Menlu Iran Abbas Araghchi Ingatkan AS-Israel: Jangan Coba Serang Lagi, Anda Pasti Gagal

Abbas Araghci

MAKLUMAT — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan Amerika Serikat dan Israel agar tidak kembali melancarkan aksi militer terhadap Teheran. Ia menegaskan ancaman maupun perang tidak akan mampu memaksa Iran menyerah.

Pernyataan itu disampaikan Abbas Araghchi di sela pertemuan dua hari para menteri luar negeri negara anggota BRICS di New Delhi, India, Kamis (14/5/2026), sebagai respons atas ancaman dari sejumlah pejabat Amerika Serikat dan Israel.

“Kami sudah terbiasa dengan ancaman-ancaman ini,” kata Araghchi seperti dilansir Press TV, Jumat (15/5/2026).

“Mereka telah lama mengulang ancaman dalam berbagai bentuk. Tetapi mereka sendiri tahu bahwa mereka tidak mencapai apa pun, dan tidak akan mencapai apa pun, melalui ancaman maupun perang,” lanjutnya.

Iran Tegaskan Tidak Akan Tunduk

Araghchi menegaskan tidak ada solusi militer untuk menghadapi Iran. Menurutnya, tekanan bersenjata justru akan kembali berujung kegagalan seperti konflik sebelumnya.

“Hari ini dalam pidato saya di BRICS, saya kembali menekankan bahwa tidak ada solusi militer untuk masalah yang berkaitan dengan Iran,” ujarnya.

Ia merujuk pada perang selama 40 hari antara Iran melawan agresi Amerika Serikat dan Israel yang berlangsung dari akhir Februari hingga awal April lalu. Menurutnya, Iran berhasil menghadapi serangan tersebut melalui serangan balasan yang efektif.

Baca Juga  Dari Nusantara ke Persia: Solidaritas, Identitas, dan Dedikasi Mahasiswa Indonesia di Iran

“Iran berdiri teguh menghadapi ancaman dan tidak akan tunduk pada tekanan,” kata Araghchi.

Ia juga memperingatkan bahwa jika Washington dan Tel Aviv kembali memulai perang, hasilnya tidak akan berbeda dari konflik sebelumnya.

“Semakin mereka mengancam, semakin mereka tidak akan mendapatkan apa pun selain kegagalan,” tegasnya.

Iran Klaim Posisi Regional Menguat

Dalam keterangannya, Araghchi menyebut perang terbaru justru memperkuat posisi Iran di kawasan Timur Tengah.

“Sekarang semua negara mengakui bahwa Republik Islam Iran adalah pemenang dalam perang ini dan berhasil menggagalkan tujuan musuh-musuhnya,” ujarnya.

Ia mengatakan Iran kini dipandang sebagai kekuatan regional yang mampu menghadapi negara-negara besar.

Menurut Araghchi, banyak delegasi dalam forum BRICS menilai konflik tersebut menjadi titik balik geopolitik di kawasan.

“Perang ini telah meningkatkan kedudukan Republik Islam Iran, dan sekarang saatnya memperkuat peran Iran di kawasan,” katanya.

Kritik Keras terhadap UEA

Araghchi juga melontarkan kritik kepada Uni Emirat Arab karena dinilai membantu operasi militer Amerika Serikat selama perang berlangsung.

“UEA berdiri di samping Amerika Serikat selama perang ini dan tidak bisa menggambarkan dirinya sebagai korban,” kata Araghchi.

Menurutnya, Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer dan fasilitas di sejumlah negara Teluk, termasuk UEA, Qatar, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Yordania, untuk melancarkan operasi terhadap Iran.

Baca Juga  Tok! Majelis Pakar Tunjuk Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran Usai Tewasnya Ali Khamenei

Sebagai balasan, Iran meluncurkan lebih dari 100 gelombang serangan yang menargetkan kepentingan strategis Amerika Serikat dan Israel.

Araghchi mengklaim Iran hanya menyerang target militer Amerika di wilayah UEA sebagai respons atas keterlibatan negara tersebut.

Serukan Keamanan Regional Tanpa Campur Tangan Asing

Di akhir pernyataannya, Araghchi menyerukan pendekatan keamanan regional yang tidak bergantung pada Amerika Serikat maupun Israel.

“Amerika Serikat dan rezim Zionis tidak dapat memberikan keamanan bagi negara-negara kawasan,” ujarnya.

Ia menegaskan Iran dan UEA tetap harus hidup berdampingan sebagai negara tetangga di kawasan Teluk Persia.

“Kami dan UEA adalah tetangga. Kami harus terus hidup berdampingan di masa depan,” kata Araghchi.

“Karena itu, keamanan kawasan seharusnya dibangun melalui kerja sama antarnegara kawasan, bukan dengan bergantung pada kekuatan asing,” tambahnya.***