ekonomis.

Kedua experience-based tourism, menguatkan UMKM agar tidak hanya menjual barang (souvenir), tapi jual pengalaman. Misalnya, tur kuliner lokal atau workshop kerajinan tangan langsung di lokasi.

Terakhir inovasi digital, yakni mengombinasikan kehadiran fisik dengan teknologi (wisata hibrida) untuk menjangkau pasar yang lebih luas tanpa kendala jarak.

Baca Juga  Pemerintah Tegaskan Lindungi UMKM, Bukan Perangi Indomaret dan Alfamart

Butuh ‘Tangan’ Pemerintah

Meski pelaku usaha dituntut kreatif, Ratih mengingatkan bahwa pemerintah daerah tidak boleh tinggal diam. Perlu ada intervensi strategis untuk menjaga napas sektor pariwisata.

“Pemerintah harus memperkuat promosi wisata lokal dan memfasilitasi digitalisasi UMKM. Krisis akibat lonjakan harga tiket pesawat ini harus jadi momentum untuk membangun ekosistem pariwisata yang lebih mandiri dan adaptif,” pungkasnya.

Kini, bola panas ada di tangan para pemangku kebijakan dan pelaku industri. Mampukah pariwisata lokal bertahan di tengah badai harga avtur, atau justru tenggelam karena lambat beradaptasi?