Jelang Musywil XXIV, IPM Kabupaten Probolinggo Dorong Pendampingan Berkelanjutan

IPM

MAKLUMAT — Ketua Umum PD Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kabupaten Probolinggo, Aprilia Kholifatul Nisya menekankan pentingnya hubungan antara pimpinan wilayah dan daerah di organisasi agar tidak berhenti pada urusan administratif.

Hal itu ia sampaikan menjelang pelaksanaan Musyawarah Wilayah (Musywil) ke-XXIV IPM Jatim yang akan berlangsung di Kota Malang pada 3–5 Juli 2026 mendatang.

“Kami ingin membawa gagasan agar hubungan antara PW dan PD tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menjadi hubungan pembinaan yang berkelanjutan,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id pada Rabu (1/7/2026).

April—sapaan akrabnya—menilai kondisi setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda dalam menjalankan gerakan IPM. Menurutnya, ada daerah yang memiliki kekuatan kaderisasi, sementara daerah lain masih membutuhkan pendampingan dalam pengembangan kader, program, dan penguatan organisasi.

“Kami berharap PW IPM Jatim dapat menerapkan pendekatan wilayah ke daerah dengan hadir untuk mendampingi, mendengar, dan memahami kebutuhan masing-masing daerah secara langsung,” katanya.

April kemudian mendorong agar kehadiran PW IPM Jatim dapat dilakukan melalui kunjungan pembinaan, monitoring, mentoring, hingga membuka ruang diskusi yang rutin.

“Kami memahami bahwa wilayah tentu tidak mungkin dapat menjangkau seluruh daerah secara maksimal dalam waktu yang bersamaan. Namun, setidaknya kehadiran PW di daerah meskipun sesekali akan menjadi suntikan semangat dan motivasi bagi kami untuk terus bergerak,” jelasnya.

Baca Juga  Pleno II PW IPM Jatim: Peta Jalan Kepemimpinan Era Madani

“Kehadiran tersebut bukan sekadar simbolis, melainkan menjadi bukti bahwa daerah tidak berjalan sendiri tetapi memiliki mitra yang siap membersamai dalam menghadapi berbagai tantangan gerakan,” imbuhnya.

Ia berharap Musywil XXIV dapat menghasilkan komitmen pendampingan yang lebih merata bagi seluruh PD IPM di Jatim. Menurutnya, pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah dapat membantu mengurangi kesenjangan antarwilayah dan membuat gerakan IPM berkembang sesuai potensi yang dimiliki setiap daerah.

“Harapan kami, Musywil ini dapat melahirkan komitmen agar setiap PD mendapatkan pendampingan yang proporsional sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik daerahnya, dengan begitu insyaallah tidak akan ada lagi kesenjangan antar daerah, dan seluruh PD dapat tumbuh bersama sesuai potensi serta tantangan masing-masing,” jelasnya.

Selain persoalan pendampingan organisasi, April juga menyoroti pentingnya pemetaan kebutuhan pelajar sebagai dasar penyusunan program IPM. Ia menilai beberapa kegiatan masih berjalan secara rutin, tetapi belum seluruhnya berbasis pada persoalan nyata yang dihadapi pelajar.

“Menurut kami, persoalan yang paling mendesak adalah belum adanya sistem pemetaan kebutuhan dan persoalan pelajar yang menjadi dasar penyusunan program IPM. Dari data tersebut, IPM dapat menyusun program yang lebih tepat sasaran,” katanya.

Baca Juga  IPM, Usia, dan Kejujuran untuk Naik Kelas

 

*) Penulis: M Habib Muzaki