MAKLUMAT — Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI, Prof Brian Yuliarto, mengaku terkesan dengan perkembangan yang dicapai Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim.
Hal itu ia sampaikan saat mengunjungi Kantor PWM Jatim di Surabaya, Sabtu (9/5/2026) dalam sela-sela agenda kerjanya di Kota Pahlawan.
“Saya kagum sekali dengan capaian yang luar biasa. Besar sekali kontribusi yang sudah dilakukan,” ujarnya.
Dalam kunjungan itu, Brian menyoroti kontribusi Muhammadiyah Jatim di berbagai bidang, terutama pendidikan tinggi.
Menurutnya, pemerintah akan terus mendukung lembaga yang memiliki visi bersama dalam membangun bangsa melalui pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia.
Ia juga berharap PWM Jatim terus berkembang dan memperluas kontribusinya di tengah masyarakat. Brian menilai jejaring amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah menjadi modal penting untuk memperkuat pembangunan di daerah.
“Saya sering mendapat insight dari pertemuan-pertemuan semacam ini,” katanya.
Ketua PWM Jatim, Prof Sukadiono, menyambut langsung kedatangan Mendiktisaintek. Dalam pertemuan tersebut, ia memaparkan perkembangan Muhammadiyah Jatim di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, hingga ekonomi.
Sukadiono juga menyebut jumlah warga Muhammadiyah di Jatim diperkirakan mencapai sekitar 15 persen dari total penduduk di Jatim.
“Ini masih estimasi kasar, tapi dari jumlah itu, kami akan terus mengembangkan kontribusi kami,” ujarnya.
Sukadiono menegaskan bahwa pengembangan amal usaha terus dilakukan, termasuk di sektor pendidikan tinggi. Sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah di Jatim kini telah berstatus unggul dan akan terus meningkatkan kualitas akademik maupun kelembagaan.
Di sektor kesehatan, PWM Jatim juga memperluas jaringan layanan melalui pengembangan rumah sakit dan klinik di berbagai daerah. Saat ini Muhammadiyah Jatim memiliki 54 klinik, 151 Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), 5 Muhammadiyah Senior Care (MSC), 1.556 masjid, 521 musala, dsb.
“Pola kami, rumah sakit Muhammadiyah yang sudah besar itu melakukan pembinaan ke rumah sakit Muhammadiyah yang masih berkembang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengembangan rumah sakit dilakukan dengan model jejaring antardaerah. Daerah yang belum memiliki rumah sakit Muhammadiyah akan didorong untuk membangun layanan kesehatan baru dengan dukungan dari amal usaha lain yang lebih maju.
Sukadiono mencontohkan Magetan dan Situbondo yang sebelumnya belum memiliki rumah sakit Muhammadiyah. Ketika ada bangunan atau rumah sakit yang dijual, amal usaha Muhammadiyah dari daerah lain ikut membantu melakukan investasi dan pembinaan hingga akhirnya daerah tersebut memiliki rumah sakit sendiri.
“Tantangan di setiap daerah memang tidak sama, tetapi semuanya terus berjejaring untuk tumbuh bersama,” ujarnya.













