Pasar Malam Sepi Pembeli Bukan karena Pengunjung Berkurang, Ekonom UMY: Daya Beli Masyarakat Sedang Melemah

Ilustrasi kegiatan ekonomi di Pasar Malam Sekaten Solo. Foto:SS Mas DonChannel

MAKLUMAT – Keluhan pedagang tentang sepinya pasar malam belakangan ini ternyata bukan semata-mata disebabkan oleh berkurangnya jumlah pengunjung. Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menilai persoalan utamanya justru terletak pada melemahnya daya beli dan perubahan pola konsumsi masyarakat.

Dosen FEB UMY, Diah Setyawati Dewanti, S.E., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa masyarakat masih datang ke pasar malam untuk menikmati suasana. Namun, mereka kini jauh lebih selektif dalam membelanjakan uang.

“Kalau kita lihat, masyarakat sebenarnya masih datang ke pasar malam. Namun, yang berubah adalah perilaku belanjanya. Mereka datang untuk menikmati suasana, tetapi pengeluaran konsumsi di lokasi justru menurun,” ujar Diah dikutip, Rabu(1/7/2026).

Daya Beli Melemah, Transaksi Pedagang Menurun

Menurut Diah, sejumlah penelitian menunjukkan jumlah pengunjung pasar malam di berbagai daerah relatif stabil. Akan tetapi, para pelaku UMKM tetap mengeluhkan penurunan pendapatan karena transaksi pembelian terus menurun.

Banyak pengunjung kini memilih membawa makanan dan minuman dari rumah atau sekadar berjalan-jalan tanpa melakukan pembelian.

“Preferensi masyarakat untuk datang tidak banyak berubah. Yang berubah adalah kemampuan dan keputusan mereka untuk mengeluarkan uang ketika berada di sana,” katanya.

Baca Juga  Kelompok Tani Merdeka Aceh Tamiang Dorong Usaha Ayam Petelur untuk Kemandirian Desa

Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya biaya hidup, mulai dari ongkos transportasi, tarif retribusi, hingga harga makanan yang semakin mahal. Situasi ini membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.

Berisiko Menekan Ekonomi Lokal

Diah mengingatkan, jika tren penurunan konsumsi terus berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan pedagang kecil, tetapi juga dapat memengaruhi perekonomian daerah secara lebih luas.

Penurunan permintaan barang dan jasa berpotensi menekan pendapatan pelaku usaha, memperlambat perputaran ekonomi lokal, bahkan meningkatkan risiko terjadinya poverty trap atau lingkaran kemiskinan.

“Kalau permintaan terus menurun, pendapatan pelaku usaha ikut turun. Dalam jangka menengah dan panjang, kondisi ini dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah bahkan memunculkan poverty trap apabila tidak segera diantisipasi,” ungkapnya.

Digitalisasi Jadi Strategi Bertahan UMKM

Untuk menghadapi perubahan perilaku konsumen, Diah menilai pelaku UMKM dan pengelola pasar malam perlu segera beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.

Menurutnya, pedagang tidak bisa lagi hanya mengandalkan keramaian fisik, tetapi perlu memperluas jangkauan pasar melalui platform digital dan memanfaatkan teknologi pembayaran non-tunai.

Selain itu, pasar malam juga dituntut menghadirkan pengalaman baru yang lebih menarik, terutama bagi generasi muda, melalui konsep experience-based tourism atau wisata berbasis pengalaman.

Baca Juga  Wamendag Roro: Digitalisasi UMKM Bukan Sekadar Masuk E-Commerce

Beberapa inovasi yang dapat dikembangkan antara lain:

  • Pertunjukan budaya lokal dengan kemasan modern;
  • Penampilan musisi lokal;
  • Wahana permainan yang sedang tren di media sosial;
  • Penyediaan pembayaran digital melalui QRIS;
  • Fasilitas Wi-Fi publik dan peta informasi pedagang;
  • Promosi kreatif melalui media sosial.

“Yang paling penting adalah memastikan pasar malam menjadi tempat yang aman, nyaman, dan memberikan pengalaman yang berbeda sehingga masyarakat ingin kembali datang,” tutur Diah.

Pemulihan Daya Beli Jadi Kunci

Diah menegaskan, revitalisasi pasar malam tidak akan berjalan optimal tanpa dibarengi kebijakan untuk memperkuat daya beli masyarakat.

Menurutnya, pengembangan destinasi hiburan dan pemberdayaan UMKM harus berjalan seiring dengan kebijakan ekonomi yang mampu meningkatkan kemampuan belanja masyarakat.

“Dua hal ini saling berkaitan dan harus dilakukan secara sinergis agar UMKM tetap tumbuh dan ekonomi lokal semakin kuat,” pungkasnya.***