MAKLUMAT — Hari raya biasanya identik dengan tawa, baju baru, dan hidangan lezat di atas meja. Namun, bagaimana jika hari besar itu harus dirayakan di tengah bunyi sirene peringatan perang dan bayang-bayang jet tempur? Inilah realitas yang sedang dihadapi oleh masyarakat di Iran, Lebanon, dan Palestina pada Mei 2026 ini. Di saat ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) serta Israel mencapai puncaknya, ada sebuah pemandangan yang menggetarkan hati: masyarakat tetap teguh merayakan Iduladha dengan penuh ketenangan, seolah iman mereka telah menjadi perisai yang lebih kuat dari baja mana pun.

Akar Ketegaran: Belajar dari Pengorbanan Ibrahim
Untuk memahami mengapa orang-orang di wilayah konflik ini tidak gemetar menghadapi ancaman kekuatan besar, kita harus kembali refleksi ke inti dari perayaan Iduladha itu sendiri. Hari raya ini bukanlah sekadar ritual menyembelih hewan ternak, melainkan peringatan atas salah satu ujian iman terbesar dalam sejarah manusia.
Kisah ini berawal dari Nabi Ibrahim yang menerima perintah melalui mimpi untuk mengorbankan putra kesayangannya. Ibrahim tidak langsung memaksakan kehendaknya, ia berdialog dengan putranya, bertanya bagaimana pendapat sang anak tentang perintah tersebut. Jawaban sang putra sungguh luar biasa, ia meminta ayahnya melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menyatakan bahwa dirinya akan termasuk orang yang sabar.
Ketika keduanya telah berserah diri sepenuhnya dan Ibrahim siap melaksanakan perintah itu, Allah memanggilnya dan menyatakan bahwa Ibrahim telah membenarkan mimpi tersebut sebagai ujian yang nyata. Sebagai balasan atas ketaatan mereka, Allah menebus putra tersebut dengan seekor sembelihan yang besar. Nilai inilah—ketaatan total dan kesabaran dalam menghadapi ujian—yang kini mendarah daging dalam mentalitas masyarakat di Iran. Mereka memandang konflik dan ancaman luar sebagai “ujian nyata” yang harus dihadapi dengan kepala tegak, persis seperti Ibrahim dan putranya menghadapi ujian mereka.
Wajah Iduladha di Tengah Perang
Saat tulisan ini dibuat, konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Iran telah memasuki hari ke-80 (sejak 28 Februari) dan tengah berada pada fase gencatan senjata sementara yang dinilai banyak pihak sangat rapuh. Namun, jika anda berjalan di jalanan wilayah Iran, anda mungkin akan terkejut. Alih-alih kepanikan, Anda akan menemukan persiapan kurban yang semarak. Ada tradisi unik di sana: pelaksanaan Salat Iduladha dan penyembelihan hewan kurban sering kali dilakukan di satu tempat yang sama di setiap wilayah, misalnya di musala atau masjid setempat. Bahkan, ada sistem di mana warga bisa membeli hewan di tempat penjualan langsung dan langsung menyembelihnya di sana juga.
Yang paling menarik perhatian dunia adalah sikap psikologis masyarakatnya. Di tengah ancaman serangan yang bisa terjadi kapan pun, warga Iran justru merasa “biasa saja” dan tetap menikmati suasana hari raya. Mereka tidak membiarkan rasa takut akan ancaman militer AS merusak momen sakral ini. Bagi mereka, Iduladha tetaplah Iduladha, sebuah pengingat bahwa hidup dan mati ada di tangan Sang Pencipta.
Keberagaman yang Menyatukan: Dari Guilan hingga Hormozgan
Ketegaran ini juga dipermanis oleh keberagaman tradisi lokal yang tetap terjaga meski dalam situasi sulit. Di wilayah utara Iran, seperti di Guilan dan Mazandaran, masyarakat merayakan Iduladha dengan sangat berwarna. Mereka mengenakan pakaian tradisional yang indah dan menikmati hidangan bersama di alam terbuka. Selain merayakan, mereka juga sangat aktif berbagi sedekah kepada mereka yang membutuhkan, menunjukkan bahwa solidaritas sosial justru menguat di saat krisis.
