MAKLUMAT — World Cup alias Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ajang sepak bola terbesar di dunia, tetapi juga panggung penting bagi negara-negara mayoritas Muslim untuk menunjukkan prestasi, persatuan, dan nilai-nilai sportivitas Islam di level global.
Turnamen akbar yang digelar di tiga negara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—itu akan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 mendatang, dan menjadi edisi Piala Dunia pertama dengan format 48 peserta yang terbagi dalam 12 grup. FIFA juga telah resmi merilis hasil drawing fase grup pada Desember 2025 lalu.
Bertambahnya jumlah peserta membuat representasi negara Muslim meningkat dibanding edisi-edisi sebelumnya. Negara-negara dari Asia, Afrika, hingga Timur Tengah berhasil lolos melalui jalur kualifikasi di masing-masing konfederasi mereka, beberapa di antaranya mencetak sejarah sebgaai debutan Piala Dunia.
Selain persaingan di lapangan, kehadiran negara-negara Muslim juga membawa dimensi lain dalam sepak bola modern, yakni syiar Islam melalui olahraga. Dalam beberapa edisi terakhir Piala Dunia, publik dunia menyaksikan bagaimana para pemain Muslim menunjukkan identitas keislaman melalui doa bersama, sujud syukur, penghormatan kepada orang tua, hingga sikap menghargai lawan dan menjunjung fair play.
Fenomena itu dinilai menjadi bentuk dakwah yang lembut namun kuat. Islam diperkenalkan bukan lewat ceramah, melainkan melalui akhlak, disiplin, solidaritas, dan sportivitas para atlet di panggung dunia.
Negara Muslim Peserta Piala Dunia 2026
Dari Zona Afrika, ada Maroko yang merupakan Semifinalis Piala Dunia 2022. Di Piala Dunia 2026, Achraf Hakimi dkk berada di Grup C bersama Haiti, Skotlandia, dan Brasil.
Selain Maroko, negara Muslim dari Afrika yang berhasil lolos Piala Dunia 2026 ada Mesir di Grup G, Tunisia di Grup F, Aljazair di Grup J, serta Senegal di Grup I.
Dari Zona Asia ada Arab Saudi yang tergabung di Grup H bersama Spanyol, Uruguay, dan Cape Verde. Ada juga Yordania dan Uzbekistan yang merupakan debutan Piala Dunia. Yordania tergabung di Grup J, sedangkan Uzbekistan di Grup K. Kemudian Qatar di Grup B, serta Irak yang tergabung di Grup I.
Selain itu, ada juga Iran yang berada di Grup G bersama Belgia dan Mesir, dan Selandia Baru. Namun, keikutsertaan Iran masih diliputi tanda tanya akibat eskalasi konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan Israel. Team Melli juga memutuskan berpindah markas selama Piala Dunia 2026 nanti, dari sebelumnya bermarkas di Arizona, Amerika Serikat, pindah ke Tijuana, Meksiko. Keputusan ini juga telah disetujui FIFA.
Sementara itu, dari Zona Eropa ada Turki yang akhirnya berhasil comeback berlaga di Piala Dunia. Hakan Calhanoglu dkk berada di Grup Grup D bersama tuan rumah Amerika Serikat, Australia, serta Paraguay. Selain itu, ada juga Bosnia-Herzegovina yang merupakan mayoritas Muslim sekaligus anggota observer OKI (Organisasi Kerja Sama Islam), mereka tergabung di Grup B.
Kiprah, Pencapaian, dan Prestasi Tertinggi
Kehadiran banyak negara Muslim di Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa olahraga dapat menjadi ruang dakwah yang damai dan inklusif. Di tengah kerasnya kompetisi sepak bola dunia, nilai-nilai Islam seperti kejujuran, kerja keras, penghormatan kepada lawan, dan solidaritas tetap dapat ditunjukkan melalui sikap para pemain di atas lapangan.
Tak cuma syiar melalui sportivitas dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam bertanding dan berolahraga, sejumlah negara mayoritas Muslim juga berhasil meraih prestasi gemilang pada gelaran Piala Dunia meski awalnya kurang diperhitungkan.
Mesir pada 1934 menjadi negara Muslim pertama yang berhasil lolos Piala Dunia yang saat itu diselenggarakan di Italia. Indonesia dengan nama Dutch East Indies (Hindia Belanda) pada 1938 di Prancis, menjadi negara debutan pertama dari Asia.
Pada Piala Dunia 1954 di Swiss, Turki berhasil debut dan mencatatkan kemenangan pertama negara Muslim usai membantai Korea Selatan 7-0. Maroko berhasil melakoni debut pada Piala Dunia 1970 di Meksiko.
