MAKLUMAT — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membongkar persoalan besar yang selama ini menghantui industri gula nasional. Menurutnya, membanjirnya gula rafinasi impor membuat gula hasil petani lokal sulit terserap pasar.
Pernyataan itu disampaikan Khofifah saat memimpin tanam perdana program bongkar ratoon tebu serentak di Desa Ngletih, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, Sabtu (23/5). Program tersebut digelar serentak di 11 kabupaten dan 15 titik tanam di Jawa Timur sebagai bagian dari upaya percepatan swasembada gula nasional.
“Hari ini kita lakukan bongkar ratoon serentak di 11 kabupaten di 15 titik tanam. Ada niat mulia untuk bisa mencapai swasembada gula,” kata Khofifah.
Khofifah menegaskan, persoalan utama industri gula bukan hanya soal produksi, tetapi juga kepastian penyerapan hasil panen petani. Ia mengungkapkan, ketika melakukan peninjauan ke sejumlah daerah, ditemukan fakta bahwa gula petani sulit keluar pasar karena kalah oleh gula rafinasi impor.
“Rupanya kebanjiran gula rafinasi, sehingga gula dari Jatim tidak bisa keluar Jatim. Artinya target swasembada gula konsumsi ini harus satu paket,” ujarnya.
Menurut Khofifah, pemerintah kini mulai membatasi impor gula rafinasi dan menyerahkan pengelolaannya kepada BUMN agar pengawasan lebih mudah dilakukan. Langkah tersebut dinilai penting agar gula rafinasi untuk kebutuhan industri tidak bocor ke pasar konsumsi.
“Kalau gula rafinasi merembes ke pasar sangat mengganggu gula petani tebu,” tegasnya.
Swasembada Gula
Jawa Timur mendapat target terbesar dalam program pengembangan tebu nasional tahun 2026. Dari total target nasional seluas 97.970 hektare, Jatim memperoleh porsi 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.
Khofifah menyebut posisi Jawa Timur sangat strategis karena saat ini menyumbang sekitar 51 persen produksi gula nasional. Pada 2025, produksi gula kristal putih Jawa Timur bahkan mencapai 1.343.995 ton, tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Ia menilai capaian tersebut merupakan hasil gotong royong petani, pabrik gula, pemerintah, hingga perguruan tinggi dalam memperkuat industri gula nasional.
“Kita menghadapi tantangan yang tidak ringan, mulai dari perubahan iklim, alih fungsi lahan, hingga persaingan global. Karena itu, kunci keberhasilan kita adalah inovasi dan kolaborasi,” katanya.
Sementara itu, Plt Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil menilai Jawa Timur memiliki performa kuat dalam pengembangan komoditas pangan dan gula. Ia optimistis target swasembada gula nasional dapat tercapai melalui program bongkar ratoon tebu.
Direktur Utama Sinergi Gula Nusantara (SGN) Mahmudi menambahkan, program bongkar ratoon menjadi bagian penting untuk meningkatkan produksi dan produktivitas gula konsumsi nasional.
“Ini adalah ikhtiar kita semua supaya target swasembada gula pada tahun 2026 bisa tercapai,” ujar Mahmudi.***