Sementara itu, di wilayah Hormozgan, perayaan Iduladha bisa berlangsung hingga tiga hari lamanya. Mereka saling mengunjungi, memberikan ucapan selamat, dan berziarah ke makam keluarga untuk mendoakan orang-orang terkasih yang telah tiada. Tradisi makan siang bersama di rumah anggota keluarga yang paling tua tetap menjadi agenda wajib untuk mempererat silaturahmi.
Di saat-saat perang seperti ini, pertemuan keluarga bukan sekadar acara makan-makan, melainkan juga sebagai cara untuk saling menguatkan mental satu sama lain.
Kekuatan Agama dalam Kehidupan

Fenomena ketegaran masyarakat ini juga membawa kita pada analisis sosiopolitik yang lebih mendalam. Di dunia modern, banyak orang mengira bahwa agama akan semakin terpinggirkan dari urusan politik karena arus demokrasi dan sekularisme. Namun, kenyataannya justru terbalik. Apa yang kita lihat di Iran, Palestina, dan Lebanon adalah bukti bahwa kekuatan agama kembali menguasai kehidupan politik.
Seorang ahli bernama Ran Hirschl menyebut fenomena ini sebagai “constitutional theocracy”. Ini adalah kondisi di mana prinsip-prinsip agama muncul kembali sebagai kekuatan utama yang mengatur masyarakat dan negara, bahkan di negara-negara yang secara politik tampak sekuler.
Perang yang terjadi saat ini pun tidak lepas dari “bungkus” agama. Sebagai contoh, Menteri Perang AS, Pete Hegseth, secara terang-terangan menyatakan pada April 2026 bahwa pasukan AS “berperang untuk Yesus”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa di kedua belah pihak yang bertikai, agama digunakan sebagai motivasi utama dalam pertempuran.
Namun, ada perbedaan mendasar pada bagaimana masyarakat di wilayah terdampak konflik menggunakan agama mereka. Di saat pihak lawan menggunakan narasi agama untuk membenarkan serangan, masyarakat di Iran, Lebanon, dan Palestina menggunakan Iduladha sebagai simbol solidaritas lintas batas. Mereka menunjukkan bahwa di bawah panji iman yang sama, sekat-sekat seperti perbedaan etnis atau isu Suni-Syi’ah menjadi tidak relevan lagi ketika menghadapi ancaman yang mengancam kedaulatan dan nyawa mereka.
Pelajaran dari Garis Depan
Iduladha tahun ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua yang mungkin hidup di wilayah yang lebih damai. Kita belajar bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan, tetapi sebuah jangkar yang menjaga manusia agar tidak hanyut dalam ketakutan. Ketegaran warga di wilayah konflik membuktikan bahwa ketika seseorang sudah mencapai tahap “berserah diri” seperti Nabi Ibrahim, maka kekuatan senjata secanggih apa pun tidak akan mampu menghancurkan kebahagiaan batin dan martabat mereka.
Perbedaan penanggalan antara kalender Hijriah dan Masehi—di mana Iduladha selalu maju sekitar 11 hari setiap tahunnya—mengingatkan kita bahwa waktu terus berputar dan situasi dunia akan selalu dinamis. Namun, nilai pengorbanan dan kebersamaan akan selalu relevan, baik itu di masa damai maupun di masa perang.
Melalui Iduladha di tengah “pertempuran” ini, kita melihat wajah kemanusiaan yang luar biasa. Kita melihat orang-orang yang tetap berpakaian indah di tengah reruntuhan, orang-orang yang tetap berbagi daging kurban meskipun ekonomi sedang sulit, dan orang yang tetap tersenyum meskipun ancaman serangan udara ada di depan mata. Mereka adalah pengingat hidup bahwa iman adalah perisai terbaik, dan solidaritas adalah senjata paling mematikan bagi mereka yang mencoba menebar ketakutan.
Semoga Iduladha kali ini tidak hanya menjadi rutinitas bagi kita, tetapi juga menjadi momen untuk merenungkan kembali sejauh mana kita bersedia berkorban dan seberapa kuat kita bertahan ketika ujian hidup benar-benar datang menghampiri. Seperti masyarakat di Iran yang tetap tegar, mari kita jadikan nilai-nilai spiritual sebagai fondasi untuk membangun kedamaian yang lebih kokoh di masa depan.













