MAKLUMAT — Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan (Zulhas) melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Banyuwangi, Kamis (14/5/2026). Dalam agenda tersebut, Zulhas meninjau Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) hingga menghadiri Sarasehan Penguatan Ketahanan Pangan di lingkungan pesantren.
Setibanya di Bandara Blimbingsari sekitar pukul 07.30 WIB, Zulhas langsung menuju KNMP di Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi. Dalam kunjungan itu, ia didampingi Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono serta jajaran Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi.
Di lokasi tersebut, Zulhas meninjau sejumlah fasilitas penunjang nelayan, mulai dari pabrik es portabel, bengkel nelayan, hingga kios perbekalan. Ia juga berdialog dengan sekitar 120 nelayan yang hadir.
Dalam kesempatan itu, Zulhas menegaskan pemerintah telah menyiapkan skema perlindungan harga ikan bagi nelayan melalui program KNMP. Menurutnya, hasil tangkapan yang tidak terserap pasar nantinya dapat disimpan dan dimanfaatkan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Di Kampung Nelayan Merah Putih telah disiapkan cold storage, pabrik es, dan koperasi nelayan,” ujar Zulhas.
KNMP Lateng sendiri tercatat memiliki 204 nelayan aktif dengan sekitar 180 perahu kecil di bawah 5 GT. Selain itu, terdapat tiga kelompok usaha bersama nelayan dengan total produksi ikan mencapai 1.260 ton per tahun atau senilai sekitar Rp31,5 miliar.
Usai meninjau kawasan nelayan, Zulhas melanjutkan agenda menghadiri Sarasehan Penguatan Ketahanan Pangan di Pondok Pesantren Ibnu Sina, Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.
Kemandirian Pangan
Kegiatan yang dimulai pukul 09.50 WIB itu dihadiri ratusan peserta dari kalangan kiai, pengasuh pondok pesantren, pengurus PCNU Banyuwangi, Muslimat NU, tokoh masyarakat, hingga para santri. Sarasehan tersebut mengusung tema “Meningkatkan Peran Serta Pesantren dalam Membangun Kemandirian Pangan”.
Dalam pemaparannya, Zulhas menilai pesantren memiliki posisi strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional karena dekat dengan sektor pertanian, penyimpanan hasil panen, zakat pangan, hingga ekonomi kerakyatan.
Ia juga memuji Banyuwangi sebagai salah satu daerah dengan surplus pangan tinggi di Jawa Timur. Berdasarkan data tahun 2025, tingkat ketersediaan pangan utama di Banyuwangi mencapai 323,17 persen.
“Produksi beras mencapai 464 ribu ton, sedangkan kebutuhan hanya 136 ribu ton, sehingga surplus 328 ribu ton,” ungkapnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Sina, KH Masykur Ali, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Zulhas ke pesantrennya. Menurutnya, pesantren memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui sektor pertanian dan peternakan.
“Pesantren tidak hanya mencetak generasi berakhlak mulia, tetapi juga generasi produktif yang siap mendukung program ketahanan pangan,” katanya.
Senada dengan itu, Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menilai penguatan pangan berbasis pesantren dapat menjadi energi baru bagi daerah dalam menjaga stabilitas pangan di tengah tantangan global.***













