MAKLUMAT – Sosok Baim menjadi sorotan di gelaran wisuda Universitas Muhammadiyah Surabaya ke-54, Senin (1/6/2026). Ia adalah mahasiswa program magister administrasi rumah sakit asal Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Namanya mencuat lantaran menjadi inisiator berdirinya Klinik Utama Rawat Inap Muhammadiyah di Ende, NTT. Ia menginisiasinya sejak masuk kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2010.
“Bukan waktu yang pendek untuk mewujudkannya,” kata pemilik nama lengkap Muhammad Ibrahim Sengaji. Apalagi klinik tersebut menjadi klinik milik persyarikatan Muhammadiyah, sekaligus klinik umat Islam pertama di NTT.
Baim, begitu ia akrab disapa, baru mewujudkannya 1 November 2024. Tepat di hari itu, klinik utama resmi beroperasi. Klinik ini membutuhkan waktu tiga tahun untuk resmi beroperasi.
Semangat Berkarya dan Berdoa
Ada perjalanan panjang yang tidak mudah digapai. Ia tidak otomatis mulus meresmikan klinik tersebut. Ia menjadi marbot di masjid Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan.
Di sini, pria kelahiran Maret 1990 ini sempat belajar banyak soal operasional rumah sakit. Di waktu yang sama, ia juga menyempatkan diri berkomunikasi dengan rekan-rekannya di daerah.
“Tentunya untuk mendirikan rumah sakit. Ya, minimal klinik kesehatan dululah. Kalau nggak bisa utama, ya pratama dululah,” ujarnya menambahkan.
Selepas pandemi Covid-19 menjadi titik balik. Lahan waqaf sekitar 850 meter persegi dijadikan klinik. “Sebetulnya lahan ini sudah diwaqofkan sejak tahun 1999, tapi baru terwujud menjadi klinik pada 2024 silam,” lanjutnya.
Titik Balik Usai Musibah Global
Baim memilih pulang kampung untuk membesarkan klinik tersebut. Kala itu ia masih berstatus dokter pegawai tidak tetap (PTT) pada saat groundbreaking dilakukan 2021.
Untuk meningkatkan kualitas layanan, ia berlayar ke Surabaya untuk mengambil program magister rumah sakit di Umsura. Ia rela bolak-balik menghabiskan waktu di atas kapal, demi mewujudkan mimpinya.
Di saat bersamaan, ia mendapat pendampingan dari Majelis Pembinaan Kesehatan Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Arahan demi arahan ia terima. Baik dari sisi teknis, administrasi, hingga SDM.
Kompleksitas dan Layanan Inklusi
Tidak sulit mencari SDM yang ia butuhkan. Kawasan NTT juga memiliki SDM kompeten, yang setengah pegawainya adalah dari umat Katolik dan Protestan.
“Alhamdulillah, tepat 1 November 2024 klinik utama rawat inap Muhammadiyah di Ende resmi beroperasi,” kenang Baim. Di saat ini pula ia ditunjuk menjadi direktur utama klinik tersebut.
Banyak cara yang dilakukan untuk mempromosikan klinik ini. Ia bersama tim keluar masuk gereja satu jam sebelum ibadah. Begitu juga dengan masjid maupun musala turut disambangi.
Di awal-awal operasional, pasien bisa mencapai 100 per hari. Malahan saat ini pasien USG 4 dimensi bisa tembus 150 orang per hari.
Baim tidak bisa menutupi rasa bahagia dan bangga. “Untuk mendirikan rumah sakit mewah di Jawa itu gampang dan lumrah. Di NTT, di kawasan yang jauh dari kesan metropolitan, memiliki klinik rawat inap merupakan kebanggaan tersendiri,” ujarnya.
Proyek Percontohan di Bumi Nusa Cendana
Sebetulnya, bukan soal pioneer atau tidak. Semangat besar yang ingin diberikan alumni SD Katolik Kemiri Boru, Flores Timur ini adalah kehadiran klinik di tengah masyarakat.
Klinik ini telah menyulap layanan yang inklusif di NTT. Tidak ada perbedaan antara keluarga persyarikatan, umat Islam secara umum, maupun pemeluk Katolik, Protestan, Hindu, maupun Budha. “Semua layanan sama, nggak ada perbedaan,” tegasnya.
Kehadiran klinik utama rawat inap ini mendapat sambutan luar biasa.Sejumlah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se NTT, kerap bolak-balik untuk mengunjungi klinik ini. Banyak yang ingin belajar dan ingin tahu lika-liku mendirikannya,” lanjutnya.
Baim kini telah menjadi influencer di NTT. Belum lama ini Kabupaten Timor Tengah Utara baru saja menggelar groundbreaking pendirian klinik serupa. Sedangkan di Kabupaten Lembata disiapkan lahan seluas 9.000 meter persegi, sumbangan dari Sekolah Tinggi Pastoral, Kupang. Rencananya juga untuk klinik.
Layanan inklusivitas klinik utama rawat inap ini terus berbenah. Kini klinik tersebut berusaha naik kelas, menjadi rumah sakit. Bagi Baim, ia tengah mempersiapkan diri menempuh S3 di Universitas Muhammadiyah Jakarta.
“Klinik ini akan terus hadir di tengah masyarakat untuk memberikan layanan kepada semua umat di NTT,” ujar Baim memungkasi.












