Kajian Leadership Pesma Al Manar UMPO: Kiat Menjadi Pemimpin yang Baik dan Sukses

Kajian Leadership Pesma Al Manar Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO). (Foto: Dok. Panitia)

MAKLUMAT — Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) melalui Pesantren Mahasiswa (Presma) Al Manar menggelar kajian leadership bertajuk “Kiat-Kiat Menjadi Pemimpin yang Baik dan Sukses”, yang disampaikan Dr Hadi Sumarsono MSi. Kegiatan ini diikuti para mahasantri Pesma Al Manar dengan suasana santai, hangat, namun penuh makna mengenai hakikat kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam paparannya, Hadi menjelaskan bahwa pemimpin secara sederhana, pada dasarnya adalah orang yang memimpin. Namun, ia menegaskan bahwa kepemimpinan tidak sesederhana dengan memberi perintah atau menjadi atasan.

“Ada definisi yang menyebutkan bahwa kepemimpinan merupakan seni melakukan sesuatu melalui orang lain,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima Maklumat.id, Jumat (15/5/2026).

Memimpin, kata dia, memang identik dengan memberi arahan, tetapi tidak selalu harus dilakukan dengan kata-kata keras. Kadang cukup dengan sikap, isyarat, atau kode tertentu yang mampu membuat orang memahami keadaan.

Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang memiliki respon terhadap wibawa, sikap, dan karakter seseorang.

Ia menegaskan, kepemimpinan bukan hanya penting bagi ketua organisasi, bupati, atau presiden. Setiap orang sejatinya adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Seseorang harus mampu mengatur diri, mengendalikan keinginan, serta menjalankan tanggung jawab dan kewajiban dengan baik. “Kepemimpinan itu ilmu sekaligus seni,” tandas Hadi.

Baca Juga  23 Kader Lulusan SKN Dikukuhkan, Busyro Muqoddas: Langkah Siapkan Pemimpin Masa Depan Berintegritas

Sebagai ilmu, kepemimpinan dapat dipelajari melalui teori, pengalaman, dan berbagai pendekatan manajemen. Namun sebagai seni, kepemimpinan berkaitan dengan karakter, etika, cara bersikap, dan bagaimana memperlakukan manusia dengan baik.

Lebih jauh, Hadi juga menjelaskan terkait pendapat yang menyebut bahwa pemimpin dilahirkan, bukan dibentuk. Karena itu masyarakat sering melihat calon pemimpin dari pembawaan, sikap, dan karismanya sejak awal.

Dalam perspektif Islam, ia menandaskan bahwa pemimpin yang ideal memiliki empat karakter utama, yakni jujur, tabligh, amanah, dan fathonah. “Keempat sifat tersebut menjadi fondasi penting agar seorang pemimpin dapat dipercaya dan dihormati oleh orang-orang yang dipimpinnya,” tegasnya.

Menurut Hadi, orang yang pintar belum tentu mampu menjadi pemimpin yang baik. Sebab kepemimpinan bukan hanya soal kecerdasan intelektual, tetapi juga kemampuan menghadapi manusia yang memiliki karakter dan cara berpikir berbeda-beda.

“Kadang manusia lebih rumit daripada soal ujian statistik,” selorohnya, disambut tawa para peserta kajian.

Dari sisi gaya kepemimpinan, ia mengungkapkan adanya dua model yang sering ditemui, yaitu gaya demokratis dan otoriter. Secara umum banyak orang menganggap gaya demokratis lebih baik karena melibatkan pendapat anggota. Namun dalam kondisi tertentu, gaya otoriter justru bisa lebih efektif, terutama ketika situasi membutuhkan ketegasan dan keputusan cepat.

Baca Juga  Dari Mana Datangnya Integritas?

Kepemimpinan sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kepribadian, gaya memimpin, karakter, dan cara menghadapi bawahan ataupun pengikutnya. Tidak ada satu gaya kepemimpinan yang cocok untuk segala situasi atau keadaan.

Hadi juga menjelaskan terkait teori kontingensi, yakni teori yang menyatakan bahwa gaya kepemimpinan harus menyesuaikan situasi. Jika anggota belum disiplin atau belum memahami tugasnya, maka pemimpin perlu lebih tegas. Sebaliknya, jika anggota sudah mandiri dan memahami pekerjaannya, pemimpin dapat lebih demokratis dan memberi ruang diskusi.

Menurutnya, di situlah letak seni dalam memimpin. Seorang pemimpin harus mampu menentukan kapan harus tegas dan kapan harus mendengarkan.

Selain itu, Hadi juga menekankan bahwa hakikat pemimpin sebenarnya adalah pelayan. Pemimpin bukan hanya ingin dihormati, tetapi juga harus siap melayani, membantu, dan bertanggung jawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya.

Ia juga membahas beberapa pendekatan kepemimpinan, di antaranya pendekatan kepribadian, gaya kepemimpinan, teori kontingensi, hingga Path-Goal Theory. Dari berbagai pendekatan itu lahir beragam model kepemimpinan seperti kepemimpinan karismatik dan stimulasi intelektual yang mampu mendorong anggota berkembang lebih baik.

Tak cuma itu, Hadi juga membagikan beberapa kiat penting untuk menjadi pemimpin yang baik dan sukses, yaitu disiplin terhadap diri sendiri, terus menambah pengetahuan, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta membiasakan mengucapkan basmalah sebelum memulai pekerjaan.

Baca Juga  Kepemimpinan Adalah Kata-kata: Ketika Ucapan Lebih Keras daripada Kebijakan

Dalam kesempatan itu, ia juga berpesan bahwa tantangan terbesar seorang pemimpin sebenarnya bukan memimpin orang lain, melainkan mengendalikan dirinya sendiri. “Manusia sering ingin memimpin orang lain, tetapi masih kalah melawan alarm pagi,” katanya dengan candaan.

Kajian leadership tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran para mahasantri bahwa kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi juga tentang tanggung jawab, kedisiplinan, akhlak, dan kemampuan melayani sesama.