Jemaah Haji Wajib Tahu, Ini Larangan Ketat Saat Ihram Menuju Makkah

pembekalan haji

MAKLUMAT — Perjalanan darat dari Madinah menuju Makkah menjadi titik krusial bagi jemaah haji Indonesia. Selama sekitar enam jam perjalanan, jemaah diwajibkan menjaga larangan ihram secara ketat agar ibadah umrah wajib tetap sah.

Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) Kloter 28 SOC, Ustaz Drs. H. Nurbini MSI memberi pembekalan khusus kepada jemaah KBIHU Muhammadiyah di pelataran Masjid Nabawi, Madinah,Arab Saudi.

Pembekalan dilakukan menjelang keberangkatan jemaah menuju Makkah pada Minggu (10/5/2026).

“ Niat ihram bersyarat atau isytirat itu penting sebagai langkah antisipasi, jika jemaah mengalami kendala selama perjalanan,” kata Nurbini dikutip, Jumat (8/5/2026).

Untuk niat ihram, lanjut Nurbini, Jemaah diimbau menggunakan niat ihram isytirat atau niat ihram bersyarat, yakni  “Allahumma mahillii haitsu habastanii.” Artinya, Ya Allah, tempat tahalulku adalah di mana aku terhalang.

Menurutnya, niat tersebut penting untuk mengantisipasi kondisi darurat seperti sakit atau hambatan lain yang membuat jemaah tidak dapat melanjutkan perjalanan menuju Makkah.

Selain niat ihram, jemaah juga diingatkan menjaga disiplin selama memasuki fase ihram. Banyak pelanggaran kecil sering terjadi ketika bus berhenti di rest area. Jemaah diminta tidak menggunakan sabun atau cairan beraroma saat berada di toilet.

Baca Juga  Haji 2026 Aman dari Hantavirus, Saudi Minta Jemaah Tak Panik dan Tetap Jaga Kesehatan

Jemaah perempuan juga diingatkan menjaga aurat dan tidak membuka rambut ketika membetulkan pakaian. Sementara laki-laki dilarang mengenakan pakaian berjahit maupun penutup kepala.

Perhatian khusus juga diberikan kepada jemaah lansia dan risiko tinggi (risti). Jika kondisi fisik tidak memungkinkan turun di miqat Bir Ali, Ketua Regu (Karu) atau Ketua Rombongan (Karom) akan memandu niat ihram langsung dari dalam bus.

Skema ini disiapkan agar seluruh jemaah tetap dapat memenuhi syarat sah umrah wajib tanpa membahayakan kondisi kesehatan mereka.

Fase perpindahan Madinah menuju Makkah menjadi salah satu titik paling rawan dalam pelaksanaan ibadah haji. Banyak jemaah fokus pada kesiapan fisik, tetapi justru lalai pada detail-detail larangan ihram yang bisa berakibat dam atau pelanggaran ibadah.

Karena itu, pendekatan pembekalan yang praktis dan antisipatif seperti niat isytirat menjadi sangat penting, terutama bagi jemaah lansia dan kelompok risiko tinggi.