​Cuaca Ekstrem Mengancam Sekolah, Kemendikdasmen Dorong Kurikulum Iklim Interaktif

dampak perubahan iklim

MAKLUMAT– Perubahan iklim bukan lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan ancaman nyata yang mulai mengacaukan ruang kelas dan masa depan anak-anak Indonesia. Ironisnya, literasi mengenai krisis iklim di lingkungan sekolah justru masih berada di titik nadir.

​Ahli Manajemen Risiko Bencana Predikt, Yusra Tebe mengungkapkan minimnya pemahaman ini menjangkiti seluruh lini pendidikan, mulai dari siswa, guru, hingga pengambil kebijakan.

​”Bahkan, sebagian pihak masih ada yang skeptis dan meragukan kalau perubahan iklim itu benar-benar terjadi. Padahal, krisis global ini berdampak langsung pada hak belajar anak ,” ujar Yusra dalam keterangan tertulisnya dikutip, Kamis (28/5/2026)

​Sedangkan Senior Specialist Perlindungan Anak dan Advokasi ChildFund, Reny Rebeka Haning menceritakan bagaimana cuaca panas ekstrem sempat memaksa sejumlah sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) meliburkan aktivitas belajar-mengajar.

​Kondisi ekonomi keluarga nelayan di NTT yang serba minim akibat penurunan hasil tangkapan laut pun, turut memicu tingginya risiko kekerasan pada anak. Tekanan ini kian berat bagi anak-anak penyandang disabilitas yang memiliki tingkat kerentanan jauh lebih tinggi.

​Terobosan Lewat Game Edukasi

​Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebenarnya telah menerbitkan panduan pendidikan perubahan iklim. Sayangnya, distribusi dan implementasi aturan ini belum menyebar rata ke seluruh daerah.

Baca Juga  Sekolah di Pacitan Gandeng KUA, Fatayat NU, dan Nasyiatul Aisyiyah untuk Perkuat Pendidikan Karakter

​Untuk menjembatani jurang pemahaman tersebut, para peneliti lintas negara (Indonesia-Australia) kini menguji coba pendekatan baru di NTT. Mereka memanfaatkan media interaktif berbasis board game agar anak-anak sekolah bisa menyerap teori dan praktik mitigasi iklim dengan cara yang seru.

​Menariknya, Kepala SD Harkaway Victoria Australia, Leigh Johnson justru memuji langkah ini. Ia menyebut tantangan serupa juga membayangi siswa di Australia, namun langkah taktis Indonesia lewat media interaktif dinilai selangkah lebih maju.

​Sinergi Kebijakan dan Riset Kampus

​Meski ada titik terang di level pendidikan dasar, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendikti Saintek, Yudi Darma melihat ganjalan besar justru ada di ekosistem kampus. Dunia perkuliahan dinilai belum optimal mengarahkan riset untuk menjawab problem nyata di masyarakat.

​”Fokus kita adalah mendidik anak sejak usia dini agar tanggap melihat masalah di sekitarnya dan langsung memikirkan solusi,” tegas Yudi.

​Merespons hal tersebut, Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah mendesak pemerintah untuk menjaga konsistensi kurikulum, meningkatkan kapasitas guru, dan membangun infrastruktur sekolah yang adaptif.

​Ledia mengingatkan pemerintah wajib mengoptimalkan UU Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Baca Juga  Al-Quran dan Transformasi Tradisi: Dari Lisan ke Tulisan

“Jika sepakat bahwa isu perubahan iklim ini krusial, maka pemerintah harus memasukkannya ke dalam rencana induk pendidikan nasional,” tandas Ledia.

​Krisis iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan telah bermutasi menjadi krisis hak asasi anak dan pendidikan. Kasus diliburkannya sekolah di NTT akibat suhu ekstrem membuktikan bahwa infrastruktur pendidikan kita belum siap menghadapi anomali cuaca.

​Tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan pada ketersediaan regulasi atau panduan, melainkan pada kesenjangan implementasi. Ketika wilayah timur seperti NTT sudah babak belur menghadapi dampak langsung, pembuat kebijakan di pusat dan daerah lain masih berkutat pada urusan administratif.

​Penggunaan board game sebagai media belajar adalah langkah taktis yang cerdas untuk memotong birokrasi kurikulum yang kaku.

Namun, untuk dampak jangka panjang, Indonesia membutuhkan aselerasi infrastruktur hijau di sekolah-sekolah dan reorientasi riset perguruan tinggi agar tidak menjadi menara gading, melainkan menjadi solusi konkret bagi masyarakat pesisir dan wilayah rentan.