Pada Piala Dunia 1978 di Argentina, Tunisia berhasil menjadi negara Arab-Afrika pertama yang meraih kemenangan di putaran final Piala Dunia usai mengalahkan Meksiko. Pada gelaran edisi ini juga, Iran melakoni debutnya di Piala Dunia.
Kuwait mencatatkan debut pada Piala Dunia 1982 di Spanyol. Pada edisi ini juga, Aljazair mencatatkan sejarah dengan menumbangkan raksasa Eropa kala itu, Jerman Barat dengan skor 2-1.
Maroko kemudian mencatatkan sejarah emas sebagai negara Muslim pertama yang berhasil mencapai babak 16 besar pada Piala Dunia 1986 di Meksiko, bahkan berhasil menjadi juara grup di atas tim kuat Inggris dan Portugal. Pada edisi ini, Irak mencatatkan debutnya di Piala Dunia.
UEA mencatatkan debut di Piala Dunia 1990 di Italia. Pada edisi ini, Mesir kembali lolos ke putaran final Piala Dunia usai absen dari turnamen akbar tersebut selama 56 tahun.
Pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, Arab Saudi mengejutkan dunia dengan untuk pertama kalinya lolos hingga babak 16 besar. Tak cuma itu, pada edisi ini Nigeria yang merupakan anggota OKI juga berhasil menembus babak 16 besar.
Piala Dunia 1998 di Prancis menjadi sorotan publik lantaran ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Iran, yang bertemu di lapangan, di mana Iran berhasil menang dengan skor 2-1. Pada edisi ini, beberapa negara Muslim lain juga lolos ke putaran final Piala Dunia, seperti Arab Saudi, Tunisia, hingga Maroko.
Prestasi mengejutkan dalam sejarah kiprah negara-negara Muslim pada Piala Dunia tercatat pada edisi 2002 yang diselenggarakan di dua negara, Korea Selatan dan Jepang. Pada edisi ini, Turki berhasil mencatatkan tinta emas dengan keluar sebagai juara ketiga.
Selain itu, pada Piala Dunia 2002 ini pula Senegal mengguncang dunia dengan mengalahkan juara bertahan Prancis di partai pembuka dan menahan imbang juara dunia dua kali Uruguay untuk memastikan lolos dari fase grup, bahkan berhasil menembus 8 besar usai mengalahkan Swedia. Di babak 8 besar inilah Senegal bertemu Turki, di mana Turki berhasil mencatatkan tinta emas kemenangan dan melaju ke Semifinal.
Pada Piala Dunia 2006 di Jerman, sejumlah negara Muslim dan mayoritas muslim berhasil lolos ke putaran final, di antaranya Arab Saudi, Tunisia, Iran, serta Pantai Gading. Namun, semuanya terhenti di babak penyisihan grup.
Tak berbeda jauh dengan gelaran di tahun 2006, sejumlah negara Muslim dan mayoritas Muslim juga mencatatkan diri berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, namun semuanya terhenti di babak penyisihan grup. Antara lain Aljazair, Nigeria, Pantai Gading.
Pada gelaran Piala Dunia 2014 di Brasil, Aljazair berhasil tampil luar biasa dan berhasil menembus babak 16 besar. Riyad Mahrez dkk pada babak tersebut akhirnya harus mengakui keunggulan dramatis Jerman, yang pada akhirnya keluar sebagai juara dunia.
Piala Dunia 2018 di Rusia kala itu mencatatkan rekor tersendiri jumlah partisipasi negara-negara Arab terbanyak, yakni Arab Saudi, Mesir, Maroko, dan Tunisia. Selain itu, negara Muslim lain yang berhasil lolos putaran final Piala Dunia 2018 adalah Iran. Namun semuanya terhenti di babak penyisihan grup.
Pada Piala Dunia 2022 yang diselenggarakan di Qatar, prestasi mengejutkan kembali diraih negara-negara Muslim, di mana Maroko berhasil mencapai babak Semifinal, mulai dari mengimbangi runner-up edisi 2018, Kroasia, dan menjadi juara grup. Achraf Hakimi dkk bahkan berhasil memulangkan Spanyol di babak 16 besar serta Portugal dengan Cristiano Ronaldo pada babak 8 besar.
Pada edisi 2022 ini juga, Arab Saudi mencatatkan kemenangan mengejutkan dan bersejarah di laga pembuka, dengan menjungkalkan Argentina 2-1, meskipun Lionel Messi dkk pada akhirnya keluar sebagai juara dunia 2022. Selain itu, Iran berhasil mengalahkan Wales yang dipimpin eks bintang Real Madrid, Gareth Bale, dengan skor 2-0.













