Kontroversi Film Pesta Babi, Dosen Umsida: Medium yang Punya Kekuatan untuk Menyorot Isu Sosial

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Umsida, M Andi Fikri. (Foto: Humas)

MAKLUMAT — Pembubaran pemutaran film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono di beberapa daerah memunculkan perdebatan baru mengenai kebebasan berekspresi, kekuatan film sebagai media komunikasi, hingga sensitivitas publik terhadap isu sosial dan politik.

Dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), M Andi Fikri MIKom, menilai kontroversi yang muncul dari film tersebut tidak bisa dilepaskan dari kekuatan narasi dokumenter dalam membangun emosi dan opini publik.

Menurutnya, film dokumenter bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan medium yang mampu membuka ruang diskusi terhadap isu-isu yang selama ini jarang diketahui masyarakat luas.

Punya Kekuatan Narasi yang Besar

Andi mencontohkan salah satu kasus pembubaran pemutaran film yang digelar di beberapa kampus dan komunitas. Menurutnya, keresahan yang muncul bukan semata karena judul film Pesta Babi, tetapi karena isu besar yang diangkat di dalamnya.

“Kalau melihat dari film Pesta Babi sendiri, headline dalam cerita ini sebenarnya masalah tanah, perebutan hak tanah yang dijadikan swasembada pangan sejak era Pak Harto sampai sekarang,” ujarnya, dalam ketarangan yang diterima Maklumat.id pada Rabu (13/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa film tersebut juga menyoroti proyek-proyek besar seperti pembukaan lahan untuk bioetanol dan perkebunan tebu di Papua yang terus berlanjut dari masa ke masa.

Menurut sineas asal Sidoarjo itu, film memiliki kekuatan naratif yang sangat besar karena mampu menyampaikan isu sosial, norma, hingga persoalan budaya melalui visual dan pengalaman emosional penonton. “Film itu sebenarnya medium hiburan, tetapi dia punya kekuatan naratif ataupun persepsi yang lebih kuat untuk menyoroti isu sosial,” jelasnya.

Baca Juga  Iqbal Wi'an Putra: Dari Korban Peluru Nyasar, Hafiz Quran, hingga Beasiswa ke Libya

Ia menambahkan, sensitivitas masyarakat terhadap ras, agama, budaya, dan simbol tertentu membuat film dokumenter sering memicu reaksi lebih besar dibanding media komunikasi lainnya.

Andi menilai, pengaruh film terhadap opini publik sangat besar, terutama ketika pesan dalam film bertemu dengan pengalaman emosional penontonnya. “Pesan dalam film itu masuk melalui pengalaman penonton, emosi, empati, bahkan kejadian dan trauma-trauma yang pernah dialami,” terangnya.

Menurut dia, film-film produksi Watchdoc, termasuk karya Dandhy Laksono, selama ini memang dikenal kuat dalam membangun memori publik melalui dokumentasi isu sosial di berbagai daerah Indonesia.

Ia menyebut karya-karya dokumenter seperti dalam tajuk ekspedisi Indonesia Biru hingga ekspedisi Indonesia Baru yang dilakukan Watchdoc, menjadi contoh bagaimana dokumenter dapat memantik opini dan sudut pandang baru di masyarakat.

“Hal-hal yang ditemui di berbagai wilayah Indonesia itu akhirnya memantik opini baru dan pesan baru yang sangat relevan dengan kondisi sekarang,” katanya.

Karena itu, menurut Andi, tidak mengherankan jika film dokumenter seperti Pesta Babi memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Namun, Andi menegaskan bahwa kontroversi tidak selalu menjadi ukuran keberhasilan sebuah film.

Meski demikian, ia menilai film Pesta Babi berhasil membuka ruang yang sebelumnya tertutup bagi publik. “Film ini berhasil membuka ruang yang rahasia, akhirnya banyak orang tahu tentang persoalan swasembada pangan dan pembukaan lahan di Papua,” katanya.

Baca Juga  Umsida Raih 3 Penghargaan Anugerah Diktisaintek 2025, Tegaskan Posisi sebagai Perguruan Tinggi Unggul

Andi juga mengaitkan fenomena ini dengan film dokumenter Sexy Killers yang sebelumnya juga menuai kontroversi karena mengangkat isu energi dan politik menjelang pemilu.

Elemen Pemantik Sensitivitas Publik

Lebih jauh, Andi menilai bahwa salah satu hal yang membuat film Pesta Babi menuai kontroversi hingga penolakan adalah penggunaan simbol, visual, dan judul yang dianggap sensitif oleh sebagian masyarakat.

“Mulai dari trailernya saja sudah kontroversi,” ujar pria yang juga menjabat Kepala Laboran Fakultas Bisnis, Hukum, dan Ilmu Sosial (FBHIS) Umsida itu.

Banyak masyarakat, kata dia, yang langsung bereaksi sebelum benar-benar menonton isi film secara utuh. Padahal, lanjut Andi, film tersebut tidak hanya berbicara soal pesta adat, tetapi tentang perebutan lahan dan perubahan ruang hidup masyarakat Papua.

Dalam film tersebut, Pesta Babi digambarkan sebagai tradisi sakral masyarakat Papua yang kini mulai terancam akibat alih fungsi hutan dan lahan.

“Pesta Babi itu menjadi perayaan terakhir untuk menjaga adat mereka, karena hutan-hutan di sekitar sudah dialihfungsikan,” jelasnya.

Andi menilai masyarakat Indonesia saat ini sebenarnya sudah semakin kritis dalam membaca simbol-simbol dalam karya kreatif. Namun, simbol yang terlalu sensitif tetap bisa memicu ketakutan atau penolakan dari kelompok tertentu.

Ia mengatakan film dokumenter semacam ini memang sengaja diputar dalam forum diskusi atau nonton bareng agar publik dapat memahami konteks yang lebih luas. “Film ini punya ruang khusus sendiri agar kita bisa melihat dan menilai apa yang terjadi pada saudara kita di Indonesia Timur,” tandas Andi.

Baca Juga  Revisi UU Penyiaran, Apa Urgensinya?

Ruang Kritik dan Kebebasan Berekspresi

Sebagai dosen film yang juga seorang sineas, Andi memandang film sebagai medium seni sekaligus alat komunikasi yang tidak selalu bisa diposisikan sepenuhnya benar atau salah.

“Film itu medium seni dan alat komunikasi, jadi tidak bisa 100 persen benar dan tidak bisa 100 persen salah juga,” tegasnya.

Menurut dia, setiap sutradara memiliki sudut pandang dan kepentingan tertentu terhadap isu yang ingin disampaikan melalui filmnya. Karena itu, ia menilai pembuat film juga harus siap menghadapi risiko ketika karya yang dibuat memicu kontroversi di ruang publik.

“Kalau kita membuat karya yang nantinya dikritisi atau memunculkan konflik, kita harus bertanggung jawab,” katanya.

Andi menyebut film ibarat “anak” bagi seorang sineas. Ketika film sudah lahir dan dipublikasikan, pembuatnya harus siap menerima kritik, penolakan, maupun perdebatan yang muncul.

Meski demikian, ia menilai diskusi terhadap film tetap penting dilakukan agar masyarakat memiliki ruang memahami isu secara lebih utuh, bukan sekadar bereaksi terhadap potongan informasi atau simbol tertentu.

“Tujuan film seperti ini agar masyarakat Indonesia lebih paham terhadap hal-hal yang tidak pernah kita tahu, terutama tentang kondisi di Papua dan Indonesia Timur,” pungkas Andi.